
“Khanza!”
Suara itu…
Khanza tak asing dengan suara itu, suara yang sangat akrab di telinganya. Apakah itu suara Kaisar?
Pagi itu Khanza baru saja selesai mandi, bahkan ia baru mengenakan pakaian. Matanya sembab dan kantung matanya terlihat cekung karena semalaman kurang tidur. Dia menghabiskan sepanjang malam hanya untuk merasakan keresahan yang luar biasa.
Segera ia menarik jilbab dan memasang di kepala, kemudian menghambur keluar mencari sumber suara yang berasal dari lantai bawah.
Jantung pun berdentum kuat melihat sosok yang berdiri di lantai bawah. Kaisar. Itu benar- benar Kaisar. Pria itu berdiri di tengah- tengah ruangan dengan pakaian yang sama seperti saat terakhir kali mereka bertemu. Kepalanya mendongak menatap Khanza yang ada di atas.
Oh Tuhan…. Kaisar kembali. Dia masih bernyawa.
Dengan penuh rasa haru, Khanza menghambur menuruni anak tangga, memeluk tubuh gagah iotu erat.
Benar, ternyata benar Kaisar kembali.
Tangis Khanza pecah. Ia sesenggukan hingga tak sanggup berbicara. Pelukannya pun erat sekali seakan tak mau lepas.
Hampir saja Khanza putus asa, beranggapan bahwa Kaisar sudah pergi meninggalkannya untuk selama- lamanya. Namun dugaannya salah, Tuhan mengembalikan akisar untuknya.
__ADS_1
“Jangan tinggalkan aku lagi!” suara Khanza terisak- isak.
“Khanza, apa yang kau lakukan?”
Loh? Suara itu? kenapa suara Calvin terdengar sangat dekat sekali di telinga Khanza? Dan saat Khanza mencium aroma prfum asing, tepatnya aroma yang bersumber dari ketiak pria yang dia peluk, segera ia memundurkan tubuh dengan gelagapan.
Alamak… Dia salah peluk, rupanya mertuanya yang sejak tadi dipeluk. Kok jadi malu ya? Bagaimana mungkin ia kesulitan membedakan antara pria muda seperti Kaisar dan mertuanya sendiri?
Pria paruh baya itu menatap bingung.
Entahlah, Khanza tak tahu harus malu atau bagaimana? Ia sedang kalut sekali sampai- sampai mengira mertuanya itu adalah Kaisar. Hanya warna baju yang dikenakan Calvin saja yang sama dengan baju yang terakhir kali dipakai oleh Kaisar.
“Ya sudah. Tidak apa.”
“Aku seperti mendengar suara Kaisar memanggilku tadi.”
“Aku yang memanggilmu tadi. Aku hanya ingin mengajakmu makan. Aku cemas kalau kau mengurung diri di kamar. Takutnya malah kau duluan yang kea lam baqa karena kesedihanmu itu.”
Ya ampun, ini mertua kejam sekali ya? Nyumpahin kea lam baqa segala?
“Aku tidak berselera makan. Papa makan saja duluan.”
__ADS_1
“Sungguh? Sudah sejak kemarin kau tidak makan. Kau harus menjaga kesehatanmu, jangan sampai menjadi sakit dan akhirnya mati duluan.”
Lagi- lagi Calvin mengucapkan kata- kata kematian. Sungguh terlalu.
Melihat Khanza tak bersemangat untuk makan, akhirnya Calvin meninggalkan Khanza.
“Khanza.”
Suara itu kembali mendnegung di gendang telinga Khanza. Ya, ia mendengar suara Kaisar memanggilnya. Ah, halusinasi apa lagiini? Setelah tadi sara Calvin yang memanggil dan kedengarannya menjadi seperti suara Kaisar, sekarang apa lagi?
Khanza menuju ke ruangan depan, melihat siapa yang datang dan memanggil namanya. Tampak olehnya sosok pria berdiri di pintu. Lagi- lagi Khanza melihat Kaisar. Pria itu berdiri dengan tubuh yang tegap, mengenakan pakaian yang sama seperti saat terakhir kali mereka bertemu.
Apakah ini halusinasi lagi?
Khanza terbengong. Ia melangkah maju dengan cepat sambil terus mengawasi wajah di hadapannya dengan waspada. Apakah pria itu benar- benar Kaisar? Jangan sampai salah lihat lagi.
Khanza sudah berdiri di hadapan pria bertubuh tinggi itu, Khanza kemudian memalingkan pandangan ke arah lain. Berharap wajah di hadapannya akan berubah saat ia mengembalikan pandangan, namun ternyata wajah di hadapannya masih tetap sama ketika ia mengembalikan pandangan ke wajah pria itu.
Khanza meraba wajah pria itu, pipi, hidung, hingga bibir. Apakah ini beneran Kaisar?
Bersambung
__ADS_1