Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Membawa Pergi


__ADS_3

Mendengar ucapan Subrata, Pak Zein terlihat rikuh, sedikit kaku.  Merasa dihina.  Namun ia berusaha tak peduli mengingat dia memang tak ada hubungan apa- apa dengan Subrata.  


“Ya sudah, ndak apa- apa.  Kalau memang tidak mau dianggap keluarga juga tidak apa- apa.  Kami juga ndak rugi toh bune?”  Pak Zein tersenyum kaku.


“Kami ke sini hanya mengikuti harapan pak Subrata yang ingin berkenalan dengan kami,” timpal Bu Karsih.


“Baiklah, silakan pulang!” tunjuk Subrata ke arah pintu.


“Lah, jauh- jauh kita ke sini apa yo ndak dikasih makan ini pak’e?”  Bu Karsih mengguncang pundak suaminya.


“Lha yo ndak tau.  Kita disuruh pulang, ya sudah ayo pulang.”


“Berkunjung ke rumah besan kok kayak berkunjung ke penjara to ini?”  Bu Karsih terlihat begitu luwes.


Marwah menggeleng- gelengkan kepala dan memutar mata jengah.


Khanza yang baru saja keluar dari kamar setelah mandi dengan penampilannya yang kekinian itu pun mengernyit melihat dua pasutri asing.


“Nah, itu pasti Khanza, mantu kita toh?” tanya Pak Zein menunjuk Khanza.


“Iya, itu istriku, Khanza,” sahut Kaisar yang sejak tadi diam.  “Ya sudah, ayo bapak dan ibu aku antar ke luar.  Ibu dan bapak mau pulang kan?”  Secara tidak langsung, Kaisar menyuruh sepasang suami istri itu secepatnya meninggalkan rumah supaya tidak ada kebohongan yang terbongkar.  


Takut Pak Zein atau pun Bu Karsih malah keceplosan yang berakibat rahasia menjadi terbongkar.


Kaisar membimbing Pak Zein dan Bu Karsih keluar.  Ia mengantar sampai ke pagar depan.  

__ADS_1


“Makasih ya, pak, Bu.  Bapak dan ibu sudah membantu saya.  Saya sadar ini sebuah kekeliruan, tapi ini demi kebaikan saya.  Dan maaf soal yang tadi, sikap pak Subrata pasti tidak enak ya!” ungkap Kaisar emnyesalkan kejadian tadi.


“Oh ndak apa- apa.  Lha wong ini Cuma ekting toh?” Pak Zein menanggapi.


“Iya ya, Pak’e.  Kayak ekting di tipi tipi itu, kita ekting begini juga duit toh pak.  Ini tadi dikasih duit dua ratus ribu sama si Beno,” sahut Bu Karsih tampak senang.


“Oh ya, ini ada sedikit uang untuk Bapak dan Ibu, untuk ongkos pulang.”  Kaisar mengeluarkan uang seratus ribuan dan menyerahkannya kepada Pak Zein.  “Semoga berkah ya, pak.”


Pak Zein terbelalak menatap lembaran uang yang baru saja dia hitung.  “Ini dua juta?  Banyak sekali?”


“Untuk ongkos pulang, Pak.  Maaf karena saya sudah melibatkan bapak dan ibu.  Suatu saat kalau ada masalah apa- apa yang menyangkut saya, bapak dan ibu bisa hubungi saya ya.  Itu sudah saya catat nomer telepon saya di kertas.”  Kaisar menunjuk kertas yang dia selipkan diantara uang ratusan ribu tersebut.


“Iya.  Makasih ya, Nak. Semoga masalahmu cepat selesai.”  Pak Zein senang sekali.  


Sepasang suami istri itu kemudian berpamitan.


“Khanza, kamu ikutlah denganku!  Tinggal di kontrakan!” ucap Kaisar dengan nada sebagai perintah.


Khanza membelalakkan mata.  Tersenyum sinis.  “Aku tidak mau.”


“Aku suamimu.  Kamu harus menurutiku!” tegas Kaisar mendominasi.


Melihat perdebatan itu, Subrata kemudian berkata, “Sekarang terserah pada Khanza saja, kalau dia tidak mau diajak bersamamu, mungkin memang lebih baik kalian tinggal di sini saja, supaya mudah aku memantau kehidupan kalian.”


“Tidak bisa!  Aku yang berhak atas Khanza.  Aku suaminya sekarang!”  Kaisar bersikeras, ia meraih pergelangan tangan Khanza dan mendekatkan mulutnya ke telinga gadis itu untuk berbisik, “Saat kita tinggal serumah di sini, maka pergerakan kita akan tercium oleh kedua orang tuamu.  Bahkan keadaan kita yang tidur terpisah pun lambat laun akan ketahuan.  Tapi saat kamu tinggal bersamaku di kontrakan, maka pergerakan kita akan bebas.  Paham?”

__ADS_1


Khanza terkesiap, ia mencerna kata- kata Kaisar.  Dan kata- kata itu benar adanya.


“Jika mereka sampai tahu bahwa kita hanya pura- pura menikah, apa kamu siap untuk benar- benar dinikahkan denganku?” bisik Kaisar dengan kesal.  "Kita akan bebas dari jangkauan mata kedua orang tuamu saat jauh dari mereka, paham?" geram Kaisar dengan sorot mata tegas.


Apa yang dikatakan oleh Kaisar memang benar, dan memang akan berbahaya jika akhirnya Subrata dan Marwah mencium kejanggalan hubungan diantara mereka. Bukankah akan buruk jika akhirnya Subrata benar- benar menikahkan mereka?


"Ayo!" Kaisar menarik tangan Kanza dan menggeretnya keluar.


"Hei, tunggu dulu! Hei, jangan mendadak hari ini juga. Bisa besok atau lusa kan?" Khanza memberontak. Namun tubuhnya terus terseret keluar.


Kaisar tahu bagaimana sifat Khanza yang pastinya kebanyakan menolak peraturannya, maka akan lebih baik Kaisar bersikap tegas.


"Mas, itu bagaimana Kaisar main kasar sama Khanza? Masak Khanza dipaksa begitu?" Marwah memprotes, namun ia hanya bisa bicara kepada suaminya tanpa mau berkata langsung kepada Kaisar. Seperti ada rasa yang menahan saat lidahnya hendak bicara pada Kaisar, sikap Kaisar yang seperti seorang pemimpin tegas dan berwibawa, sudah cukup mematahkan keberaniannya di muka.


"Kaisar tidak bisa dilarang, dia orangnya keras. Yang penting Khanza tidak dipukul dan disakiti, itu saja sudah cukup." Hanya itu komentar Subrata yang tak mau bertindak lebih.


Khanza tak bisa berbuat apa- apa kecuali duduk di taksi yang sudah melaju kencang meninggalkan rumah. Ia melirik Kaisar yang duduk di sisinya.


"Kenapa harus sekarang? Kenapa tidak besok saja?" ketus Khanza berang.


"Semakin cepat semakin bagus."


"Lalu bagaimana dengan pakaianku? Kamu lihat aku pergi dari rumah tanpa membawa apa- apa."


"Kamu catat di hp semua apa yang kamu butuhkan. Suruh saja Bi Imar mengantarnya ke kontrakanku." Kaisar berkata dengan datar.

__ADS_1


Makasih buat yg udah kasih tips koin. Semoga dilancarkan rejekinya. 🤗🤗


__ADS_2