
"Halo guys!" Khanza menghampiri Zada dan Zelin yang tengah menggoyangkan badan di club malam, mereka duduk di salah atu kursi sambil meneguk win.
Dentuman musik terdengar sangat keras. Lampu kelap kelip namun tetap menampilkan suasana remang- remang dan pandangan tak begitu jelas. Ruangan club dipenuhi oleh mayoritas pemuda dan pemudi. Pemandangan kedekatan antara pemuda dan pemudi menjadi pemandangan yang biasa.
Asap rokok bertaburan di udara, membuat napas sesak.
Aroma minuman beralkohol pun memenuhi ruangan.
“Haaai!” Zada menghambur dan langsung turun dari kursi. Ia memeluk Khanza erat. “Kapan kembali?”
Khanza tersenyum. “Barusan.”
“I mis you so much!” Zelin mengelus lengan polos Khanza dengan jempolnya. “Common! Kita duduk di sini. Ceritakan semuanya pada kami!”
Khanza mengambil posisi duduk di antara Zada dan Zelin. Ia sudah sangat merindukan kedua sahabatnya itu. Kebersamaan yang sudah dia tinggalkan, harus kembali dia dapatkan. Rasa senang saat bersama- sama dengan teman- temannya membuatnya lupa dengan semua masalah. Hanya ada kesenangan.
“Aku dengar di Jakarta kamu mendapat pekerjaan enak dan gaji gede. Apaan? Beneran sekretaris? Atau jual diri?” tanya Zada.
“Hus! Sembarangan. Pala kamu mesti dipentokin ke tiang listrik deh kayaknya biar lempeng.” Khanza menunjukkan kepalan tangannya.
Zada hanya terkekeh. “Aku sudah dengar semuanya. Ganda menceritakan bahwa Khanza menjadi sekretaris Kaisar. Suamimu itu ternyata sultan. Selamat!”
“Thanks. Ucapan selamatnya aku terima. Tapi telat.” Khanza mengedikkan pundak.
__ADS_1
“Telat kenapa? Tidak ada kata telat. Kalian sudah menikmati kebahagiaan itu. maka tidak ada kata telat,” sahut Zelin.
“Whatever. Sudahlah, jangan bahas itu. aku sedang tidak ingin membahas hal itu. Mana minum untukku?”
“Waow… Ada besti. Minumlah!” Zelin meminta bartender menyediakan satu botol minuman lagi. “Khanza, kamu kan sudah berbahagia dengan Kaisar di Jakarta. Kamu memiliki suami yang kaya raya, lalu kenapa balik lagi ke sini?”
“Pertanyaan konyol! Seakan- akan kamu tidak menyukaiku balik ke sini lagi.” Khanza menoyong kening Zelin.
“No. aku tidak bermaksud begitu. Hanya aneh saja, kenapa kamu balik ke sini lagi padahal semua yang kamu inginkan sudah kamu dapatkan. Kamu punya suami tampan dan kaya raya, kamu memiliki harta banyak dari suamimu. So, apa yang membuatmu meninggalkan Jakarta dan balik ke sini?”
“Kalau aku kemari hanya sebatas menjenguk orang tuaku, bagaimana? Pertanyaanmu tidak masuk akal.”
“Mustahil kamu balik ke sini hanya karena ingin menjenguk orang tua. Aku tahu betul denganmu. Kamu punya segalanya di Jakarta, lantas kenapa meninggalkan kesenangan itu dalam waktu singkat? Mustahil kamu ingat pulang jika kesenangan itu menggelayutimu.”
“Aku dan Kaisar sudah bercerai.”
Khaza meneguk minuman yang diberikan bartender.
Zelin tampak kecewa dan kesal.
Zada menatap iba.
“Kaisar sudah memiliki wanita yang dia cintai sejak lama, jauh sbeelum aku ada di kehidupannya. Sudahlah, biarkan mereka bahagia. Aku tidak ingin mengusiknya,” jelas Khanza.
__ADS_1
“Khanza!” Sosok pria datang menghampiri Khanza.
Tiga gadis cantik itu menoleh. Azam, pria yang sejak dulu menganggap Khanza adalah wanita yang dia cintai itu kembali muncul di tempat yang sama.
“Ada apa, Zam?” tanya Khanza.
“Aku ingin bicara sebentar.”
“Bicaralah!” Khanza tampak malas menanggapi.
“Tidak di sini.”
“Apakah masih ingin mengatakan hal- hal serupa dulu? Kamu masih penasaran dan ingin terus membicarakannya padaku?”
Azam mengulas senyum kecil. “Aku tidak sengaja melihatmu keluar dari rumah tadi. Aku mengikutimu, dan aku menemukanmu di sini. Bagaimana kalau kita keluar sebentar?”
“Maaf!” Khanza mengangkat tangan tanda menolak.
“Di sini bukan tempat yang baik untukmu.”
“Aku tahu.”
“Ijinkan aku bicara sebentar denganmu. Setelah itu terserah padamu.”
__ADS_1
“Baiklah.” Khanza mulai jengah melihat Azam yang terlihat seperti sedang merengek. Ia bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan.
Bersambung