Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Pisah


__ADS_3

“Aku akan dinikahkan dengan Nana, pilihan papaku,” ucap Kaisar.


Paras wajah Jihan tampak sedih.  “Aku yakin kamu pasti memiliki keputusan terbaik.  Dan jika memang kita berjodoh, Tuhan pasti akan satukan kita, apa pun caranya.”


“Pertunanganku dengan Nana sudah di depan mata.  Setelah bertunangan, maka satu bulan lagi orang tuaku akan menikahkan aku dengan wanita itu.”


Senyum kecil namun getir terbit di wajah Jihan.  “Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya menderita, pasti papamu juga inginkan yang terbaik untukmu, meski kadang ketentuan orang tua itu belum tentu tepat.”


“Kamu percaya kan kalau aku pasti akan datang kepadamu?”


“Ya.”


“Aku akan melakukan sesuatu untuk keputusan besar.  Doakan semoga ini akan menjadi jalan terbaik untuk masa depan kita.”


“Sudah shalat istikharah?”


Kaisar mengulum senyum kecil.


“Lakukanlah!  Nanti pasti Tuhan akan berikan jawaban entah melalui apa saja,” pinta Jihan.  “Aku percaya, laki- laki baik itu diciptakan untuk perempuan baik pula.  Jangan sampai  gegabah dan malah menghasilkan keputusan terburuk, hanya untuk mengedepankan ego.”


Kaisar menganggguk.

__ADS_1


“Aku harus pergi.  Teman- teman kantor menungguku.”  Jihan menganggukkan kepala kemudian masuk ke taksi yang menunggu.


Kaisar kembali ke mobil. 


“Kita ke pabrik.  Jadi?” tanya Khanza.


“Ya, tentu,” jawab Kaisar.  "Sekarang aku sudah bisa menentukan keputusan untuk jalan yang kita tempuh." Kaisar menghela napas. 


Khanza diam saja. Menunggu perkataan Kaisar.  Ia sudah tahu kemana arah kata- kata yang akan diucapkan.  Dan hatinya sudah siap untuk keputusan apa pun itu. 


"Aku tahu kamu sangat membenciku, aku tahu kamu tidak mencintaiku. Kita sama sama tidak ingin pernikahan ini berlanjut, jadi aku memutuskan untuk kita bercerai." 


Keputusan yang menyakitkan. Ngilu mendengarnya.  Khanza diam.  Sampai akhirnya ia merasa sanggup bicara, ia pun berkata, "Ya." 


Memang benar, setahu Kaisar Khanza sangat muak dengan Kaisar. Khanza tak mau memiliki suami seperti Kaisar. Itulah yang diketahui Kaisar sejak awal. Pria itu tidak salah.


Dan sekarang, Khanza merasa harga dirinya jatuh saat harus mengakui bahwa ia mencintai Kaisar. Padahal itu terjadi sejak dia belum mengetahui bahwa Kaisar adalah orang kaya. Tapi tetap saja, pandangan Kaisar pasti akan buruk terhadapnya. 


Memang saat ini hanya ketulusan lah yang dia miliki, tanpa memerlukan balasan. Sungguh tulus. 


"Mengenai status janda yang akan kau terima, aku akan bertanggung jawab untuk itu. Aku yang akan menemui dan menghadapi suamimu kelak, aku akan mengatakan hal yang sebenarnya tentang kita, bahwa kita tidak pernah campur, bahwa kehormatanmu tetap terjaga, bahwa kamu masih tetap suci. Kita menikah karena kesalah pahaman yang memaksa kita untuk bersama, sehingga status janda tidak mengubah apa pun," ucap Kaisar.

__ADS_1


Khanza masih diam.


"Secepatnya aku akan melepaskanmu, supaya kamu bisa menggapai kebahagiaanmu dan terlepas dari lelaki yang tidak kamu sukai. Sebaliknya juga begitu, aku akan mengejar cintaku," sambung Kaisar.


Khanza mengangguk.


"Sebab tidak akan ada gunanya membimbing rumah tangga yang tidak sehat, di dalamnya tidak ada mahabah. Justru peluang dosa yang akan muncul, lebih banyak mudharatnya, hanya akan ada keburukan. Aku pun takut kita justru malah kufur disebabkan sama- sama tidak menyukai pasangan.  Maka untuk menyelamatkan marwah rumah tangga ini, sebaiknya memang kita berpisah. Secepatnya akan aku urus perceraian ini."


Khanza diam, menandakan menyetujui pernyataan Kaisar.


Sesampainya di pbarik, mobil memasuki area pabrik melalui gerbang samping.  Kaisar menemui Beno dan Ganda.  Dua sahabatnya itu sudah menunggu di samping bangunan pabrik, mereka memang sudah janjian di sana.  


Kaisar meminta Beno dan Ganda menunggu sebentar semasa ia masuk ke dalam untuk urusan pemantauan hal- hal penting.


“Wah wah… beruntung sekali kamu, Khanza,” ungkap Beno sambil mengunyah.  Ia menatap Khanza yang berdiri tak jauh darinya. “Akhirnya mendapatkan suami idaman seperti Kaisar.” 


“Kami yang selama ini dekat dengannya saja tidak pernah tahu identitas Kaisar.  Dia rupanya sultan!”  Ganda geleng- geleng kepala. 


“Apakah ayahmu sudah tahu soal ini?” tanya Beno.  “Ataukah perlu kami yang sampaikan kepada orang tuamu bahwa Kaisar itu adalah seorang Sultan?  Supaya kalian direstui dan Kaisar pun mendapat kasih sayang serta kehormatan dari Pak Subrata?”


“Tidak perlu menunjukkan kalau Kaisar itu kaya supaya dia mendapat kehormatan dan kasih sayang dari ayahku.  Biarkan saja begini,” ucap Khanza setelah sejak tadi diam.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2