Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Akad


__ADS_3

Saat tiba masa dimana Kiasar melantangkan ikrar suci, sama seperti halnya dulu ketika ia mengucap lafaz yang sama, keharuan terasa begitu kental. Apa lagi saat dinyatakan sah, keharuan itu semakin menyelubungi. 


Kaisar mencium kening Khanza, yang langsung disambut dengan riuh tepuk tangan para hadirin.


Calvin menangis, memeluk putranya. Entah kenapa ia terlihat begitu cengeng, namun sebenarnya tidak. Dia hanya sedang merasa campir aduk. Terharu, sedih, bahagia menjadi satu. Akhirnya putranya menikah juga di hadapannya.


"Ini adalah awal dari perahumu dikayuh, semuanya belum selesai. Kau baru memulai. Dan saat perahu mulai berangkat dari daratan, bisa jadi ditengah- tengah akan menemui badai, ombak tinggi, atau apa pun itu. Tidak selamanya perahu itu akan berjalan mulus sampai ke seberang. Jadi, di sini kaulah yang bertugas mengayuh perahu.  Kaulah yang memimpin dan kau yang menentukan apakah perahu itu akan terbalik, karam atau bahkan selamat sampai tujuan. Kau paham maksudku bukan?" Calvin menepuk pundak Kaisar dengan tatapan teduh.


“Ya, papa.  Terima kasih.”  Kaisar memeluk papanya sebentar.


Subrata menyembul, menyusup diantara keharuan itu.  Di sisinya ada Marwah, istrinya.  Senyum Subrata mengembang lebar, tampak wajah ceria di mukanya.  


“Selamat!  Selamat menempuh hidup baru.”  Subrata menyalami tangan Kaisar dengan tiba- tiba.  “Kau jaga putriku, ya!”


Kaisar menatap mertuanya saja.  Berganti matanya melirik Marwah yang terlihat canggung, sepertinya mertua perempuannya itu merasa sungkan, disebabkan selama ini ia bersikap tak baik pada Kaisar.   Lalu ujug- ujug kini berubah baik hanya karena tahu kalau Kaisar adalah orang kaya. 


Tapi baguslah, masih ada rasa tak nyaman.  Berbeda dengan Subrata yang tak tahu malu. 


“Kaisar, terima kasih kamu sudah mau kembali bersama dengan Khanza.  Putriku pergi dari rumah untuk menjadi tulang punggung ayah dan ibunya.”  Marwah berucap dengan gemetar.  “Khanza adalah wanita yang kuat, tegar dan mandiri.  Dia terbiasa melakukan apa saja sendiri.   Jika kamu melihat wanita yang kuat dan mandiri, jangan heran.  Dia bisa seperti hari ini karena dia sudah melewati begitu banyak hal yang menyakitinya, menghancurkannya, namun kemudian membentuknya menjadi pribadi yang kuat seperti hari ini.  Dan saat putriku melakukan kesalahan, tolong bombing dia.  Aku yakin kamu pasti paham dengan yang namanya mendidik.”


Baru kali ini Kaisar mendengar Marwah berbicara dengan bijaksana.  

__ADS_1


“Ibu, aku akan berusaha menjadi suami yang baik.  Rumah tangga itu sepaket cinta, kasih sayang, pendidikan, dan perjuangan,” jawab Kaisar membuat Marwah mengangguk senang karena mendapat tanggapan baik dari menantunya.


Setelah itu, sesi pemotretan yang dilakukan oleh kameramen handal.   Beberapa pose menarik diminta untuk diperagakan oleh Khanza dan Kaisar. 


Kaisar memegangi pinggang Khanza, dengan posisi tubuh Khanza yang sedikit condong ke belakang, seperti akan jatuh, dan kaisar yang memeganginya.


Jarak pandang keduanya yang cukup dekat, membuat Kaisar menikmati mata bulat istrinya.  Iya, Kaisar sudah bisa mengakui Khanza sebagai istri sungguhan.  


Di tengah kilatan kamera yang bertubi- tubi membidik, Kaisar dan Khanza tampak mengobrol.  Kaisar sengaja menggerakkan bibir dengan pelan supaya tidak kelihatan di kamera kalau ia sedang berbincang.  Sedangkan Khanza aman, meski pun nyerocos banyak, tetap tidak kelihatan mengingat dia mengenakan cadar.


“Aku pengap, Kaisar!” bisik Khanza.


“Ini cadarnya membuatku kembali menarik napasku sendiri.”


Kaisar menahan tawa.  Hampir saja tawanya meledak jika ia tak kuat.  “Tahan.”


“Apanya yang ditahan?  Aku tidak kebelet ngapa- ngapain.”


“Maksudku tahan sebentar sampai acara selesai.”


Khanza tampak jengah, namun tak kuasa melawan.  Jika saja ia tidak sedang dalam momen segembira ini, pasti ia sudah mencampakkan cadar yang menutupi separuh wajahnya itu.  ia benar- benar tak terbiasa dan merasa sangat pengap sekali.

__ADS_1


Kali ini Khanza diminta untuk memeluk Kaisar dari arah belakang, sedangkan Kaisar menoleh ke samping, tepatnya ke arah wajah Khanza.


“Apa kamu tahu kenapa aku memintamu memakai hijab di pernikahan yang disaksikan banyak orang ini?” tanya Kaisar.


“Ya supaya menutup aurat.”


“Kamu ingin memajang foto kita bukan?  Bahkan ada banyak orang yang mengabadikan foto kita ini di kamera hp mereka.  Fotomu itu kelak akan tetap bisa dilihat oleh orang lain meski kita sudah tiada.  Dan di foto itu, akan tetap terlihat menutup rambutmu saat disaksikan oleh orang- orang di kemudian hari.”


Khanza tersenyum.  Oh… ia baru paham.


“Kaisar, aku ingin segera pergi dari sini.”


“Kenapa?  Bukankah ini adalah acara yang kamu tunggu- tunggu?  Ini pernikahan kita yang sesungguhnya. Inilah rasanya menikah.  Apa kamu sudah tidak tahan lagi?”


“Hei, apa maksudmu?” Khanza mencubit perut keras Kaisar, membuat Pria itu mengernyit menahan sakit sambil tersenyum kecil.


Andai saja Khanza tanpa cadar, Kaisar pasti sudah melihat rona merah di wajah itu.  betapa ia malu dikatain sedang ngebet.  Huh, pemikiran Kaisar benar- benar ekstrim sekali.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2