
Betapa perasaan Khanza sangat muak sekali. Hidupnya selama ini berada dalam kesenangan, lalu bagaimana nasibnya saat ikut dengan Kaisar? Pun bagaimana pula keadaannya saat ia harus seatap berdua saja dengan pria itu? Ya ampun, sampai kapan keadaan ini akan berlangsung?
Ketika mobil berbelok memasuki area komplek perumahan, tampaklah anak- anak muda yang berkerumun di depan, dekat persimpangan.
Kenapa di jaman begini masih ada anak- anak muda yang kurang kerjaan begitu? Buang waktu hanya dengan berkumpul- kumpul saja.
Kaca jendela mobil yang di posisi setengah terbuka membuat para pemuda dapat melihat dengan jelas wajah- wajah di dalam mobil.
“Wadidaaaw, pengantin baru!”
“Assiiiik… Sudah halal.”
“Silakan lewat!”
Para pemuda tampak sibuk mengomentari, ada yang berlari ke pinggir jalan dan membungkukkan badan hanya untuk melambaikan tangan dan melempar senyum ke arah Kaisar dan Khanza. Tak lain Rama, anaknya pak kades.
“Silakan bersenang- senang pengantin baru!” seru Rama dengan suara berteriak.
Tak ada komentar apa pun dari Kaisar dan Khanza. Mereka tampak diam saja.
Hari itu menjadi hari paling sial bagi Khanza, ia harus menetap di rumah kecil, sempit dan sumpek. Tidak ada Ac, hanya ada kipas angin. Hidupnya terasa begitu sulit, apa lagi ia harus buang air di wc jongkok. Tidak ada wc di kamar, wc nya hanya ada satu, yaitu di dekat dapur. Rumah itu hanya ada dua kamar. Satu kamar agak lebar, sedangkan kamar satunya agak sempit.
"Aku menempati kamar ini!" Khanza memasuki kamar yang di sana ada lemari sudah berisi pakaian milik Kaisar. Di sanalah selama ini Kaisar tidur, dan sekarang Khanza mengklaim kamar itu menjadi miliknya.
Kaisar menuju ke lemari, mengeluarkan semua barang- barang miliknya, memindahkannya menuju ke kamar satunya.
__ADS_1
Bolak balik Kaisar keluar masuk kamar itu untuk memindahkan barang- barang miliknya yang tidak bisa hanya sekali angkut saja.
Ketika keempat kalinya Kaisar memasuki kamar itu, ia segera memalingkan wajah akibat memergoki Khanza yang tengah melepas baju dengan sekali tarik ke atas, menyisakan tank top hitam.
"Hei, aku belum selesai berkemas! Jangan lakukan itu di depanku!" Kaisar balik badan, keluar kamar di sisi pintu. Dasar gadis ceroboh!
"Apa yang salah? Ya sudah, ambil saja semua barang milikmu itu!" Khanza menyalakan kipas angin dengan santainya. Seolah tak ada yang salah dengan dirinya. Ia melirik ke pintu, melihat Kaisar yang masih berdiri di sisi pintu dan tak bergerak sedikit pun dari sana.
"Aku bilang ambil semua barang- barangmi, selesaikan pekerjaanmu itu, jangan membuatku menunggu!" ketus Khanza.
"Aku tidak suka kamu berpenampilan tidak sopan di hadapanku!" tegas Kaisar mengusap wajah frustasi.
"Hei, kamar ini panas sekali. Aku kepanasan. Aku tidak tel**jang. Aku pakai tank top. Lalu apa masalahmu?"
Hari itu, Kaisar menyibukkan diri dengan membuat meja untuk anak- anak mengaji. Biasanya anak- anak mengaji dengan menggunakan meja panjang, hanya satu buah meja saja. Sekarang Kaisar memanfaatkan beberapa papan di belakang rumah untuk dijadikan meja kecil- kecil. Bunyi tak tok tak tok terdengar berisik.
Sesekali Kaisar mengelap keringat yang membasuh pelipis dengan ujung lengan baju, sekali usap. Keringat benar- benar membanjiri tubuh atletisnya, mengaliri setiap lekuk badannya.
"Dari pada kamu sibuk ngurusin meja, mendingan kamu urus masalah kita. Kalau kamu tidak juga menyelidiki kebenaran masalah kita, mau sampai kapan kita begini? Aku kan juga ingin bebas darimu."
Suara ketus itu bersumber dari Khanza. Kaisar hanya melirik singkat kaki Khanza yang dibalut sendal putih elit di pintu, ia kembali sibuk dengan pekerjaan tanpa menanggapi. Hari ini Kaisar sudah lelah, dan ia tidak punya waktu lagi untuk keluar rumah dan menyelidiki hal itu. Hari sudah senja, Kaisar tidak ingin keluyuran.
"Sudah pakai baju belum?" Kaisar berkata datar.
"Bukan urusanmu!" Khanza pun berlalu masuk ke dalam. Ia memang sudah mengenakan pakaiannya, tidak lagi mengenakan tank top seperti tadi. Khanza benar- benar ingin berendam di dalam air sepanjang waktu.
__ADS_1
Menjelang jam enam, Khanza benar- benar berada di dalam kamar mandi, berkali- kali menyiram tubuhnya dengan gebyuran air dari bak. Tidak ada shower, tidak ada bath tub, yang ada hanya bak mandi saja.
Khanza kembali menyiram tubuhnya dengan air setiap kali air di kulit tubuhnya mengering. Ia sebenarnya sedikit geli dengan kondisi air bak yang tidak begitu bersih, sedikit keruh, alas bak juga warnanya cokelat sedikit berkarat. Tampak goresan sikat yang begitu kuat di setiap sudut bak, Kaisar sangat rajin membersihkan bak mandi, hanya saja bentuk dan wujud bak yang memang sudah tak layak membuat pemandangan menjadi buruk.
Setelah bosan, akhirnya Khanza keluar dari kamar mandi dengan handuk dililit ke tubuh. Rambut masih dalam keadaan basah, air mentes- netes dari rambutnya yang basah.
“Hah?” Khanza terkejut saat membuka pintu melihat Kaisar yang sudah berdiri nyender di sisi pintu dengan kedua tangan bersidekap.
Pria itu bertelanjang dada, hanya mengenakan handuk yang dililit di pinggang. Ia segera memutar arah tubuhnya hingga berbalik saat melihat penampilan Khanza yang hanya mengenakan handuk saja.
Begitu juga dengan Khanza yang langsung balik masuk ke kamar mandi dan menutup pintu.
“Woi, bisakah kamu bicara dulu kalau mau pakai kamar mandi? Jangan berdiri kayak satpam begitu di dekat pintu! Aku hanya pakai handuk ini.” Khanza menendang pintu kuat. Detik berikutnya ia meringis menahan sakit di jari- jari kaki akibat menghantam pintu keras itu.
Kaisar tidak menjawab, dia meninggalkan pintu kamar mandi dan menyelinap masuk ke kamarnya sendiri.
Sudah agak lama berteriak mengeluarkan kata- kata amarahnya, Khanza akhirnya membuka seidkit pintu untuk mengintip, melihat keluar. Ia tidak mendapati Kaisar. Pria itu sudah pergi.
Segera Khanza menghambur memasuki kamarnya.
Mendengar suara pintu kamar mandi dibuka, Kaisar sadar bahwa Khanza sudah keluar dari kamar mandi, ia pun bergantian masuk ke ruangan itu. Gilirannya untuk eksekusi di kamar kecil. namun ia terpaksa harus kaget melihat benda merah muda segi tiga yang teronggok sembarangan di lantai.
“Ya ampun, gadis ceroboh! Bisakah dia menaruh jimatnya ini di tempat yang lebih layak?” Kaisar geleng- geleng kepala.
Kasih semangat yah 🥰🥰
__ADS_1