
"Namanya Khanza, sekretaris direktur yang baru." HRD memperkenalkan Khanza di hadapan para pegawai yang sedang duduk manis di kursi masing- masing. Sedikitnya ada sembilan meja di ruangan administrasi. Mereka adalah staf penting.
Khanze yang terlihat segar dan bugar serta berpenampilan fashionable itu sedikit membungkukkan badan dan melempar senyum. Benar- benar tampak bahagia di hari pertama bekerja.
Pandangannya melayang ke seisi staf yang sebagian adalah perempuan.
Meski Khanza sudah memakai pakaian ala kantoran yang menurutnya cantik, ternyata staf lainnya justru lebih berkelas darinya. Sepertinya Khanza butuh modal untuk membeli pakaian, tas, sepatu dan lain sebagainya untuk menyetarakan.
"Silakan Nona Khanza ke ruangan untuk memulai pekerjaan Anda." HRD mempersilakan.
"Baik, terima kasih, Pak." Khanza menganggukkan kepala fan melenggang meninggalkan ruangan itu untuk menuju ke ruangannya. Tak lain ruangan sekretaris.
Sesaat setelah lulus interview kemarin, Khanza sudah ditunjukkan oleh HRD posisi ruangannya, namun ia belum sempat memasukinya.
Seketika Khanza tersenyum puas melihat seisi ruangan yang dia masuki itu, luas, asri, nyaman, mewah dan lengkap. Seistimewa ini ruangan sekretaris? Ada kulkas pendingin minuman, ada satu set sofa untuk menerima tamu yang hanya berbatasan kaca dengan ruang duduk kerjanya. Dan yang istimewanya lagi, ada kamar mandi pribadi dan kamar pribadi yang mrwah pula di ruangan itu. Sungguh istimewa.
__ADS_1
Khanza, kau benar- benar beruntung bisa bekerja di sini. Hidupmu sangat istimewa.
Setelah meneliti kemewahan ruangan itu, Khanza duduk di kursi besar dan memutar- mutarnya dengan nyaman. Sebuah laptop dan tumpukan kertas tersusun rapi di meja depannya.
Aroma wangi ruangan sangat menggoda, membuat Khanza betah bekerja di sana.
Klek. Pintu kokoh itu terbuka dan tiga orang pria memasuki ruangan. Mereka berpenampilan rapi, masing- masing mengenakan stelan jas.
Khanza heran kenapa ada orang masuk tanpa mengetuk pintu ruangannya terlebih dahulu. Dan yang lebih membuatnya semakin kaget bercampur heran, sosok manusia yang memasuki ruangannya itu adalah Kaisar, pria yang dulu sering mengenakan baju koko atau sekedar kaus biasa dan duduk di balik meja kecil untuk mengajar anak- anak mengaji. Pria yang dulu sering berpenampilan sederhana dengan rambut dibelah tengah.
Kaisar menatap Khanza seperti sedang menatap orang asing. Pria itu berkata, “Kenapa kamu duduk di kursiku?”
Khanza sontak bangkit berdiri dan menatap kursi mahal yang barus aja dia duduki. Betapa banyak pertanyaan yang menyerang benaknya, tentang kenapa Kaisar mengakui kursi itu sebagai kursinya. Tentang ruangan yang ditunjuk HRD bahwa seharusnya ruangan itu adalah ruangan milik Khanza. Lalu kenapa Kaisar mengakui kalau kursi itu miliknya?
Ah entahlah, banyak pertanyaan lain yang menari di kepala Khanza. Dan anehnya mulut Khanza seakan terbungkam begitu saja, sama sekali tidak menyahuti. Tampilan Kaisar yang mendominasi bak bos ditambah ekspresi dan cara bicaranya yang berwibawa benar- benar telah mematahkan keberaniannya. Khanza seperti tidak sedang berbicara dengan Kaisar, tapi orang asing.
__ADS_1
Kaisar memutari meja, tepat melewati Khanza dan duduk di kursinya.
“Silakan duduk!” titah Kaisar pada pria orang lainnya.
Khanza benar- benar dibuat bengong dan bingung. Ia tiba- tiba merasa seperti orang bod*h sekarang. Berdiri diam saja di sana. Hingga akhirnya rasa penasaran membuatnya mengajukan pertanyaan.
“Permisi, sebentar saya ijin bertanya! Kenapa kursi saya malah diduduki olehmu? Kamu siapa?”
Kaisar dan mengangkat wajah, menatap Khanza sambil mengelus singkat dagunya. Dia tidak menjawab, malah menyederkan punggung ke kursi. Tatapannya fokus ke wajah Khanza.
Dua pria yang duduk di hadapan Kaisar malah tertawa.
“Hei, aku tanya kamu siapa di sini kenapa mengusir aku dari kursiku sendiri?” Khanza kehilangan kesabaran melihat Kaisar yang malah seperti sedang meledeknya itu. “Tolong menyingkir!”
“Nona, Pak Kaisar adalah direktur di sini. Anda siapa?” Salah seorang pria yang duduk di hadapan Kaisar dengan mata sipit khas suku Cina itu masih tampak tersenyum.
__ADS_1
Bersambung