Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Masa Lalu


__ADS_3

“Pak Kaisar, tiket menuju ke Jakarta sudah dipesan.  Apakah bapak akan berangkat ke bandara sekarang.  Masih ada waktu satu jam untuk menunggu.”  Wanita yang mengenakan blazer lengan panjang dengan rok ala kantoran serta jilbab yang dililit dengan ujungnya dimasukkan ke dalam blazer itu mengingatkan.


“Ah, tidak.  Batalkan saja.”  Kaisar yang berjalan di koridor hotel itu melangkah gontai tanpa menatap lawan bicara.


“Maksudnya?  Bapak mau batalkan tiketnya?”


“Aku tidak jadi pergi.  Aku masih akan di sini.  Biarkan hangus.”


“Oh.  Tapi besok ada jadwal pertemuan dengan CEO Arphena Groups di Jakarta.”


“Nanti biar aku telepon CEO Arphena, kan aku urus pertemuan di waktu selanjutnya.  Oh ya, berikan jam tangan ini kepada Tomy.”  Kaisar menyerahkan jam tangan yang sempat dicuri oleh Khanza.


“Baik.”  Wanita berparas cantik itu mengangguk.  Dia adalah Jihan.  Sudah tiga tahun menjabat sebagai asistennya Kaisar, dan kini jabatan itu dialihkan menjadi sekretaris.  


Kaisar memasuki kamarnya sesaat setelah menggesekkan kartu, sedangkan Jihan melangkah terus hingga sampai di ujung koridor.  Di sanalah kamar yang dia tempati.


Ada kisah menarik di balik hubungan klasik antara Kaisar dan Jihan.  Mereka tetap terlihat professional kerja meski banyak kisah privasi yang terjadi diantara mereka.  Ya, mereka terpaut perasaan, entah itu perasaan cinta, perasaan segan, dan lain sebagainya.


Lima tahun silam, tepat ketika Kaisar kembali ke Jakarta setelah menyelesaikan masalahnya di perumahan komplek yang dia tinggali untuk mengontrak, dia memutuskan untuk menemui Jihan.  Saat itu, Kaisar merasa gundah, dan kegundahan itu ternyata penyebabnya adalah Khanza.  Kaisar baru sadar bahwa Khanzameninggalkan kegundahan nyata saat ia kembali ke Jakarta.  Kaisar sangat ingin kembali bersama dengan Khanza, tapi wanita itu menolaknya.  Lalu ia harus apa?


Sedangkan ruang hatinya untuk Jihan sudah membeku.  


“Jihan, aku boleh bicara jujur tentang hubungan kita kan?” tanya Kaisar kala itu.  dia sengaja menemui Jihan yang tengah menulis- nulis sesuatu di taman tak jauh dari kantornya.  Pria itu duduk menghadap Jihan.


“Ya, Mas.  Bicara saja.  Aku siap.  Ini tentang masa depan kita kan?”


Melihat wajah polos Jihan, ditambah senyum yang juga sama polosnya, membuat Kaisar tak tega untuk bicara. Ampuni Kaisar bila sampai melukai hati yang lembut itu. Kaisar tidak akan melakukan hal ini jika bukan atas permintaan Jihan yang menginginkan perjuangan untuk mencari jodoh yang tepat.

__ADS_1


"Jihan, kita sudah saling mengenal satu sama lain, kita sudah saling mengerti apa yang telah terjadi. Aku berat mengatakan ini. Tapi..." Kaisar kesulitan mengungkapkan apa yang ada di pikirannya. Takut akan melukai hati yang lembut itu. Ah, andai saja hati Kaisar tidak sepeduli ini pada wanita, mungkin ia tak perlu merasa gundah begini.


"Aku tahu apa yang ingin kamu sampaikan, Kaisar. Kamu ingin bilang bahwa aku bukanlah pilihanmu kan?" ucap gadis cantik itu dengan tatapan tegar.


"Ini keinginanmu kan? Agar aku shalat dan menemukan jawaban?"


"Dan aku bukanlah jawaban itu bukan?"


"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, bahwa aku hanya memberi janji palsu dan pada akhirnya meninggalkanmu. Kamu tahu situasiku ternyata sulit sekali. Tuhan menentukan jalan ini untukku."


"Apakah Khanza akan kembali padamu?"


Inilah pertanyaan yang sulit dijawab. 


"Khanza saat ini belum mau menerimaku," jawab Kaisar setelah beberapa detik menarik napas.


"Ya."


"Bukan ditunggu, tapi dikejar."


"Kamu mendukungku?"


"Apa pun keputusanmu, aku mendukung jika itu baik."


Kaisar terdiam. Wanita di hadapannya benar- benar berhati mulia. 


"Kamu pasti sedih dengan semua ini," ucap Kaisar menyesalkan kejadian itu.

__ADS_1


"Iya. Aku sedih. Tapi kesedihan ini adalah untuk kebaikan. Jika memang Tuhan memberi petunjuk bahwa pilihanmu adalah Khanza, lalu kenapa aku harus menangisinya? Bukankah aku yang memintamu untuk mencari kepastian atas petunjuk Tuhan? Sejak awal aku siap, aku siap dengan keputusan apa pun."


"Aku tidak tahu harus bilang apa untuk pengorbananmu ini."


"Lupakan. Kamu harus komitmen dengan pilihan itu jika memang sudah mendapat petunjuk. Lalu... Apakah kamu sudah memperjuangkan pilihanmu itu?"


"Aku belum bicara lagi dengan Khanza. Aku belum bisa meyakinkan dia."


"Kalau kamu sendiri tidak yakin dengan pilihanmu, bagaimana kamu bisa meyakinkan orang lain? Kamu yakin kan kalau pilihan Tuhan adalah pilihan terbaik bukan? Jadi perjuangkanlah." Jihan kemudian berlalu pergi, melangkah gontai meninggalkan Kaisar yang terus mengawasi. Bahkan Kaisar tidak tahu bahwa saat itu air mata Jihan berguguran sangat deras.


Setelah kejadian itu, Jihan benar- benar berusaha menata hati. Ia profesional dalam bekerja, menganggap Kaisar sebagai atasannya saja. Mereka sering bertemu di kantor, tentunya hanya untuk urusan pekerjaan selayaknya bos dan stafnya.


Setelah itu, Kaisar memutuskan untuk kembali ke komplek perumahan, mencari keberadaan Khanza. Tapi sampai lima tahun kemudian, Kaisar belum pernah bertemu dengan Khanza sesaat setelah keterangan pembantu di rumah Khanza yang mengatakan bahwa Khanza tidak ada di rumah, katanya pergi bekerja ke Medan, tapi nyatanya jejak Khanza di Medan pun tidak dia temukan.


Semenjak itu, Kaisar telah kehilangan separuh nyawanya, yang terbang entah kemana. 


Kaisar gelisah saat malam tiba. Memikirkan kabar Khanza. 


Dan tahun berganti, Kaisar tetap seperti itu. Hatinya beku, tidak merasa tertarik pada wanita. Tidak ingin membuka hati untuk wanita. Dan memang ia pun merasa dingin pada wanita.


Tak perlu ditanya berapa banyak wanita yang datang kepadanya dan memberanikan diri untuk menjadi pendamping hidupnya, namun tetap saja Kaisar kekeuh untuk sendiri. Jangan heran jika Kaisar menyita perhatian banyak wanita, dia pria tampan yang mapan, hampir tanpa cacat. 


Meski dalam kesempurnaan, ada yang kurang dengan ruang hatinya.  Kaisar tidak sedang baik- baik saja. 


Lima tahun sudah, semua berjalan dengan lempeng saja. Kaisar disibukkan dengan rutinitas pekerjaan. Dan ia mulai menekuni pekerjaan tanpa harus diganggu dengan yang namanya asmara. Sehari- hari, isi otaknya hanya tentang pekerjaan. Ia sampai lupa bagaimana rasanya menyayangi wanita.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2