
“Aku boleh duduk?” Kaisar menunjuk sofa. Kakinya pegel, sejak tadi berdiri dan tak satu pun orang yang menyuruhkan duduk. Padahal dia baru pulang dalam kondisi tak baik.
“Eh, duduk! Ayo duduk!” Khanza membimbing suaminya duduk ke sofa. Ia kemudian ke belakang sebentar dan kembali membawa segelas air minum. “Ini minumlah!”
Kaaisar sungguh merasa terhormat atas sikap Khanza. Ia meneguk minuman itu. setelah tenggorokannya terasa basah, ia pun mulai bercerita.
Pagi itu, setelah mengantar Khanza ke gedung tempat pengajian, Kaisar pulang ke rumah untuk mengambil berkas yang tertinggal. Namun ia malah ditikam oleh Rama, pria berambut gondrong itu tampak mendendam.
Dalam keadaan terluka, Kaisar masih sadar saat Rama memasukkan tubuhnya ke dalam karung, lalu dibawa ke gerobak. Rama mendorong gerobak tersebut ke pinggiran sungai. Kaisar tidak tahu apa yang terjadi di luar selama ia berada di dalam karung. Napasnya pengap sekali.
Ia merasa tubuhnya sedang dibawa entah menuju kemana. Lalu ia merasa tubuhnya digulingkan dari gerobak menuju tanah. Ia merasakan tendangan untuk mengguling- gulingkan tubuhnya. Lalu ia gelagapan saat terjatuh ke air dan seluruh karung dipenuhi dengan air.
__ADS_1
Meski dalam keadaan terluka parah, hampir tak sadarkan diri, namun air yang merendam tubuhnya membuat kesadarannya kembali bangun. Ia mengerahkan seluruh tenaga untuk dapat membuka ikat yang mengait di ujung karung.
Kaisar merasakan arus sungai sangat deras, tubuhnya terseret begitu cepat.
Setelah perjuangan hebat, akhirnya ujung karung pun terbuka, Kaisar berhasil keluar dari karung. Ia berusaha berenang, namun derasnya arus sungai telah menggeret tubuhnya sangat jauh. Ia masih sadar ketika tubuhnya dilarikan oleh arus sungai hingga kiloan meter jauhnya.
Setelah rasa sakit itu semakin parah, Kaisar tak sadar lagi, entah apa yang terjadi dengannya. Bahkan saat terbangun, Kaisar lupa sudah berapa lama ia dalam keadaan tak sadarkan diri.
Saat ia terjaga, ia mendapati dirinya di sebuah rumah kecil. Rumah yang asing. Dan seorang gadis mengatakan bahwa ia telah menyelamatkan Kaisar yang saat itu terseret arus sungai dan akhirnya terdampar di pinggiran sungai.
Dua gadis yang usianya sekitar dua puluh tahun itu hidup sebagai yatim, mereka tidak memiliki orang tua. Luka di perut Kaisar sudah dalam keadaan dibalut perban ketika ia terjaga. Dan ia menemukan dirinya dalam keadaan diinfus.
__ADS_1
Singkat cerita, Kaisar kemudian berterima kasih pada dua gadis itu karena telah menyelamatkannya.
“Ini adalah perjuangan paling besar di kehidupanku sejauh ini. Dimana aku dihadapkan pada maut, seolah- olah maut itu benar- benar datang ke hadapanku. Saat arus sungai menyeret tubuhku dan aku tak berdaya, aku merasa bahwa aku akan mati. Aku pasrah. Aku mneyerahkan hidup dan matiku pada Tuhan. Bahkan saat itu aku berkali- kali mengucap syahadat. Aku bermohon semoga Tuhan menerima taubatku, mengampuni segala dosa- dosaku. Tapi siapa sangka, saat aku membuka mata, bukan malaikat di alam kubur yang kutemui, ternyata aku masih di dunia. Tuhan masih memperpanjang umurku.”
Kisah yang mendobrak jiwa. Hati terketuk oleh sesuatu yang tak disangka- sangka. Itu adalah iman.
“Sungguh besar hikmah di balik kejadian ini. Aku bahkan ikut merasakannya. Kematian itu seperti dekat. Sangat dekat. Dan aku ingin mempersiapkan diri menuju kepada hal itu.” Khanza menggenggam tangan Kaisar erat.
Senyum Kaisar mengembang. Akhirnya istrinya bisa bicara begitu. Ya, di balik kejadian berat itu, tak hanya Kaisar saja yang mendapat tamparan keras. Namun juga Khanza. Yang merasa harus memanfaatkan waktu, memanfaatkan lima hal sebelum datang lima hal. Yaitu masa muda sebelum masa tua, masa sehat sebelum masa sakit, masa kecukupan sebelum masa kekurangan, masa luang sebelum masa sibuk, masa hidup sebelum masa kematian.
Pun Khanza jadi sadar bahwa kematian orang yang dicintai adalah pengingat baginya. Bagaimana pun, hidup adalah persiapan harinya untuk bertemu pada sang Pencipta.
__ADS_1
***
Bersambung