Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Angkuh


__ADS_3

"Aku sudah yakin pasti aku yang aka diterima. Memangnya siapa yang bisa menyaingi aku?" Mona berbicara dengan gayanya yang sombong. Membanggakan diri sendiri. 


Ternyata mendengar orang berkata sombong dan meremehkan itu sangat menyakitkan. Geram Khanza ingin menyahuti. 


Seketika menjadi sepi mendengar kesombongan si Mona yang tak ada tandingan. Wajar saja dia sombong, dia memang gadis yang sempurna tanpa cacat. 


Sebenarnya hati Khanza sudah sangat panas mendengar pernyataan Mona yang jelas meremehkan, namun ia masih bisa menahan diri.


"Apa diantara kalian ada yang merasa lebih baik dari aku? Kupikir jika dilihat dari IQ, penampilan, kecantikan, kepintaran, dan lain sebagainya, aku adalah nomer satu, kalian hanya sekelas jajaran pedagang kelontongan. Hi hi hiiii!" Mona dengan angkuhnya percaya diri bahwa ucapannya mampu membuat orang lain minder dan mengakui kehebatannya.


"Hei!" Khanza sudah berdiri di hadapan Mona, berkacak pinggang. "Dasar sombong! Beluk tentu juga kamu yang kepilih. Modal cantik, pintar dan berkualitas nomer satu tapi kalau kerjaannya membanggakan diri begini, nilaimu di depan bos juga akan hancur. Jadi jangan yakin dulu kalau kamu bakalan kepilih!" Khanza emosi bukan main, telinganya sudah sangat panas sejak tadi. Kesombongan Mona benar- benar membangkitkan emosinya.


Sejurus pandangan tertuju ke arah Khanza, mereka tidak menyangka jika ada salah satu yang berani melabrak Mona.


Mona tersenyum sinis, ia berdiri dan menatap Khanza yang ukuran tubuhnya lebih rendah darinya dengan dagu sedikit terangkat. "Kenapa? Minder? Merasa tersisih? Takut sama omonganku? Ya sudahlah, terima saja. Jangan melawan takdir, nyatanya kalian semua itu memiliki kemampuan dan nilai di bawah aku. Terima kenyataan!"


"Waow... Cantik doang, tapi gobl*k! Orak di dengkul!" Khanza melayangkan kepalan tangan hendak menonjok hidung Mona. 

__ADS_1


Semuanya menjerit karena takut akan terjadi baku hantam. Namun sebelum pukulan Khanza mendarat, kepalan tangannya itu ditangkap oleh seseorang.


Khanza menoleh ke gadis berhijab yang menangkap kepalan tangannya. 


"Jangan! Ini di kantor! Biarkan Mona mengekspresikan apa pun yang ada di pikirannya. Penerimaan pegawai nanti yang akan menjadi acuan siapa yang lebih baik. Langit tidak perlu menjelaskan kepada bumi bahwa dia itu tinggi. So, bagi yang punya kemampuan apa pun itu, pasti akan terlihat oleh semesta tanpa harus dijelaskan." Gadis itu berkata dengan lembut. 


Kata- katanya berhasil membungkam semua mulut, termasuk Mona yang langsung membisu. 


Ketegangan seketika memudar ketika salah seorang wanita berpakaian elegan muncul dan berkata, "Nona Mona, mari ikut saya! Anda akan menjalani interview." Wanita itu sangat ramah, senyumnya manis.


"Apakah setelah interview kami akan menunggu hasil seleksinya besok atau bagaimana, kak?" tanya gadis berhijab.


Mona dengan angkuhnya mengibaskan rambut, lalu menoleh ke arah Khanza sambil berjalan mengikuti pegawai tadi. Mona memainkan lidahnya dari sudut bibir kiri ke sudut bibir kanan sebagai tanda mengejek.


"Dih!" Khanza muak sekali.


Gabruk!

__ADS_1


Tubuh Mona menabrak dinding akibat berjalan tidak menatap ke depan. Ia buru- buru menyelinap pergi sebelum mukanya yang memerah dipergoki semua orang, meski ia mendengar dengan jelas semua orang menertawakannya.


"Dibalas kontan tuh kesombongan!" Khanza geli. Ia kemudia kembali duduk di kursinya sambil berpikir panjang, dihina, direndahkan, diremehkan dan dicaci itu sangat menyakitkan dan membuat naik darah. Lalu bagaimana dengan Kaisar selama ini? Oh ya ampun, ke apa Khanza jadi teringat Kaisar? 


Sekitar sepuluh menit kemudian, Mona muncul. Sejurus pandangan tertuju ke wajah Mona dengan pandangan penasaran. Apakah Mona diterima? Kalau Mona diterima maka hanya akan ada satu peluang kursi lagi.


"Gimana, Mona? Diterima?" tanya salah seorang gadis.


Wajah Mona terlihat kikuk, sedikit memerah, antara malu dan kesal. Kemudian ia berlalu pergi dengan terburu- buru.


Kepergian Mona yang terlihat dalam keadaan susah itu memberikan jawaban di kepala masing- masing bahwa Mona pasti tidak diterima. 


Berikutnya, berurutan nama- nama dipanggil secara bergiliran. Gadis berhijab sudah dipanggil duluan dan saat keluar tampak ceria, dia mengaku bahwa hasil interview sedang dipertimbangkan. Gadis lain berambut pirang juga tampak harap- harap cemas karena interviewnya dalam pertimbangan.


Sedangkan sembilan gadis lain tampak kecewa karena sudah diputuskan bahwa mereka tidak diterima.


Dan Khanza? Dia dipanggil paling belakangan. Dia menjalani interview dengan lancar. Khanza berusaha bersikap ramah dan sopan, sebisa mungkin rendah hati mengingat sikap Mona yang tinggi hati kemungkinan terbaca dengan jelas oleh HRD sehingga tidak diterima. 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2