Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Pergi


__ADS_3

Kaisar masuk kamar, merebahkan tubuhnya ke kasur king size yang ukuran luasnya bisa untuk guling- guling bebas.  Seharusnya kasur luas itu dihuni oleh dia dan wanitanya, yang akan menjadi teman tidur.  Tapi sampai kini Kaisar masih sendiri bersama dengan bayang- bayang semu akan kehadiran wanita impiannya.


Seharusnya ia menatap wajah wanitanya setiap kali hendak tidur, tapi yang ada hanya menatap langit- langit kamar.  Keinginannya untuk bisa menghabiskan waktu bersama- sama dengan Jihan di ruangan luas itu belum terlaksana sampai kini.


“Hai malaikatku, bangunkanlah aku jam dua dini hari.  Aku ingin shalat istikharah!” Kaisar berbisik sebelum matanya benar- benar terpejam.


Setiap manusia yang beriman, pasti meyakini bahwa ada malaikat yang menjaga setiap raga yang bernyawa. 


Tepat jam dua dini hari, malaikat yang tak pernah tidur pun tak pernah lupa dengan permintaan Kaisar untuk membangunkan manusia yang berkeinginan melakukan kebajikan.  Kaisar dini hari merasakan sentuhan air yang mengaliri kulit tangannya, wajah, juga kaki melalui air wudhu.


Setelah itu ia mengucap takbir untuk shalat. 


***


Langkah Kaisar gontai memasuki ruangan kerjanya.  Terlebih dahulu dia melewati ruangan Khanza, dimana wanita cantik itu tengah duduk sambil menulis.  Pemandangan itu dijangkau Kaisar melalui kaca bening yang menjadi pembatas.

__ADS_1


Khanza tampak terus menunduk, kemudian memutar kursi ke arah lain hingga di posisi memunggungi saat Kaisar melintas.  


Kaisar sedikit melirik ke arah Khanza yang membelakanginya, wanita itu sibuk mencari sesuatu di kotak filenya.  Seperti sibuk sekali. 


Kaisar memasuki ruangan Khanza yang pintunya dalam keadaan terbuka.


“Khanza, bawakan agenda untuk besok ke mejaku!” Kaisar menghampiri meja Khanza.


“Ya.”  Khanza masih tampak sibuk dengan pekerjaannya itu.  entah sibuk mencari apa.


“Baik, aku tunggu!”  Kaisar tetap professional.  Ia memasuki ruangannya.   Ia kemudian duduk di kursinya.


Jika sudah begini, Kaisar jadi teringat Calvin.  Ayahnya sama sekali tidak memecat atau mencopot jabatannya.  Calvin menghilang entah kemana sejak kemarahannya malam itu.  


Pagi tadi pun tidak ada di meja makan saat sarapan.  Sejak ia bercerai dari istrinya, ia memang terlihat mudah marah.  Bahkan kemauannya wajib dipatuhi.  Sekarang netah kemana Calvin pergi.  Mungkin dia sedang ingin menghibur diri dengan mencari kesenangan.  Biasanya juga begitu.  Paling sering pergi ke Singapura.  Lalu saat pulang, dia hanya akan peduli untuk menanyakan tentang pekerjaan.

__ADS_1


Beberapa menit Kaisar menunggu, Khanza tak kunjung muncul.  Kaisar menekan intercom, memanggil Khanza.  Namun tak ada sahutan.


“Haruskah aku membuang waktu dengan berdiri dan menemuinya?”  Kaisar bangkit meninggalkan mejanya.  Tepat saat itu pintu terbuka, Paul masuk.  “Kebetulan sekali, kau panggil sekretaris kemari!” titah Kaisar.


“Mm… Maaf Pak, ini saya hanya ingin menyerahkan surat ini kepada Bapak.”  Paul menyerahkan sebuah amplop putih.  


Bingung, Kaisar menatap maplop dengan mengernyit.  “Kau disuruh memanggil sekretarisku malah memberiku amplop begini.  Ya sudah, ini aku baca.  Kau pergilah panggil sekretaris kemari!” 


Paul hanya diam sambil balik badan.


Kaisar kembali ke kursi, membuka amplop putih dan membaca isinya.  


“Khanza resign?”  Kaisar menatap tak percaya pada surat itu, surat yang menunjukkan bahwa Khanza membubuhkan tanda tangan di surat pengajuan pengunduran diri.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2