Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Calon Menantu


__ADS_3

“Papa!”  Kaisar memasuki rumah dengan langkah lebar.  Wajahnya semringah.


Calvin yang tengah berteleponan dengan posisi berdiri di ruang tamu pun menyudahi teleponnya.  Ia menatap wajah putranya yang berseri- seri.  “Ada apa?”


“Aku membawa kabar baik.  Aku membawa pulang calon istri.”


Calvin tertawa menggelegar.  “Bagus!  Ini yang sudah sejak lama papa tunggu- tunggu.  Kau akhirnya berpikir matang juga.  Siapa dia?  Apakah papa mengenalnya?”


Kaisar berdehem.  Masih terasa kebahagiaan di dadanya, membuatnya sangat ingin berbagi kebahagiaan itu dengan papanya.


“Dia …”


“Kaisar!”  Calvin memotong pembicaraan putranya.  Calvin yang dulu terlihat berambisi dengan hal- hal dunia, kini semakin tua, ia tampak lebih bijaksana dalam segala hal.  “Papa bahagia dengan kabar ini.  Pada akhirnya keinginan papa untuk memiliki mantu terwujud juga.  Tapi ingat satu hal, kamu harus mencari wanita yang baik, yang berasal dari lingkungan baik, keluarga baik.  Supaya anak- anakmu terlahir dari bibit yang baik pula.  Ini penting untuk masa depan rumah tanggamu.  Keluarga yang bahagia adalah keluarga yang berkah.”


Kaisar tertegun.  Khanza jauh dari apa yang disebutkan papanya.  


“Wanita buruk dengan lingkungan buruk, akhlak rusak dan kepribadian yang juga buruk, tidak akan baik untuk dijadikan ibu dari anak- anakmu. Carilah wanita yang baik agamanya, seperti Jihan."


Kaisar menelan.


"Dulu papa memang tidak setuju, tapi sekarang papa paham bahwa paling utama yang dicari untuk menentukan istri adalah agamanya. Andai saja papa mengerti hal ini sejak dulu..." Calvin menghela napas, muncul penyesalan di wajahnya.

__ADS_1


Kaisar mendengarkan dengan tenang.


"Akhlak itu bisa diperbaiki, papa."


"Bicara mengenai perbaikan akhlak? Maksudmu, akhlak bisa dibentuk? Kalau memang bisa dibentuk, untuk apa nabimu menganjurkan supaya memilih yang agamanya bagus? Suruh saja umatnya mencari wanita sembarangan karena akhlak bisa dibentuk. Berangkat membawa wanita yang agamanya buruk menuju ke rumah tangga untuk menghabiskan sisa umur, ini bukan mudah. Papa sudah berpengalaman."


"Pa, manusia itu berbeda- beda. Tidak sama. Hati manusia pun berbeda- beda. Ada yang mudah menerima hidayah, ada pula yang tidak."


"Ini artinya kau akan membawa wanita yang tidak sesuai dengan kriteria yang papa sarankan? Dia bukan wanita baik?"


"Dia wanita yang ingin menjadi baik. Artinya sedang hijrah."


"Papa jangan cemas, aku akan tunjukkan pada papa kesungguhannya."


"Aku hanya mengingatkan, bahwa wanita buruk tidak akan baik untuk dibawa menuju ke rumah tangga. Sebaik- baiknya kau membentuk akhlaknya, hasilnya tidak sebaik orang tua yang membentuk dari dua puluh tahun sejak kelahirannya."


"Lihat orang tuanya juga, Pa. Papa percaya kan kalau pria bernama Kaisar akan mampu mengajak istri pada hal- hal yang baik?"


Calvin menatap wajah putranya, kemudian tersenyum. Ia menepuk lengan putranya dua kali. "Siapa dia?"


"Khanza."

__ADS_1


Calvin terkejut. "Nama itu tidam asing."


"Ya. Dia sekretarisku dulu."


"Oh... Yang dulu staf di kantormu itu kan? Yang pernah menikah denganmu?"


Kaisar mengangguk.


"Ya ampun, jadi kau selama ini tidak mau menikah karena hatimu masih terpaut padanya? Kau menunggu dia?"


Kaisar memutar mata. Menggaruk pelipis yang tak gatal.


Calvin menarik napas panjang. "Pernikahan kalian di awalnya saja sudah gagal. Sama seperti papa yang gagal membina rumah tangga, apakah hubungan kalian masih bisa dilanjutkan lagi? Kalian jelas sudah gagal." Calvin berkaca- kaca, ketakutan besar terpancar di matanya. Sebuah kegagalan telah menghancurkan kepercayaannya akan sebuah komitmen.


"Pa, kegagalan dari pernikahanku dulu memang kesalahanku. Aku yang sudah menyerah dengan keadaan. Padahal Tuhan sudah titipkan Khanza untukku. Sekarang aku akan mempertanggung jawabkan semuanya." 


Calvin menarik napas dan melepaskannya dengan embusan yang terdengar berat. Kemudian ia melangkah pergi untuk berangkat ke kantor.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2