Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Minta Rujuk?


__ADS_3

Seketika Khanza terdiam.  Pertanyaan itu mengena di jantungnya.  Rasanya menusuk.  Iya, perasaan Khanza memang sudah berubah, bahkan ia lupa kapan tepatnya.  Tapi ia adalah wanita yang buruk, yang tidak pantas untuk Kaisar.  Yang pernah dikatain wanita pecinta harta oleh kaisar.  Pandangan itu cukup menyakitkan untuknya disaat ia merasakan cinta yang tulus untuk Kaisar.


Biarkanlah ketulusan itu seperti ini adanya, tidak perlu dibalas.  Biarkan Kaisar menggantikan posisinya dengan wanita yang lebih baik, bukan dirinya.  Andaikan ia mengaku cintanya kepada Kaisar, ketulusan itu rasanya malah berkurang.


Tatapan mata Khanza tertuju lekat ke mata Kaisar yang saat itu tengah menatapnya.  Keramaian di sekeliling seakan tak terdengar lagi di telinganya.  Ia merasa sekitarnya mendadak sepi, hanya ada Khanza dan Kaisar saja di sana.


Tak!


Kaisar menjentikkan jemarinya ke depan wajah Khanza.  Membuat Khanza terkejut, lamunannya buyar.  Ia terlalu bersemangat menatap wajah tampan Kaisar, yang mungkin esok ia tak akan bisa menatapnya lagi.

__ADS_1


“Kenapa tidak menjawabku?  Malah menatapku seperti itu?” tanya Kaisar.


“Aku sedang berpikir, bahwa pertanyaanmu itu konyol sekali. Hatiku ini sulit dibalik- balikkan.  Bukan karena kamu sekarang ketahuan kaya, lalu aku akan jatuh cinta kepadamu karena harta.  Tidak.  Entah kenapa aku tidak tergiur oleh semua itu.  Justru aku hanya akan bisa hidup bersama dengan orang yang benar- benar aku cintai, bukan karena cinta harta.  Dan kamu tidak termasuk ke dalamnya.”  Khanza tersenyum simpul.  “Kenapa kamu bertanya begitu padaku, hm?  Kamu mau mengujiku?  Kamu mau tahu apakah aku akan mengemis cinta padamu, begitu?”


Kaisar menghela napas.  


“Kaisar, aku perlu meluruskan kepadamu, bahwa kedatangan ayahku ke pesta pertunanganmu dengan Nana waktu itu bukan atas kehendakku.  Kalau aku menghendaki pertunanganmu batal, aku berharap semua orang mengakuiku sebagai istrimu, berharap kamu mempertahankan aku, maka sampai detik ini seharusnya aku masih di kantormu.  Aku juga tidak akan berhenti memburumu.  Tapi tidak, Kaisar.  Aku terima keputusanmu untuk berpisah denganku.  Kita sudah selesai.  Okey?”  Senyum Khanza kembali melebar.  Dia benar- benar terlihat sebagai wanita ceria, seperti tanpa masalah.  Siapa yang tahu bahwa di dalam hatinya tertanam harapan besar untuk dapat mencintai dan menyayangi Kaisar?  Siapa yang tahu kalau di dalam hatinya tertanam perasaan untuk dapat memeluk pria itu?


Khanza tampak biasa saja, padahal jantungnya berdetak sangat keras.  Pertanyaan apa itu?  Kaisar minta rujuk?

__ADS_1


“Hati kamu itu ada Jihan, jangan berpaling dari itu.  Jangan mencoba untuk memperbaiki keadaan hanya karena kamu mendapat tausiah dari Jihan untuk memperbaiki rumah tanggamu yang sudah hancur.”


“Aku sama sekali tidak mendapat nasihat apa pun dari Jihan.  Ini murni keinginanku.”


“Oh ya?  Lucu sekali.  Baru kemarin kamu bilang bahwa aku ini gadis matre, dan sekarang kamu mau rujuk denganku. Ini aneh dan tidak masuk akal. Aku merasa seperti sedang dites atau malah menjalani sebuah ujian. Jangan bercanda, Kaisar."


"Aku tidak punya banyak waktu untuk melakukan uji coba begini."


"Simpan baik- baik kata- katamu tadi. Pulang dan renungkan ucapanmu itu, kamu tidak sedang berbicara pada wanita yang kamu cintai, kamu hanya sedang ingin menguji kemampuanmu, apakah kamu mampu mempertahankan rumah tanggamu, atau mampukah kamu mengubah keburukan seorang Khanza menjadi lebih baik? Berhenti berpikir tentang tantangan itu, kamu memiliki masa depan yang baik. Aku pun ingin hidup sendiri dengan kebebasanku saat ini." Khanza melangkah pergi. Meninggalkan Kaisar yang memaku di tempat. 

__ADS_1


Khanza memasuki mobilnya, menyetir dengan kecepatan tinggi meninggalkan halaman club. 


Bersambung


__ADS_2