Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Suami Idaman


__ADS_3

Satu bulan sudah berlalu pasca kejadian tragis yang menimpa Kaisar.  Pria itu kini tampak lebih fokus pada urusan rumah ketimbang urusan pekerjaan.


Pekerjaan memang penting karena merupakan salah satu dari ibadah, yaitu mencari nafkah untuk keluarga.  Namun urusan rumah yang mencakup hal- hal pribadi jauh lebih penting dari segalanya.  Contohnya saja, ia lebih mengutamakan memberikan perhatian pada istri dengan mengantar jemput istri ke tempat- tempat yang diinginkan.


Bisa saja supir yang melakukan hal itu, namun Kaisar yakin bahwa Khanza merasa jauh lebih bahagia saat suaminya sendiri yang mengantar dan menjemputnya.


“Pak, ada tamu,” ucap Jihan yang baru saja memasuki ruangan Kaisar.


“Kamu sudah lupa mengetuk pintu lebih dulu?” tanya Kaisar mempertanyakan etika bawahannya.


“Maaf.  Aku sudah ketuk pintu, tapi Bapak kurang mendengar.  Sepertinya ketukan tanganku kurang keras.”  Jihan menyesalkan kejadian itu.


“Okey.  Tidak masalah.  Tapi… Tamu?  Siapa yang datang?  Aku tidak ada janji kan?”


“Tidak, Pak.  Tapi beliau memaksa ingin bertemu.”


“Suruh bikin janji saja dulu.  Sekarang aku sibuk,” tegas Kaisar dengan sopan.


“Tamunya sudah ada di depan ruangan Bapak.”


“Loh, kok bisa?  Siapa yang mengijinkannya?  Lain kali kamu filter dulu ya, aku tidak bisa sembarangan bertemu orang karena jadwalku tidak bisa sembarangan diserobot.  Apakah aku kosong sekarang?”


“Setengah jam lagi ada meeting, pak,” jawab Jihan dengan senyum.


“Nah, kamu yang handle jadwalku, kamu tahu setengah jam lagi ada meeting, tapi kamu ijinkan orang masuk untuk menemuiku.”


“Katanya tidak lama, Pak.”

__ADS_1


“Suruh dia masuk.  Sepuluh menit saja.”


“Baik.”  Jihan membuka pintu.  Ia mempersilakan sosok di depan pintu untuk masuk.


Seketika Kaisar mengernyit menatap tamu yang dimaksud.  “Khanza?”


Senyum Jihan mengembang melihat Kaisar yang terlihat seperti orang kesambet dengan terbengong sendirian.


“Kamu ngerjain aku ya?  Bilang ada tamu, rupanya istriku yang datang.”  Kaisar menjitak ubun- ubun Jihan yang dibalut jilbab.


Wanita itu tertawa kecil kemudian keluar dan menutup pintu.


“Kesel ya dikerjain sekretaris?” Khanza tersenyum.


“Ada apa kamu kemari?”  Kaisar meraih pinggang ramping istrinya dan menarik kursi, mempersilakan Khanza duduk di kursi yang barus aja dia tarik.


Kaisar berdiri di sisi Khanza, menatap wajah cantik istrinya dengan kepala sedikit menunduk.


“Aku mengantar ini.” Khanza mengeluarkan kotak nasi.


Kaisar membelalak.  “Sejak kapan kamu mengantar makanan begini ke kantor?”


“Kali ini saja.  besok- besok tidak.”


“Tapi dalam rangka apa kamu lakukan ini?”


“Dalam rangka menyayangimu.”

__ADS_1


Kaisar tersenyum tipis.  Ia membuka kotak makanan dan menemukan roti dan sosis dengan permukaan berbentuk wajah yang digambar menggunakan saus dan mayones.  Gambar wajah itu memperlihatkan senyum.


“Ada- ada saja.”  Kaisar menyentil ujung hidung Khanza.  “Aku makan ya!”


“Iya.  Aku bawakan itu untuk dimakan.”


Kaisar memutari meja.  Duduk di kursinya dan menyantap roti.  


Eh, rotinya asem.  Ini bukan mayones yang disukai Kaisar.  Khanza salah pilih rasa.  Tapi Kaisar terlihat lahap saat menyantapnya.  Beginilah cara Kaisar menghargai jerih payah istrinya. 


“Kamu suka?” tanya Khanza.


“Ya.”


“Besok aku buatin lagi.”


“Oh… Jangan.  Maksudku, menunya bisa diganti- ganti.  Kamu bisa ganti cita rasa mayones.  Jangan yang rasa ini lagi.  Soalnya bisa saja bosan kan?”


Khanza mengangguk.  “Oh ya, tadi di depan orang- orang pada melihatku aneh.  Meski mereka menyapa dengan anggukan kepala, tapi mereka menatapku speerti sedang menilai- nilai.  Apakah mungkin karena penampilanku yang sekarang sudah berhijab sehingga membuat mereka jadi takjub saat melihatku?  Atau karena aku dulu di sini dianggap sebagai bawahanmu, dan sekarang sudah berstatus istrimu?  Apa itu yang membuat mereka jadi fokus mengawasiku?”


“Semua dugaanmu ada benarnya.  Tapi yang jelas, kamu dipandang sebagai wanita terhormat, istri Kaisar, CEO di perusahaan ini.  Benar begitu kan?”


Kalimat itu benar- benar menyenangkan hati Khanza.  Kok, ia baru sadar kalau suaminya itu semenggemaskan ini?  Bahkan ia pun baru sadar kalau Kaisar itu sangat menjaga hati wanita.


Sejak awal ia memang mengenal Kaisar sebagai pria baik dan alim.  Hanya saja, hatinya masih tertutup kala itu.  Dan sekarang ia sudah menyadari hal besar itu meski itu telat.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2