
Glek. Saliva yang melewati leher Khanza seperti bongkahan batu. Direktur? Khanza tidak percaya itu. Bukankah baru kemarin Kaisar terlihat seperti manusia biasa yang tak punya apa- apa? Tapi jika mengingat Kaisar mampu membayar uang senilai tiga ratus juta ke Subrata, bukan mustahil perkataan pria sipit itu benar.
Kaisar membenahi dasi di lehernya dengan gaya yang menawan. Dia menekan intercom. “Paul, ke ruanganku sekarang!”
Paul adalah HRD.
Pria yang kemarin memberikan interview kepada Khanza pun muncul.
“Selamat pagi, Pak Kaisar! Ada yang bisa saya bantu?” tanya HRD dengan sopan.
Melihat sikap HRD dan seluruh manusia di ruangan yang patuh dan taat kepada Kaisar, Khanza mulai yakin bahwa sosok tampan bernama Kaisar memang menjabat sebagai direktur. Tapi apakah kondisi bisa dibalik semudah membalikkan telapak tangan? Kaisar yang dulu orang miskin berubah menjadi orang kaya dalam waktu singkat?
“Wanita ini duduk di kursiku. Tolong atur dia!” tegas Kaisar.
“Baik. Maaf sebelumnya, saya belum sempat memperkenalkan bapak dengan sekretaris baru, sebab sebelumnya bapak belum ada waktu ke kantor,” jelas Paul. “Berdasarkan hasil peninjauan dan seleksi yang sudah dijalankan, maka Nona Khanza inilah yang terpilih sebagai sekretaris Anda, pak.”
What? Sekretaris Kaisar? Jadi Khanza menjadi sekretaris suaminya sendiri? Khanza kaget bukan main. Jadi apakah ini fix bahwa Kaisar adalah bosnya?
Kaisar mengangkat alis menatap Khanza yang sedang dalam mode kaget. Pria itu tampak menimang sesuatu, namun kemudian ia melambaikan tangan ke depan wajah.
__ADS_1
“Kamu kondisikan situasi ini. Aku sedang ada tamu!” tegas Kaisar pada Paul.
Paul mengangguk. “Nona Khanza, mari ikut saya keluar!”
Khanza menelan dnegan sulit sembari berjalan mengikuti Paul keluar.
“Apa masalahmu duduk di ruangan kerja Pak Direktur?” Paul tampak seidkit kesal sambil menunjuk ke atas pintu ruangan Kaisar dengan dagunya.
Pandangan Khanza mengikuti arah pandang Paul, menatap tulisan Direktur yang ada di atas pintu. Oh jadi Khanza tadi masuk ke ruangan direktur?
“Kembalilah ke ruanganmu!” pinta Paul menunjuk pintu sebelah.
Lagi- lagi Khanza mengikuti arah pandang Paul, menatap pintu yang bersebelahan dengan pintu milik Kaisar. Di bagian atas pintu sudah tertulis ‘Sekretaris’. Ternyata itulah pintu ruangannya. Khanza salah masuk ruangan tadi. Dia bergegas memasuki ruangannya.
Khanza menghempas duduk di kursinya. Begitu banyak pertimbangan dan pertanyaan yang menyerang benaknya tentang sosok Kaisar. Kenapa tiba- tiba pria itu bisa duduk di kursi seorang direktur?
***
Khanza sedang berada di kantin kantor siang itu, menyantap pasta. Seorang gadis mengambil posisi duduk di hadapannya.
__ADS_1
“Boleh duduk?” Gadis itu tersenyum tipis.
Khanza mengangguk.
Beberapa menit keduanya disibukkan dengan santapan sampai akhirnya ia mulai angkat bicara. “Ngomong- ngomong, kamu staf lama ya di sini?”
“Iya. Aku sudah lima tahun bekerja di sini. Kamu sekretaris Pak Kaisar yang baru kan? Selamat ya! Setelah melewati seleksi ketat, akhirnya kamu terpilih.”
“Pak Kaisar itu baru berapa hari bekerja di sini? Apa sudah ada seminggu?”
Gadis itu malah tertawa. “Seminggu? Maksudmu, mulai bekerja lagi di sini ya? Oh… beliau memang sempat meninggalkan kursi kepemimpinan selama beberapa bulan. Dan kembali menduduki jabatannya itu sekitar semingguan ini.”
“Maksudnya bagaimana? Pak Kaisar itu dulunya sudah lama menjabat sebagai direktur, begitu?”
“Iya. Pak Kaisar itu kan sudah sejak lulus kuliah di Mesir, beliau langsung memegang perusahaan ini. Mungkin sudah sekitar delapan atau Sembilan tahun beliau memegang kepemimpinan di sini.”
Khanza terdiam, membeku di tempat.
“Ayahnya namanya Calvin Dirgantara. Dialah pendiri perusahaan ini, yang kemudian kepemimpinannya dipegang oleh putranya sendiri,” sambung si gadis.
__ADS_1
Khanza makin tercengang. Bisa- bisanya Khanza tidak mengetahui status Kaisar yang sebenarnya? Pria itu ternyata adalah seorang konglomerat, keturunan dari seorang pengusaha hebat.
Bersambung