Keep Istiqomah

Keep Istiqomah
Kedatangan Mantan


__ADS_3

Hari itu adalah hari sabtu, Zidan berniat ingin mengajak putra putrinya jalan-jalan besok. Namun sebelumnya ia juga sudah meminta izin pada Reva untuk mengajak mereka.


Ting!


Suara notifikasi dari ponsel Reva berbunyi.


Mas Zidan :


Assalamualaikum, Va ini Mas, besok rencana Mas mau ajak anak-anak jalan weekend. Bolehkah?


^^^Reva :^^^


^^^*Waalaikumsalam, iya saya tahu.^^^


^^^Boleh kok, Mas. Kebetulan mereka juga rindu katanya*.^^^


Mas Zidan :


Iya terima kasih,


Reva tak lagi membalas pesan dari Zidan. Saat ini ia sedang menunggu Rama pulang dari kantor. Ya, Saat ini Reva sudah menjalani kewajiban sebagai seorang istri dalam waktu kurang lebih 1 minggu. Tetapi ia baru melayani sebatas keperluan dapur dan beres-beres saja, untuk urusan ranjang, Rama pun tak pernah mengungkit apalagi menuntutnya melakukan itu jika Reva sendiri belum siap.


"Baru pulang? " tanya Reva yang menyambut kepulangan Rama kemudian mencium punggung tangan nya.


"Iya, kamu kenapa belum tidur? Bukankah sudah ku bilang untuk tidak menungguku saat aku lembur? " tanya Rama.


"Iya, aku sengaja dan dengan senang hati melakukannya " balas Reva dengan tersenyum.


"Ya sudah kalau begitu, aku mandi.. "


Rama berlalu melewati Reva yang masih berdiri tegap ditempatnya.


Setelah selesai dengan kegiatan mereka dimeja makan, kini Reva sedang berada di kamar bersama Rama yang memegang laptopnya melanjutkan pekerjaan kantornya.


"Ada apa? Apakah ada hal yang ingin kau katakan? " tanya Rama yang melihat Reva yang seperti bingung.

__ADS_1


"Emm itu.. Besok Mas Zidan akan membawa anak-anak jalan, apa kamu mengizinkan? " tanya Reva hati-hati.


"Tentu saja aku mengizinkan, lagi pula Zidan juga berhak atas mereka, bukan? " sahut Rama menimpali.


"Ya.. " hanya itu percakapan singkat mereka.


Entah kenapa Reva merasa ada sesuatu hal yang merubah sikap Rama belakangan ini. Rama lebih banyak diam dari sebelumnya, hal itu membuat Reva merasa ada yang janggal.


..............


"Assalamualaikum, " salam diucap Zidan.


"Waalaikumsalam, " jawab Ghibran, Zahwa dan Reva bersamaan.


"Anak-anak Abi udah siap nih? " tanya Zidan.


"Udah dong, kita langsung berangkat aja yuk! " sahut Ghibran.


"Ya sudah pamit sama Umma sana! "


"Eh ada mantan, cari siapa nih? " kata Bianca yang muncul dari dalam rumah.


"Kamu ngapain di sini? " tanya Zidan yang tampak tak percaya bahwa perempuan itu ada di sini juga.


"Aku? Ya jelas tinggal di sini lah, ini juga kan rumah kakak aku. Kamu mau jalan ya? Ikut dong, " ucap Bianca tanpa rasa malu namun tidak di sahuti oleh Zidan.


"Aku pamit ajak anak-anak ya, Assalamualaikum. " Zidan pamit dengan Reva tanpa memperdulikan Bianca.


Saat mobil yang dinaiki Zidan bersama anak-anaknya sudah pergi Bianca mulai memanas-manasi Reva.


"Kamu tuh ya, udah cerai tapi masih aja narik perhatian dari Zidan! Nggak puas apa kamu udah ngerebut kakak aku? Sekarang masih mau minta perhatiin lagi sama mantan kamu? Dasar Mur****!! " hardik Bianca terhadap Reva.


"Maksud kamu apa bicara seperti itu? Jaga mulut kamu!! " Reva tidak mau diam saja kali ini, sudah cukup selama seminggu ini Bianca menguji kesabarannya.


"Halah jangan sok nggak tahu ya! Aku tahu kamu nikahin kak Rama cuma karena uang kan? Dasar cewe matrek!! " Bianca semakin mengumpat pada Reva.

__ADS_1


"Ada apa ini? Kenapa ribut di depan pintu begini? " tanya Rama.


"Harusnya kakak tanya tuh sama istri kakak itu, ngapain coba dia masih dekat-dekat sama mantan suaminya yang udah jelas sekarang status dia istri kakak, untung aku lihat. " ucap Bianca memutar balikkan fakta.


"Cukup Bianca!! Begini cara kamu ngomong sama kakak hah? Ayah sama ibu nggak pernah ngajarin kamu untuk mencaci orang lain, tapi kenapa kelakuan kamu Seperti ini? Kalau begini terus lebih baik kamu pulang ke rumah suami kamu sana!! " kata Rama yang mulai meninggi.


"Apaan sih kak? Kok jadi bawa bawa suami sih? Aku tuh nginep di sini karena lagi males lihat muka dia. " sungut Bianca.


"Kamu itu sudah dewasa dan sudah jadi istri orang, nggak seharusnya kamu pulang ke rumah orang tua kalau ada masalah dalam rumah tangga kamu!! Kalau ayah sampai tahu, pasti kamu akan dimarahin. Kakak akan telpon Romi buat jemput kamu!! " ucap Rama tegas.


"Huh, ini semua tuh gara-gara kamu perempuan Mur****!!! "


Plak!


Satu tamparan mendarat dipipi mulus Bianca. Pelakunnya adalah Rama, kakaknya sendiri.


"Kakak tampar aku demi belain perempuan ini? " tanya Bianca tak percaya.


"Itu pantas untuk kelancangan mulut kamu yang berani menghina kakak ipar kamu!! Ayo Va kita masuk!! " Rama menarik tangan Reva masuk ke dalam rumah meninggalkan Bianca seorang diri meringis kesakitan.


"Awas kamu perempuan mura***!! Bakal aku bales kamu.. "


Reva yang ditarik tangannya masih tak percaya dengan apa yang ia lihat barusan. Rama menampar Bianca demi membela Reva. Kedepannya pasti akan sangat sulit untuk Reva melewati hari-hari setelah kejadian ini. Ulah Bianca pasti akan semakin menjadi. Reva tidak takut jika dirinya yang disakiti, tetapi yang ia takuti adalah jika Bianca menyakiti kedua anaknya.


"Kamu nggak apa-apa kan? Maafin adik aku ya karena sudah bersikap seperti itu tadi, " ucap Rama setelah mereka sampai di kamar.


"Aku tidak apa-apa, yang aku takutkan saat ini adalah anak-anak. Setelah ini Bianca pasti akan membalas padaku, aku khawatir... " ucap Reva dengan nada sendu.


"Ssstt.. Kamu nggak perlu khawatir! Aku pasti akan jaga kalian kok, maafin aku sudah membawa kamu ke dalam rumah ini.. Maaf sudah membuat kamu terluka dengan sikap Bianca.. " ucap Rama penuh penyesalan.


" Tidak, kamu tidak perlu minta maaf.. Aku bisa kok melewati ini.. " sahut Reva.


"Tapi aku tidak bisa melihat kamu terluka lebih dalam lagi, dan aku juga tidak bisa mempertahankan orang yang hatinya masih milik orang lain.. Satu-satunya cara hanya ini agar Kamu bisa kembali dengan kebahagiaan kamu. " Ucap Reva.


Rama hanya bisa menatap wajah Reva dengan lekat. Dia tidak bermaksud membuat Reva semakin terluka. Rama ingin membahagiakan wanita dihadapannya ini tapi apalah daya, sampai saat ini Reva masih menutup diri darinya. Rama tidak mau jika Reva menerima pernikahan ini karena balas budi, Rama juga akan merasa bersalah jika alasan Reva menerima nya karena ingin membalas budi dari apa yang sudah Rama lakukan untuknya selama ini.

__ADS_1


"Aku akan bahagia jikalau memang kebahagiaan kamu bukan karena aku.. Kamu akan tetap menjadi sahabat baik ku Reva.. " gumam Rama dalam hati


__ADS_2