
Khanza membuang kaleng bekas minuman yang sudah dia teguk habis ke tong sampah. Ia menuruni jembatan, membeli topi di warung yang menjajakan beraneka ragam topi khas Palembang. Ia kembali memasang topi di kepala.
Kini ia menjadi pejalan kaki yang menikmati keindahan Jembatan Ampera dari kejauhan, di sekitar halaman dekat dengan Benteng Kuto Besak sambil berkuliner di perahu-perahu sampan di tepi sungai. Warung-warung itu menawarkan kopi dan minuman hangat lainnya dan yang pasti tidak pernah ketinggalan adalah aneka pempek khas Palembang.
Khanza mampir di salah satu warung, duduk di tepi Sungai Musi, di pelataran seberang Benteng dan menikmati minuman hangat serta pempek di atas salah satu warung-warung sampan yang ada. Jika suatu saat nanti Khanza meninggalkan kota itu, maka ia akan mengatakan bahwa kota Palembang melekat di hati.
Khanza kembali meneguk minum, fokusnya tertuju pada empat pria berpakaian rapi yang tengah mengadakan pembicaraan serius di meja makan. Bisa dibilang meeting. Menu makanan yang tersaji di meja mereka beraneka ragam. Mulai dari nugget, chicken katsu, steak, sushi dan masih banyak lainnya. Dan tak lupa pempek pun ada di meja itu. Sungguh luar biasa besar pengeluaran untuk satu meja makan saja. Jelas mereka adalah manusia berduit.
Mangsa. Pikir Khanza. Tapi ia yakin bahwa ia tak akan mendapatkan sesuatu yang berharga dari salah satu pria berjas rapi itu jika mengambil dompetnya, isi dompet mereka pasti tak akan lebih dati sekedar kartu- kartu yang bahkan Khanza pun yak bisa menggunakannya. Ini jaman elektronik, semua serba menggunakan kartu. Hanya saja, Khanza tertarik pada sebuah jam tangan milik salah seorang pria. Jam itu mahal sekali.
Khanza menurunkan topi hingga menutup sebagian wajah saat ia di posisi menunduk.
__ADS_1
Tepat ketika empat pria yang tengah meeting itu bangkit berdiri sesaat setelah bersalaman, Khanza pun ikutan beraksi. Ia secepatnya membayar tagihan, kemudian berjalan mengikuti dua pria yang berjalan menuju ke arah parkiran mobil sebelah kanan, sedang dua lainnya mengarah ke hotel yang berlawanan arah.
Bruk!
Khanza sengaja menabrak salah satu pria berjas hitam yang berjalan paling belakang, pun ia menabrak dari arah belakang.
Hanya dalam hitungan detik, jam tangan gold itu sudah berpindah tangan.
Tak perlu ditanya bagaimana Khanza dengan mudah melepas jam itu dan memindahkan ke tangannya. Ia sudah sangat paham sekali cara melepas jam merk rolex yang berkelas itu.
Waw... Khanza akan mendapat uang banyak setelah ini.
__ADS_1
"Maaf!" ucap Khanza sambil menundukkan kepalanya yang memang sudah dalam keadaan mengenakan topi.
Pria kurus jangkung beraroma wangi itu hanya diam sambil melambaikan tangan, memberi isyarat bahwa proses tabrakan itu tak jadi masalah baginya.
Khanza segera berlalu pergi, langkahnya lebar.
"Saya permisi, Tuan. Saya duluan!" Pria jangkung itu hendak masuk ke mobil, berpamitan pada temannya yang mengenakan jas cokelat.
Pria jas cokelat tersenyum. Saat pria jangkung hendak melihat jam di tangan untuk memastikan waktu, ia terkejut karena jak sudah tidak lagi melingkar di pergelangan tangannya.
"Hah? Jam ku!" Pria jangkung bingung. Kebiasaannya memang sebentar- sebentar melihat jam, dan beberapa menit yang lalu saat meeting usai, ia masih melihat jam itu ada di tangannya, tapi kini sudah tak ada lagi. Kejanggalan terjadi ketika ia ditabrak dari arah belakang. Pandangannya langsung tertuju ke arah wanita yang tadi menubruknya, jarak sudah agak jauh. "Itu... Wanita itu pasti yang mengambil jam milikku!"
__ADS_1
Pria jas cokelat di sisinya segera melompat, menghambur mengejar Khanza dengan kecepatan lari yang luar biasa.
Bersambung