
Saat itu Reva dan Zidan tengah berada disebuah kedai kopi milik Reva, mereka sengaja datang hari ini karena selain bosan dirumah mereka juga ingin melihat perkembangan kedai kopi tersebut.
Saat Zidan dan Reva sedang berada diruang tempat biasa Reva duduk tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu.
Tok tok tok...
"Masuk !! " perintah Reva.
"Maaf mbak diluar ada yang ingin bertemu dengan mbak " kata Gita.
"Siapa? Perasaan saya nggak buat janji sama siapapun hari ini " tanya Reva heran.
"Itu investor kita waktu itu lho mbak katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan sama mbak " jelas Gita.
"Oh ya udaj kalau gitu suruh tunggu dimeja nomer 5 ya " kata Reva yang dibalas anggukan oleh Gita.
"Siapa investor itu Umma? " tanya Zidan penasaran.
"Oh itu Rama sahabat masa kecil aku dulu Bi dia itu sekarang jadi investor kita. Lumayan gede lho dia nanem modal di kedai kita " jawab Reva.
"Oh ya udah kalau begitu temuin gih nggak enak kalau sampe dia nunggu lama "
Reva pamit dari hadapan Zidan dan menghampiri Rama yang sudah menunggunya diluar.
Tetapi Zidan merasa penasaran seperti apa sosok Rama yang istrinya bilang tadi adalah sahabat masa kecilnya. Zidan duduk disebuah bangku yang agak jauh dari tempat Reva dan Rama duduk. Sesekali ia melihat Reva dan Rama tertawa kecil dan bercanda. Entah kenapa Zidan merasa kesal saat melihat istrinya tertawa bersama pria lain.
"Mereka ngomongin apa sih kok sampai ketawa-ketawa gitu? " gumam Zidan dalam hati
Karena merasa sangat penasaran Zidan pun menghampiri mereka dan ikut bergabung.
"Ehem.." suara deheman tersebut berasal dari Zidan yang membuat kedua orang yang sedang tertawa itu menoleh.
"Eh Abi sini duduk Bi kenalin ini Rama yang aku ceritain tadi " kata Reva memperkenalkan.
Saat rama berdiri dan hendak menyalamai Zidan, Rama seperti terkejut melihat pria yang ada dihadapannya.
"Kamu? Ngapain kamu disini? " tanya Rama dengan nada tak bersahabat.
__ADS_1
"Kalian udah saling kenal? " sahut Reva membuat kedua orang itu menoleh bersamaan.
"Nggak kita nggak saling kenal " jawab Rama datar.
Zidan yang melihat reaksi Rama yang seperti itu langsung menarik Rama menjauh dari Reva untuk membicarakan sesuatu.
"Ikut saya sebentar!! " kata Zidan menarik tangan Rama.
"Lepasin tangan gue, apaan sih narik-narik gitu " Rama mendengus setelah agak jauh dari Reva.
"Ram tolong kamu jangan terlihat emosi gitu dong depan Reva pas lihat aku !! " tegas Zidan.
"Emangnya kenapa? Takut kalau Reva tahu kelakuan busuk kamu hah? " tanya Rama.
"Kalo kamu benci sama ku ya udah nggak apa-apa. Tapi jangan tunjukin itu depan istri gue!! " tegas Zidan.
"Istri? Asal loe tau ya, Loe itu nggak pantes jadi suaminya Reva yang sebaik itu. Loe itu brengsek tau nggak!! Belum puas loe nyakitin adek gue hah?!! " bentak Rama.
"iya gue tahu tapi tolong jangan bersikap seperti ini depan Reva. Karena dia... dia... " ucapan Zidan terputus.
"Dia kenapa? Jawab Reva kenapa hah? " tanya Rama sambil mencengkram kerah baju Zidan.
Rama tersentak mendengar penuturan Zidan, bahkan ia sama sekali tak percaya jika sahabat kecilnya dulu sedang mengidap penyakit yang bisa saja merenggut nyawanya.
"Loe pasti bohong kan? Lo bohong kan? " tanya Rama tak percaya.
"Gue serius Ram, bahkan dokter bilang Reva sudah lama mengidap penyakit itu !! " Zidan tertunduk.
Keadaan hening sesaat, Zidan masih tertunduk dengan posisi badan bersandar di dinding. Sementara Rama masih merasa tak percaya dengan kenyataan yang dia dengar.
"Oke kalau gitu gue percaya sama loe, tapi inget ya kalau sampai loe nyakitin Reva sama kayak loe nyakitin adek gue, gue nggak akan segan-segan buat rebut Reva dari loe dan gue pasti bakal buat Reva jauh lebih bahagia!! Inget itu !! " Rama memberi peringatan yang seolah mengancam kemudian meninggalkan Zidan sendiri dan menghampiri Reva.
"Sory ya Va agak lama hehe " Rama duduk kembali dikursinya.
"Kalian kenapa sih kok aneh gitu? Katanya nggak saling kenal tapi kok suami aku narik tangan kamu gitu? " tanya Reva
"Nggak apa-apa kok Va kita cuma ngobrol sedikit aja sekalian kenalan tadi " kata Rama mengelak.
__ADS_1
"Kamu nggak bohongin aku kan? Terus Mas Zidan kemana? " tanya Reva lagi.
"Tuh orang nya " Rama menunjuk kearah Zidan yang baru muncul.
"Ya udah Va aku pamit dulu ya nanti kita lanjutin lagi lain waktu. " Rama pamit.
"Eh kok buru-buru gitu sih belum juga habis tuh kopi " kata Reva.
"Lain kali aja Va ada urusan soalnya, oh iya kapan-kapan boleh kan aku main ke rumah kalian? Sekalian mau nengok keponakan kecil aku ?? " tanya Rama.
"Ya boleh aja asal kamu ada waktu boleh mampir " sahut Reva.
"Ya udah aku pamit ya, Assalamualaikum " Rama berlalu pamit.
Sementara Reva masih merasa aneh dengan sikap Rama terhadap Zidan tadi begitu pun sebaliknya.
"Abi, Abi nggak kenapa-kenapa kan? Kok bengong sih? " tanya Reva.
"Oh nggak kok Umma, Abi baik-baik aja. Pulang yuk kasihan Ghibran kalau kita tinggalin lama-lama " sahut Zidan.
"Ya udah yuk, Umma ambil tas sebentar ya Bi " kata Reva yang diangguki oleh Zidan.
Zidan yang masih duduk dimeja nomor 5 tadi pun termenung memikirkan perkataan Rama tadi. Zidan benar-benar takut jika suatu saat ia tak sengaja menyakiti hati Reva maka Rama akan merebutnya. Zidan tidak mau kehilangan istri yang begitu ia cintai apalagi sampai harus direbut oleh orang lain.
"Abi..." panggil Reva saat melihat suaminya terus diam dan melamun sepanjang perjalanan pulang.
"Iya Umma ada apa? " sahut Zidan.
"Abi kok tumben diem aja. Sejak ada Rama tadi kok sikap kalian jadi aneh gitu sih? Sebenarnya ada apa antara kalian? " tanya Reva lagi.
"Nggak ada apa-apa kok Umma, Rama itu kebetulan rekan kerja Abi dulu. Jadi sedikit kaget tadi pas ketemu lagi " jawab Zidan berbohong.
"Abi nggak lagi bohongin Umma kan? "
"Nggak sayang, Abi mana mungkin bohongin Umma " Zidan menarik Reva dalam rangkulannya dan mencium puncak kepalanya.
Sungguh hatinya saat ini merasa tak tenan sama sekali, ini benar-benar ujian bagi Zidan. Ucapan Rama tadi begitu terngiang-ngiang di telinganya. Zidan mencoba untuk menepis itu semua dan harus tetap fokus membahagiakan istri shalehahnya itu.
__ADS_1
"Maafin Abi ya sayang. Abi belum bisa buat Umma bahagia, doakan Abi agar Abi bisa selalu menjaga kalian berdua "