Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Menata Hati


__ADS_3

Hati Khanza terasa kebas, ingin menangis, namun ia menahan gejolak di dada. Tak akan pernah ia mempertaruhkan rasa cintanya dengan materi atau hanya sekedar balasan cinta dari Kaisar. Biarlah ketulusan itu dia rasakan sendiri. 


Khanza sadar bahwa Kaisar tidaklah mencintainya. Entah tuntutan apa yang membuat Kaisar ingin balikan dengannya. Kaisar mengatakan bahwa dia ingin memulai semuanya dari awal bersama dengan Khanza, tapi itu bukan berdasarkan cinta.


Jika Kaisar saja tidak memiliki cinta untuk Khanza, maka bukan mustahil kelak akan terucap kalimat yang sama, bahwa Khanza hanyalah wanita yang gila dengan harta, sebab pandangan itu belum lenyap dari mata Kaisar.


Andai saja Khanza mengedepankan ego, dia pasti akan langsung menerima Kaisar dan menjadikan pria itu sebagai suaminya kembali, tapi emosinya masih bisa terkontrol sehingga ia memilih untuk bertahan sendiri saja.


Andai saja Kaisar tahu, bahwa sebenarnya khanza sangat mencintai pria itu, apakah mungkin Kaisar akan percaya bahwa cinta itu tulus?


Khanza melangkah masuk ke rumah, disambut oleh Marwah yang tengah menonton televisi. "Khanza, dari mana kamu? Ini sudah malam dan kamu baru pulang."

__ADS_1


"Biasalah, Bu. Kumpul sama teman- teman."


Marwah mendekati Khanza, menatap putrinya intens. "Kamu tidak bisa begini terus. Jadikan hidupmu lebih bermanfaat untuk ayah dan ibumu."


"Aku kumpul sama teman- teman kam sambilan cari info untuk bisa mendapatkan pekerjaan bagus lagi. Tadi sudah ada info tentang kerjaan loh. Di Palembang, aku akan direkrut menjadi accounting perusahaan sawit. Keren kan? Gajinya lumayan."


"Palembang? Jauh sekali?"


"Tunggu tunggu... Ini kamu bau minuman beralkohol begini?" Marwah menutup hidung dan mulut dengan telapak tangan.


Khanza tersenyum. "Ibu kayak baru kenal aku saja. Ini zaman modern, Bu. Bukan jaman katrok. Pergaulan sekarang dengan zaman bahelak itu beda. Ibu pasti paham soal itu."

__ADS_1


Marwah tidak bisa mengelak, menganggap perkataan Khanza itu benar. Jaman begini memang pergaulan bebas dan tidak bisa disamakan dengan jaman dulu. Khanza dianggap mengikuti jaman. "Tapi kamu tidak akan bekerja ke Palembang kan? Itu jauh sekali."


"Jangan cemaskan aku, Ibu. Aku sudah besar dan bisa jaga diri dengan baik. Kenapa harus cemas kalau aku jauh? Bukankah ibu juga dulu santai saat melepas ku kuliah di luar negeri? Itu negeri orang dan jaraknya justru lebih jauh dari Palembang.  Jangan cemaskan itu!”  Khanza langsung naik ke lantai atas untuk kemudian melempar tubuh ke kasur.


Hatinya masih terasa kebas memikirkan Kaisar, pria yang berhasil mengenalkannya dengan rasa cinta yang sesungguhnya.  Biarlah begini adanya, tanpa perlu ia dan Kaisar bersatu, kehidupan mereka akan tetap berjalan sebagaimana mestinya. 


Khanza tidak mau bersatu dengan kaisar jika pada akhirnya ketulusannya malah dinilai hina.  Mencintai itu tidak harus memiiki, pepatah ini angat tepat untuk Khanza saat ini.  Khanza pun rela bila Kaisar menikah dengan Jihan, wanita baik yang pastinya juga akan menjadi bidadari menuju ke surga bersama- sama.  Itu indah.  Sudahlah, no Kaisar. No masa lalu.  


Khanza saat ini sedang ingin menata diri, menata masa depan.  Tak perlu lagi menatap masa lalu.  Dia sudah cukup jahat dan kejam kepada Kaisar, jangan ditambah lagi kekejaman itu dengan hubungan mereka yang malah menjadi dekat.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2