
"Maliiing... Maling!"
Wanita bertopi hitam dengan jaket kulit warna senada berlari kencang, menghindari setidaknya ada sekitar delapan orang yang mengejar sembari meneriakinya maling.
Maling? Kok jelek sekali julukan untuk seorang yang mengambil dompet yang terkadang isinya hanya uang dua ratus ribu saja, atau terkadang malah hanya berisi selembar uang dua puluh ribuan saja. Bahkan itu dompet hanya milik satu orang.
Lalu kenapa justru julukan untuk orang yang mengambil uang banyak orang dengan jumlah ratusan juta, milyaran bahkan triliunan mendapat julukan bagus, koruptor. Hadeeh... Mendingan jadi koruptor dong, untung banyak.
Wanita berjaket kulit melepas jaket ke sembarang arah bersamaan dengan topi yang dia kenakan setelah mengambil uang di dalam dompet. Ia sempat mengumpat, "Sialan, duitnya cuma lima puluh lima ribu doang."
Dompet dibuang ke sembarang arah. Ia terus berlari secepat kilat sebelum tubuhnya menjadi bulan- bulanan warga jika saja sampai tertangkap.
"Itu dia malingnya. Itu malingnya. Ketangkap kau!"
Bak buk bak buk...
Warga menemukan sosok wanita bertopi hitam dipadu jaket kulit warna senada serta memegangi dompet yang ternyata isinya sudah kosong.
__ADS_1
"Dimana duitnya? Jawab!"
"Wah, sudah dikosongin dompetnya."
"Tidak bisa diampuni ini."
Warga kembali main hakim sendiri, memukuli wanita itu sampai babak belur.
Khanza yang menyaksikan kejadian itu, bergegas mendekati kerumunan.
"Dia ini pencuri."
"Lihatlah ini dompetnya sudah dia ambil isinya."
Khanza menatap dompet kosong itu, dompet yang dipastikan tidak dicuri oleh wanita itu. Khanza ingat, dia tadi mengambil dompet dari kantong celana seorang pria, namun ketahuan. Padahal itu sudah sangat sering dia lakukan, tapi entah kenapa tadi malah kepergok oleh orang lain hingga ia dikejar dan diteriaki maling.
Dan sekarang, jaket, topi dan dompet yang sudah dia buang itu malah dipungut oleh odgj alias orang dalam gangguan jiwa.
__ADS_1
Wanita babak belur dengan wajah lebam itu masih senyum senyum sendiri meski sudah mendapat penganiayaan yang tak biasa.
"Dia tidak waras. Kasihani dia!" pinta Khanza yang ngilu melihat luka luka di wajah si odgj. Andai saja wanita itu tidak diselamatkan, bisa jadi wanita tidak waras itu sudah tewas dihakimi masa.
Pada akhirnya, warga mendengarkan perkataan Khanza untuk tidak main hakim sendiri, semuanya bubar, odgj pun terselamatkan dari amukan massa.
Khanza duduk di pinggir jembatan Ampera, sebuah jembatan terpanjang dan terbesar di kota Palembang, jembatan yang yang membelah Sungai Musi. Selain kokoh, jembatan ini juga sangat indah, terutama saat malam hari seperti malam ini.
Khanza bukan baru kali ini saja menyaksikan keindahan jembatan itu, hampir setiap keluar malam, ia melintasi jembatan yang sama. Lima tahun sudah ia menetap di kota itu, sejak perpisahannya dengan Kaisar.
Di sinilah sekarang Khanza tinggal, di Palembang. Palembang tidak hanya terkenal dengan makanan khas Pempeknya yang bisa ditemukan hampir di seantero nusantara, namun ibu kota Sumatera Selatan ini juga punya bangunan ikonik yaitu Jembatan Ampera, jembatan yang menghubungkan 2 sisi kota Palembang.
Pemandangan di malam hari memiliki daya tarik tersendiri, bahkan dari kejauhan Khanza dapat menikmati nyala lampu yang ada dua kawat besar penahan sisi kiri dan kanan serta dua tiang tembok di atas jembatan. Kokohnya tiang penyangga jembatan itu menambah kesan indah di malam hari, gemerlap lampu-lampu mobil yang melintasi jembatan menambah keindahan.
Lima tahun sudah, Khanza meninggalkan kota kelahiran dan menetap di Palembang. Di sinilah kejahatan dan keberingasan kerap kali terjadi, hampir setiap hari media masa memberitakan tentang adanya tindak kejahatan di sini. Jiwa kriminal seakan sudah mendarah daging pada mereka yang memang tak kenal rasa takut.
Bersambung
__ADS_1