
Tak lupa Khanza juga menepuk pantat pria itu. Berharap si pria akan mengatakan sesuatu supaya Khanza yakin bahwa pria itu buka Kaisar.
"Aduh!" Si pria memegangi benda yang baru saja ditepuk dengan keras oleh Khanza.
Kenapa wajah pria itu tak juga berubah? Masih terlihat seperti Kaisar? Apakah pandangan Khanza sudah eror sampai- sampai semua orang terlihat seperti Kaisar? Ayolah, cepat berubah sekarang juga supaya Khanza tidak menjadi gila.
"Khanza, aku pulang!"
Khanza terbelalak mendengar suara itu. Kali ini Khanza yakin bahwa itu memang suara Kaisar, artinya pandangan Khanza tidak sedang dipengaruhi halusinasi yang tak jelas.
Khanza meraba dada bidang Kaisar, merasakan dada bidang yang sama seperti yang setiap malam ia sentuh. Iya, itu tubuh suaminya. Dia tidak sedang berhalusinasi.
"Kaisar!" Khanza berbisik hampir tak bersuara.
"Iya, sayang."
Sayang? Panggilan itu membuat kulit tubuh Khanza meremang, disaat ia terharu dan tak yakin atas kepulangan Kaisar, ditambah lagi dengan panggilan sayang, hati Khanza sontak terasa basah.
"Ini beneran kamu, Kaisar?" Khanza memeluk erat tubuh Kaisar. Awas saja jika setelah ini ada adegan salah orang lagi, Khanza tidak akan mengampuni pantat pria ini.
Perasaan Khanza campir aduk. Ia bahagia sekali. Rasanya tak ingin melepaskan pelukan itu barang sejenak. Tak ingin kehilangan Kaisar lagi.
__ADS_1
Khanza sempat berpikir bahwa ia benar- benar sudah kehilangan Kaisar untuk selamanya. Ia pasrah dan menyerahkan segala urudan pada Yang Maha Kuasa, apa pun itu. Tapi ternyata Kaisar benar- benar kembali untuknya. Ia benar- benar merasa tak yakin, namun juga bersyukur.
"Ya, ini aku. Aku sudah membuatmu khawatir ya?" tanya Kaisar.
"Tentu saja. Jangan bertanya sebegok itu." Khanza mempererat pelukannya.
"Awh!" Kaisar merintih.
Sontak Khanza melepas pelukannya. "Kenapa? Aku sedang memelukmu karena terharu, aku bahagia, aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Tapi kamu malah berteriak begitu."
"Ini sakit." Kaisar menyentuh perutnya bagian samping.
Khanza seakan tak peduli dengan apa yang baru saja dia lihat, dia malah menjerit histeris memanggil mertuanya. "Papaaaaa...!"
Jeritan Khanza sangat keras, malah jadi seperti orang kesurupan.
Tak lama kemudian Calvin datang dari ruangan lain. Pria itu terkejut dan langsung melompat mundur saat melihat Kaisar sambil berseru, "Wajan!"
Loh, kok wajan? Itu maksudnya kuali kan?
"Kau? Kau Kaisar?" Calvin menunjuk wajah Kaisar dengan raut tegang.
__ADS_1
Jika Calvin melihat sosok itu adalah Kaisar, berarti pandangan Khanza memang tidak salah.
"Ya, ini aku, Pa. Aku masih hidup." Kaisar meyakinkan.
Khanza terisak. Terharu.
Calvin mendekati Kaisar. Ia menatap lekat putranya. Lalu memeluk sebentar dan mengusap rambut putranya yang kering dan tak terawat. Ia pun menepuk punggung putranya.
Kaisar menatap wajah- wajah di hadapannya, wajah- wajah itu tampil dengan keharuan. Kaisar merengkuh tubuh Khanza dan memeluknya erat.
“Aku datang. Maaf, aku sudah membuatmu cemas.” Kaisar mengusap kerudung Khanza. Kerudung yang membuat wajah istrinya jadi terhormat.
“Kamu kemana saja?” Khanza terisak- isak. “Aku sangat mengkhawatirkan mu. Aku mencemaskanmu. Aku pikir kamu sudah menjadi almarhum.”
Sebenarnya Kaisar ingin protes, kenapa Khanza malah mengatakan hal itu, tapi ya sudahlah. Namanya juga cemas.
“Katakan padaku, apa yang terjadi?” Khanza memberi jarak pandang. Ia menatap wajah kusam yang tak terawat itu. Meski begitu, ketampanannya tidak berkurang.
“Ini bagaimana ceritanya? Kau dikabarkan dibunuh dan sekarang muncul begini. Ayo bicaralah!” Calvin tak sabar ingin mendengarkan kisah yang sebenarnya telah terjadi.
Bersambung
__ADS_1