Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Hari Terakhir


__ADS_3

Hari ini Kaisar duduk di kafe Delima, kafe kecil yang tak begitu nyaman.  Mejanya pun sedikit berdebu, menunjukkan jarang dikunjungi.  Tak ada pilihan lain, hanya itu kafe terdekat.  Jika bukan karena terpaksa, Kaisar pun tidak akan duduk di sana.


Selain kesan sederhana dan klasik yang ditawarkan, kafe tersebut juga menampilkan pemandangan norak, yang membuat pengunjung akan bosan duduk di sana. 


Kaisar mengadakan janjian dengan Khanza di sana.  Ada banyak hal yang perlu dibahas perihal pernikahan yang kemungkinan akan sulit dihindari.


Pak Kades hanya memberi waktu lima hari saja untuknya bersiap menuju ke pernikahan.  Hari pertama, Kaisar disibukkan oleh kegiatan berjualan di pasar. 


Hari kedua, Kaisar mulai menyelidiki kasus itu dengan bertanya ke sana kemari, bahkan menanyai pemilik kontrakan apakah pemilik kontrakan memiliki duplikat kunci rumahnya atau tidak.  Jawabannya, kunci tidak ada duplikatnya, sebab duplikat kunci rumah yang ditempati Kaisar itu sudah lama hilang.

__ADS_1


Well, Kaisar sempat ragu apakah harus mempercayai pemilik kontrakan atau tidak.  Tapi jika dipikir- pikir, hibungannya dengan pemilik kontrakan sangat baik.  Mereka tidak ada masalah.  Mana mungkin ibu gendut pemilik kontrakan itu mencelakainya sampai segini parahnya.  Justru ibu kontrakan itu terlihat heran seolah- olah kaget atas kejadian penggerebekan. 


Jika bukan karena menyangkut martabatnya, Kaisar pasti sudah memilih kabur dari sana.  Hanya saja, bagaimana dengan nama baiknya?  Hanya itu yang dia pikirkan sekarang.


Hari ketiga dan ke empat, Kaisar disibukkan dengan urusan atap dapur kontrakannya yang roboh.  Pemilik kontrakan meminta supaya Kaisar membetulkan atap kontrakan itu dengan upah sebulan ke depan Kaisar tidak perlu membayar kontrakan.  Kaisar sebenarnya sudah menolak, namun si ibu memaksa karena tidak ada tukang.


Lagi- lagi, Kaisar terpaksa menuruti si ibu.


Kaisar sudah meminta bantuan Bagus dan Beno, teman baiknya yang sejak ia datang ke komplek itu, mereka menyambut dengan baik.  Namun sampai detik ini Bagus dan Beno belum mendapatkan hasil.  Tak ada kabar apa pun.

__ADS_1


Dan sekarang, lihatlah Khanza tak kunjung muncul.  Gadis itu memang menguji kesabaran Kaisar.  Percayalah, Kaisar benar- benar ingin menggantung gadis itu hidup- hidup. 


Ah, jika saja tidak ada surga dan neraka, maka Kaisar sudah benar- benar menggantung gadis itu di bawah kolong jembatan tanpa mempedulikan balasan surga atau neraka.


“Hei, bro!  Tumben nongki di sini?” Beno yang baru saja muncul menepuk pundak Kaisar dari belakang sambil membuka minuman dingin.  Pria yang tubuhnya tak begitu tinggi dengan porsi badan yang gemuk itu tersenyum lebar hingga pipinya yang tembem terangkat dan matanya menyipit membentuk garis.


Disaat hati tak nyaman, selalu saja muncul Beno.  Bukannya makin tenang, Kaisar malah jadi pusing seketika.  Sebab Beno selalu saja membuat kecerobohan disaat yang tidak diduga- duga. Pernah ia numpang tidur di kontrakan Kaisar, ia menyalakan obat nyamuk lingkar.  Dan obat malah mengenai selimut hingga terbakar. Apinya sudah menyala.


Untung cepat ketahuan oleh Kaisar. Kalau tidak, dipastikan kontrakan akan hangus. Padahal sudah ada obat nyamuk colok ke listrik, tapi dasar Beno yang tak menyukai aroma itu, membuatnya lebih suka mengendus asap dari pada aroma wangi. 

__ADS_1


Belum lagi Beno pernah menyiram hp milik Kaisar dengan minuman yang dia bwa. Pokoknya sial terus asalkan berada di dekat Beno, untungnya Kaisar bukan tipe pemarah. Mudah saja mengingat kebaikan Beno ketimbang kecerobohannya yang menyebalkan, sama menyebalkannya dengan muka Beno yang butut. Tapi kalau soal kesetiaan pada teman, Beno nomer satu.


Bersambung


__ADS_2