
Kaisar menarik badan gendut Beno dan mendudukkannya ke kursi kafe.
“Hei, aku di sini! Siapa yang kau cari?” tanya Kaisar menatap Beno yang sejak tadi celingukan di kafe itu.
“Heh, siapa kau?” Beno selayaknya melihat orang asing, menyentak lengan yang baru saja ditarik. Tatapannya penuh selidik ke wajah Kaisar.
“Ayolah, jangan membuatku marah dengan berpura- pura tidak mengenaliku.” Kaisar kemudian melambaikan tangan ke arah pelayan, ia memesan minum.
Beno masih asik mengawasi wajah Kaisar, sampai akhirnya ia benar- benar mengenal wajah itu.
“Kampret! Rupanya kau itu Kaisar? Aku seperti mengenal suaramu.” Beno meninju lengan kekar Kaisar. “Astaga, aku hampir tidak mengenalimu. Kau jauh terlihat berbada dengan penampilan begini. Lihatlah, kau seperti bos indomie saja. Gayamu keren sekali.” Beno menatap stelan ja di tubuh Kaisar.
Pagi tadi Beno mengabarkan bahwa dia sedang mengantar barang ke Jakarta menggunakan truk toko milik Kyai Umar. Selama ini dia bekerja di toko Kyai Umar sebagai supervisor, dan kebetulan ia bersama dengan supir berangkat ke Jakarta untuk cek barang yang akan dibawa kembali ke toko Kyai Umar.
Beno kemudian janjian dengan Kaisar dan akan bertemu di kafe itu. beno kaget dan hampir tidak mengenali Kaisar, mengira pria dengan tampilan keren itu bukanlah kaisar yang dia kenal dulu. Kaisar nyaris berbeda dari Kaisar yang dulu. Mulai dari pakaian, kulitnya yang mendadak bersih, juga caranya menyisir rambut yang basah itu juga berubah.
Kedatangan Beno ke kafe itu hanyalah untuk menemui Kaisar, ingin menyampaikan perkembangan kasus yang tempo hari.
__ADS_1
Kaisar tidak mungkin melibatkan IT atau siapa pun pegawai perusahaan karena hal itu akan membuat rahasianya terbongkar. Maka ia hanya akan bersabar menunggu kabar dari Beno tanpa harus melibatkan orang yang dia kenal.
Kalau pun dia membayar orang di luar perusahaan yang mungkin bisa menyelesaikan maslaahnya, hal itu justru akan membuat kasusnya diketahui oleh banyak pihak. Cukup Beno saja yang menyelesaikan masalahnya meski pria gendut itu lebih terkesan sembarangan dalam melaksanakan tugas.
“Ayo, katakan apa yang sebenarnya terjadi? Apa kau sudah menemukan bukti?” tanya Kasisar tak ingin memendam rasa penasaran.
“Hei, beri aku penjelasan terlebih dahulu. Apa pekerjaanmu di Jakarta saat ini sehingga kau berpenampilan seperti seorang bos besar?” Beno tak kuasa menahan rasa penasaran.
Kaisar sebenarnya tak ingin membuang waktu dengan mengobrol hal- hal tidak penting, namun ia kasian juga dengan muka memelas Beno jika rasa penasaran Beno itu tidak terjawab.
Akhirnya Kaisar menceritakan yang sebenarnya, tentang statusnya.
“Jadi aku selama ini berteman dengan seorang milyarder?” beno melongo.
“Jangan berlebihan. Sekarang katakan apa yang kau temukan? Apakah ada perkembangan?”
Beno kembali meneguk minum yang ternyata isinya sudah kosong. Ia meletakkan gelas ke meja, lalu berkata, “Aku belum menemukan pelakunya.”
__ADS_1
“Ya ampun!” Kaisar kecewa. “Jauh- jauh kau datang menemuiku dan hanya bilang bahwa kau belum menemukan dalangnya?”
“Mau bagaimana lagi? Rekaman cctv di rumah saksi utama malah sudah hilang, rusak.”
“Hilang? Maksudnya ada yang sengaja menghilangkan?”
“Aku dan Ganda sudah berusaha, hasilnya nihil.”
“Baiklah, biar aku saja sendiri yang ke sana membawa orang handal dalam bidang information and technology. Akan aku cari orang handal itu. aku salah sudah mempercayakan tugas ini kepadamu. Tidak ada yang bisa kau lakukan.”
“Jadi, kau marah padaku? Sebab aku tidak bisa diandalkan? Jangan bilang begitulah, bro. aku kan juga sudha berusaha keras,” ungkap Beno.
“Aku tahu kau memihakku. Aku hanya kecewa. Ternyata sahabatku ini tidak bisa melakukan apa- apa untukku.” Kaisar menepuk pundak Beno. “Kau boleh pulang.”
“Aku boleh minta minum satu gelas lagi? Minuman di sini enak sekali. Aku haus.”
Kaisar mengangguk saja. Sudah dua gelas diteguk habis oleh Beno, namun pria itu masih ingin minum lagi. Dasar gendut!
__ADS_1
Beno memesan satu gelas minuman lagi. Setelah menghabiskan jus alpukat, ia pun bangkit dengan tubuh setengah membungkuk karena kekenyangan. Sebelum tubuhnya berputar sembilan puluh derajat, ia berhenti dan terkejut melihat Khanza yang sudah berdiri di dekatnya. Tampilan Khanza yang fashionable, dengan rok di atas lutut dipadu blazer putih lengan panjang, membuat wanita itu tampak menawan.
Bersambung