Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Hangat


__ADS_3

Khanza benar- benar merasa direpotkan dengan gaun itu. Ia padahal sudah mencoba gaunnya beberapa hari sebelum pernikahan, rasanya memang nyaman di badan, dingin dan halus. Tapi ia tidak menyangka jika ia akan direpotkan seperti ini.


Mereka memasuki kamar luas yang di sana sudah ada dua koper. Tak lain koper milik Kaisar dan Khanza yang sudah dikirim pagi tadi ke kamar itu.


Bergegas Khanza mengambil pakaian ganti dari dalam koper. Namun matanya melirik ke arah Kaisar saat hendak melepas gaun pengantin. Apakah ia harus disaksikan oleh Kaisar saat menukar pakaian begini? Ah, tidak. Khanza tidak mau sepasang mata Kaisar mengawasinya. Kan malu. Entahlah, kenapa jadi malu begini setelah menikah dengan dasar cinta. 


Khanza menoleh ke arah Kaisar yang langsung dibalas dengan alis terangkat oleh Kaisar dan tatapan datar. Sikap itu makin membuat Khanza jadi salah tingkah.


Duuh repot amat sekamar sama suami.


 Apa begini rasanya orang- orang yang menikah? 


"Aku mau tukar baju dulu," ungkap Khanza.


Berharap Kaisar akan langsung memahami dan membalikkan badan, namun ternyata harapannya salah. Kaisar malah mempersilakan dan duduk santai menghadap Khanza sambil menatap ke arah wanita itu.


"Aku mau ganti baju dulu," ulang Khanza mengira Kaisar akan memahami maksud ucapannya. 

__ADS_1


"Ya sudah, tukar saja. Kaisar kemudian melangkah mendekati Khanza.


Eh, loh kok malah mendekat begini? Khanza bingung. Pria itu menjulurkan tangan ke arah punggung Khanza. Tangan besarnya menyentuh resleting di punggung, menurunkan benda itu. Gesekan tangan Kaisar di punggung KHanza membuat wanita itu jadi meremang.


"Kamu mau apa?" tanya Khanza jadi seperti orang bloon.


"Bantuin kamu buka baju."


"Aku tidak memintamu membantuku loh."


"Bukankah kamu bolak balik bilang ke aku kalau kamu mau ganti baju itu maksudnya mau minta bantuan aku untuk membuka gaun ribet ini ya?" 


"Oke. Terima kasih. Aku sudah bisa melakukannya sendiri." Khanza sedikit menjauh dari Kaisar.


Kaisar mendekati jendela, ia melihat kilat di luar sana yang menjilat- jilat ke bumi. Hujan turun sangat deras. Ah, sungguh situasi yang mendukung meski hawa dingin di luar sana tidak berpengaruh apa pun bagi penikmat kamar hotel. Penghuni hotel hanya bisa menikmati dinginnya AC yang memanjakan tubuh.


Kaisar kembali menutup tirai. 

__ADS_1


Malam ini hujan seolah tak mau berhenti. 


Tubuh Khanza bergetar merasa takut dan malu, ini adalah hal pertama bagi Khanza. Dia masih juga belum membuka gaun pengantin meski resleting belakang sudah dibuka, rasanya ia ingin menukar pakaian di kamar mandi saja. Tapi mustahil itu dia lakukan, gaun bagian bawah pasti akan terseret di lantai dan mengenai lantai kamar mandi. Itu tidak baik.


Khanza membeku di tempat ketika melihat Kaisar mendekat, dan mereka pun saling bertatapan. Tangan Kaisar menyentuh tangan Khanza, menggenggam erat lalu mengecup punggung tangan Khanza dengan lembut.


"Aku menyayangimu." Bisikan lembut yang terdengar serak membuat tubuh Khanza  bergetar hebat.


Redupnya lampu kamar membuat Khanza tak bisa menatap wajah Kaisar dengan sempurna. Wajah yang jauh lebih tampak dari biasanya.


Khanza menundukkan wajah. Mungkinkah ia bisa menjadi istri seutuhnya? Mungkinkah ia akan memberikan yang terbaik untuk suami?


Udara malam semakin dingin, namun tubuh Khanza tetap terasa hangat, ditambah dekapan Kaisar yang membuat darah mereka seolah mendidih. 


Malam itu mereka melaluinya dengan penuh hasrat cinta, sangat berkesan. Hangat dan membuai.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2