Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Tak Mau Menjanda


__ADS_3

“Kamu?  Kenapa di sini?”  Beno kaget.


“Aku bekerja di perusahaan yang sama dengan kaisar.  Aku adalah sekretarisnya,” jawab Khanza tak mau berbasa- basi.


“Oh… jadi kamu sudah tahu kalau Kaisar ini orang tajir?  Suamimu yang dulu kelihatan seperti orang pinggiran jala itu aslinya adalah orang kaya,” tukas Beno dengan takjub.  “Kau beruntung dibawa kemari olehnya.  Kamu akan diperkenalkan dengan mertua asli yang tajir melintir.”


“Jangan mengambil kesimpulan sendiri!  kalau sudah selesai urusanmu dengan Kaisar, lebih baik gentian!”  Khanza yang sudah janjian dengan Kaisar pun segera menarik kursi dan duduk di depan Kaisar.


Beno tersenyum.  “Semoga kalian akan langgeng sampai anak cucu.”  Ia tidak langsung pergi, melainkan menuju meja kasir dan memesan beberapa porsi makanan yang kemudian dibungkus dan dibawa pergi.  


Suasana mendadak terasa sepi sepeninggalan Beno.  Kaisar dan Khanza masih dalam mode diam dan belum bicara.


“Kenapa kamu menyembunyikan statusmu ini?  Kamu adalah orang kaya, tapi malah menyembunyikan itu dari semua orang?” tanya Khanza yang mulai membuka pembicaraan.


“Aku kabur dari perjodohan yang papaku tentukan.  Aku sudah memiliki wanita yang aku cintai, yaitu Jihan.”


“Oh…”


Nama JIhan membuat Khanza menjadi tidak nyaman.


“Tapi kamu tidak seharusnya menyembunyikan kekayaanmu itu kan?” sambung Khanza.

__ADS_1


“Tidak ada yang perlu dipamerkan dari kekayaan.”


“Sombong untuk menunjukkan bahwa kamu juga memiliki segalanya itu wajar. Setidaknya biar semua orang tidak menghinamu.”


“Hanya kebodohan yang menjadikan seseorang itu sombong, bermula dari air mani yang hina yang kemudian akan berakhir menjadi bangkai yang busuk, yang dipastikan pada akhirnya mengenakan kain kafan, yaitu seragam yang sama bagi si miskin dan si kaya, apa yang bisa dibanggakan untuk sombong?"


Seketika Khanza terdiam.  Guru ngaji dilawan!  Noh, ilmunya mematahkan lidah Khanza untuk bicara.


Sunyi.


Keduanya membisu.


Seorang pelayan menyajikan makanan panas.


“Aku tidak punya plaing apa pun,” jawab Khanza lemah.  Suaranya lebih speerti bisikan.


“Lapar?”


Khanza menggeleng.


“Lalu kenapa suaramu lemas sekali?”  Kaisar langsung memesan makanan.

__ADS_1


“Entahlah.  Aku mendadak merasa tidak bersemangat.  Aku tidak tahu kenapa perasaan tidak semangat ini tiba- tiba muncul.”  Khanza menghela napas.   “Sampai kapan kita berstatus suami istri dan hal ini disembunyikan?”


“Apa kamu mau kita bercerai?”


“Lalu… aku menjadi janda?” lirih Khanza dengan muka memelas.


“Kamu juga tidak mau terikat olehku bukan?”


Khanza tampak bingung, maju salah, mundur pun makin salah. 


“Kita tidak bisa begini terus.  Aku memiliki masa depan sesuai pilihanku, dan itu bukan kamu.  Demikian juga kamu yang tidak mau menghabiskan hidup bersama denganku.  Jadi kita akan mencari jalan tempuh yang paling tepat,” ucap Kaisar. 


Huh, kenapa Khanza jadi merasa tidak nyaman begini saat membahas persoalan ini?  Entah sejak kapan Khanza jadi tidak tertarik.  Bahkan dia pun tidak tahu solusi apa yang harus dilakukan untuk masalah ini.


“Sebelum mengambil keputusan, aku ingin kamu ridha dengan apa pun keputusan yang aku ambil, sehingga tidak hanya mementingkan kepentingan sepihak saja,” ungkap Kaisar menatap Khanza lekat.  Sudah sekejam apa Khanza memperlakukan dirinya, namun itu tak mengubah kepribadian dalam dirinya yang memang ingin mengacu pada tuntunan agama.


“Lalu apa yang ingin kamu lakukan sekarang?” tanya Khanza, masih tak bersemangat.  Sikap pecicilannya selama ini jadi hilang entah kemana.


“Kita belum… belum saling menyentuh.”  Kaisar sedikit canggung saat mengatakannya.  “Kupikir kamu juga tidak dirugikan secara fisik dalam pernikahan ini.  Kalau semisal kita bercerai, apakah kamu setuju?  Aku akan menjalani kehidupanku bersama pilihanku, kamu pun bisa bebas menjalani harimu, juga suatu saat nanti memilih lelaki mana yang kamu mau.”


Khanza merasa semakin lemas mendengar pernyataan Kaisar.  Ia pun tidak tahu kenapa respon tubuhnya menjadi seperti ini.  “Tapi aku benar- benar tidak mau menjanda.”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2