Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Deg- degan


__ADS_3

"Khanza, kamu mau kemana?" Subrata menatap tajam ke arah Khanza yang sudah tampil stylis dan fashionable pagi hari. 


Wajah Khanza juga dipoles make up.


Subrata sedang uring- uringan saat tahu Kaisar benar- benar sudah meninggalkan kota itu, artinya meninggalkan Khanza juga.  Subrata menganggap Kaisar tidak menghormatinya. Subrata sedang menyantap sarapan kala itu, ditemani oleh Marwah dan bungsunya.


"Aku mau pergi," jawab Khanza cuek. Ia meneguk jus yang sudah disediakan.


"Pergi kemana?" Subrata menatap tas di pundak Khanza, tas yang tak pernah dipakai sulungnya. Sekali dipakai pasti akan pergi jauh.


"Percuma punya titel tinggi dan lulusan hebat kalau tidak memiliki penghasilan bagus. Aku mau kerja." Khanza meletakkan gelas ke meja setelah meneguk isinya dengan posisi berdiri saja.


Beberapa hari tinggal di rumah, Khanza justru merasa ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang hilang dan membuatnya tak nyaman. Entah apa. Tapi baginya, setelah kepergian Kaisar dari kehidupannya, satu sisi hati Khanza merasa ada yang kurang alias tidak lengkap.


"Suamimu pergi begitu saja dan kau juga malah mau pergi? Kalian malah jadi sendiri- sendiri begini. Bagaimana rumah tangga kalian ini, huh? Berantakan sekali."


"Entah!" Khanza menyahuti sambil mengedikkan pundak.

__ADS_1


"Ayah menyekolahkanku tinggi supaya aku memiliki jabatan tinggi dan penghasilan bagus kan? Ya sudah, lupakan urusan Kaisar. Aku tidak peduli dengan itu. Aku sudah mengirimkan lamaran via email dan aku dipanggil untuk interview. Melihat curriculum vitae dan daftar pendidikanku, mereka pasti tergiur. Aku pasti menduduki posisi penting. Aku pergi dan doakan saja aku akan menjadi seperti yang ayah inginkan. Jangan menunggu pulang, bisa tiga hari, seminggu atau bahkan satu bulan aku tidak kembali. Sebab jika aku benar- benar diterima bekerja, maka aku tidak akan pulang dalam waktu cukup lama. Dadaaah!" Khanza melenggang pergi, tak peduli dengan gerutuan sang ayah, juga tatapan bingung sang ibu.


"Mantul, semangat, Kak. Semoga berhasil! Jangan lupa kirimin uang kalau sudah dapat gaji besar ya!" seru si bungsu sambil mengayunkan sendok.


Khanza melangkah hendak ke mobil yang sudah terparkir di halaman. Ia baru saja memegang handle pintu mobil ketika Beno memanggilnya.


"Khanza! Sini!" Pria gembul itu melambaikan tangan di depan pagar. Sepertinya dia sudah cukup lama berdiri di sana hingga mukanya terlihat penat dengan pekuh membasuh pelipis.


"Hei, siapa yang butuh? Kamu kan yang butuh aku? Ya kamulah yang ke sini!" sinis Khanza tak mau diperintah- perintah.


"Aku ke sini mau mengantar ini!" Beno memberikan sebuah amplop.


"Duit?" Khanza mengangkat alis.


"Lah, sejak kapan aku kasih nafkah ke kamu berupa duit? Itu dari Kaisar. Buka saja! Ya sudah aku harus segera pergi dari sini, kalau ayahmu tau aku di sini, pasti dia bakalan mengomel." Beno melangkah pergi dengan tergesa- gesa. Lemak tubuhnya yang menggelambir pun bergoyang- goyang seiring dengan gerakan tubuhnya. Ia sudah sangat paham dengan sifat Subrata yang pasti tidak akan suka jika melihat putrinya didekati laki- laki kelas menengah, pria itu pasti akan mengomel. 


Khanza terpekur menatap amplop kecil putih di tangannya. 

__ADS_1


Apa isi amplop itu? Mendadak tangan Khanza gemetar memeganginya. Merasa gugup dengan isi kertas. Dan anehnya, ia deg- degan. Halah, kenapa Khanza malah jadi gugup begini saat kerasa penasaran dengan isi kertas itu. 


Khanza masih terdiam beberapa saat merasakan jantungnya deg- degan. Aneh, ada apa dengannya? 


Khanza kemudian membuka lem yang melekat di amplop hingga kini terbuka. 


Hah? Isinya selembar kerats yang dilipat. Maksudnya, Kaisar mengirimi Khanza surat?


Lagian kenapa Kaisar seperti jaman kuno saja sampai harus menitipkan amplop ke Beno? Semacam kembali ke jaman kuno saja, yang bila berkomunikasi mesti melalui surat menyurat. Apakah pria itu tidak bisa berbicara via telepon? Eh, Kaisar memang tidak memiliki nomer hp Khanza.


Khanza memasuki mobil, duduk di kemudi. Ia mengatur napas, mengatur detak jantung suoaya lebih tenang. Saat ia merasa sudah siap untuk melihat isi surat, barulah ia membuka lipatan kertas.


Deg!


Belum apa- apa, Khanza sudah deg- degan lagi. Khanza sama sekali tidak bisa menebak isi surat itu, jadi sedikit pun ia tidak bisa menduga isinya tentang apa.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2