Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Kangen


__ADS_3

"Baik, Nona Khanza, silakan keluar dulu. Hasil interview akan dipertimbangkan dulu," ucap HRD setelah setelah melakukan interview.


"Makasih, Pak!" Khanza melangkah keluar dengab perasaan tak menentu. Dalam benak bertanya- tanya, apakah ia akan diterima? Akan ada salah seorang yang gugur diantara tiga orang yang terpilih, sebab peluang itu hanya ada dua kesempatan. Merek bertiga harus menunggu sekitar tiga puluh menit untuk mendapatkan jawaban.


Sampai akhirnya Khanza kembali mendapat panggilan, dia diterima bekerja di sana dan menjabat sebagai sekretaris. Sedangkan dua gadis lainnya entah dimana, entah siapa yang diterima diantara kedua orang itu. Khanza berpisah dengan dua orang itu ketika tadi ia sempat ke toilet.


Akhirnya Khanza merasa senang sekali saat keputusan baik itu dia dapatkan. Tidak mudah bisa masuk di perusahaan besar seperti itu. 


Dan untuk pertama kalinya Khanza merasa bersyukur atas kebaikan yang dia terima. 


"Besok kamu sudah bisa mulai bekerja," ucap HRD kemudian meninggalkan Khanza sendiri di koridor depan ruangan HRD.


"Yes!"  Khanza menjingkrak dan melompat- lompat kegirangan. Menjerit kecil sembari mengangkat tangan. Ia terkejut saat menoleh dan mendapati HRD sudah berdiri  di belakangnya. Pria itu kemudian melewati Khanza begitu saja, meninggalkan Khanza yang menahan malu dengan muka merah merona. 


***


Malam itu, Khanza melempar tubuhnya ke kasur, di sebuah kontrakan yang tidak murah. Ia sengaja memilih kontrakan yang memiliki fasilitas baik karena ia sudah tahu bahwa gajinya sebagai sekretaris cukup besar. Pun ia tak terbiasa tinggal di tempat yang minim kualitas. 


Bayangan menarik tentang wanita modern yang memakai baju modis khas kantoran, memakai sepatu high heels, serta berjalan anggun di kantor sudah menari di kepala Khanza. Ia tersenyum senang membayangkan itu sambil memeluk bantal guling. 

__ADS_1


Tak lupa Khanza mengabari ibunya bahwa ia sudah diterima bekerja. Kabar itu membawa kebahagiaan bagi Marwah, yang langsung disampaikan kepada Subrata. Mereka berteleponan dengan tawa bahagia. 


"Jangan lupa, gaji sebesar itu ditabung juga ya. Jangan dihambur- hamburkan. Nanti kalau harta ayah habis, kamu bisa pakai tabunganmu itu untuk kehidupanmu," kata Subrata via telepon. Marwah menekan speaker hingga suara Khanza bisa didengar oleh Subrata di sisinya. Mereka sedang berbaring di kamar layaknya pengantin baru yang saling elus.


"Jadi harta ayah bisa habis juga?" Khanza terkesan meledek.


"Hei, ayah ini kan bukan sultan besar, ayah hanya pemilik beberapa ruko yang menjual sembako dan bahan bangunan. Meski pun ayah punya rumah besar, mobil, dan lain sebagainya, itu kan hasil peninggalan kakek kamu. Warisan kakek kamu sudah dibagi- bagi, ayahmu ini hanya mendapat rumah yang ditempati sekarang ini. Dan mobil kamu itu juga masih kredit, belum lunas. Jangan semena- mena dan merasa cukup! Satu lagi, ayah bisa buka ruko juga karena pinjam uang di bank, sampai sekarang masih nyicil bayar angsurannya. Cicilan ayah banyak sekali. Jangan kamu anggap ayahmu ini tidak pusing. Kamu bantu ayah kalau sudah punya gaji besar. Cicilan mobilmu itu bayar sendiri."


Khanza tersentak mendengar pengakuan ayahnya. Padahal setahunya, ayahnya adalah orang sukses dan kaya raya. Tanpa ia tahu bahwa ternyata di balik kekayaan yang ayahnya miliki itu, menyimpan hutang disana- sini. Oh ya ampun, sadisnya hidup.


"Apa tabungan ayah tidak ada?" tanya Khanza berharap tidak dibebani cicilan mobil.


"Perhiasan ibu kan banyak. Bisa dipakai," celetuk Khanza nyengir.


"Perhiasan ibumu itu adalah tabungan milik ibumu, untuk jaga- jaga kalau ada apa- apa. Lagi pula ibumu kan butuh perhiasan saat bepergian, mana mungkin perhiasan ibu dijual," balas Marwah yang tak mau dibebani dengan urusan uang.


Khanza hanya bisa mendengus. Niat hati ingin memberi kabar baik tentang kehebatannya yang sudah berhasil meraih kursi jabatan penting dengan gaji yang besar, tapi malah mendapat beban tugas yang tentunya juga akan mengurangi nilai keuangan miliknya.


 Khanza jadi menyesal sudah berbagi kebahagiaan, berharap mendapat pujian, malah ujung- ujungnya mendapat bocoran mengenai hutang. Hadeeh.

__ADS_1


Pembicaraan ditutup dan Khanza melempar hp ke sisi tidurnya. Ia harus cepat tidur supaya besok pagi bisa memulai hari dengan wajah cerah bersahaja. Ia menginginkan tampilan sempurna di awal bekerja.


Tapi di pelupuk matanya malah muncul wajah Kaisar. Tampan sekali dia dengan senyum simpulnya itu.


Khajza menjerit dan membuka mata sambil geleng- geleng kepala. Bahkan di alam maya pun pria itu masih terlihat tampan, mengulas senyum manis sekali. Apakahdia tidak punya beban hidup? Bukankah selama ini dia sudah dihina dan kerap direndahkan oleh Khanza?


Khanza duduk. Mengenang sosok Kaisar yang setelah menghilang, justru baru dia sadari bahwa pria itu benar- benar pria baik.


Disaat sudah dimaki dan direndahkan, Kaisar masih bersedia melindungi, menjaga dan menghormati Khanza sebagai istri. Jika saja Kaisar tidak tahu bahwa Khanza adalah istri sahnya, mungkin perlakuan Kaisar tidak semulia itu terhadap Khanza. Ini artinya Kaisar mematuhi teguh ajaran agamanya, yaitu melindungi dan menjaga istri sesuai perintah Tuhan.


Tak sekali pun Kaisar membalas perlakuan buruk Khanza, dia murni memuliakan wanita atas kepatuhannya pada ajaran agama. Betapa beruntung wanita yang menjadi istrinya. Belum tentu Khanza akan mendapatkan lelaki yang memuliakan wanita seperti Kaisar.


Masih bisakah Khanza memperbaiki keadaan? Masih adakah kesempatan waktu untuk Khanza mengatakan bahwa ia ingin memulai dari awal bersama dengan Kaisar?


Satu hal aneh yang dirasakan Khanza saat ini, selain rasa kehilangan, kenapa muncul juga rasa ingin bertemu? Apakah ini yang dinamakan rindu?


Khanza mengulum senyum.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2