Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Kartu Undangan


__ADS_3

Obrolan mereka terus berlanjut hingga akhirnya Kaisar muncul.  Pria berjas hitam itu menghampiri Beno.  Tanpa basa- basi ia berkata, “Jadi kalian ingin mencari pekerjaan padaku, begitu?  Maunya bagian apa sekarang?”


Sebelumnya, Beno dan Ganda menelepon dan mengaku ingin mendapatkan pekerjaan yang layak.


“Serius?  Kau bertanya kami ingin di bagian apa?” tanya Beno.


“Tentu.”


Beno menatap Ganda dengan senyum kebahagiaan.  “Kalau begitu, bisakah aku menduduki kursi manager?”


“Kau yakin mampu menangani beban dan tanggung jawab di bagian itu?  beban sebagai manager tidaklah mudah.”


Beno mengernyit sambil garuk kepala.  “Tapi kan kau bisa membimbingku.”


“Aku tidak bisa membimbing karena pekerjaanku pun padat.  Aku harus menempatkan orang di posisi manager jika dia mampu.  Begini saja, kau bisa duduk di kursi asisten manager supaya kau harus bisa membaca situasi dan pekerjaan di pabrik ini selama tiga bulan.  Setelah kau merasa mampu, maka kau boleh menduduki kursi manager.  Bagaimana?”


“Boleh boleh.  Aku setuju sekali.”  Beno girang bukan main.  “Oh ya gajinya berapa?”


“Sembilan juta untuk asisten manager.”


“Waaah… Setuju.  Setelah jadi manager, pasti besar gajinya.”  Beno membayangkan setumpuk uang.

__ADS_1


“Awalnya dua belas juta, nanti akan naik seiring dengan potensi dan dedikasi serta prestasi,” jawab Kaisar. 


“Dan aku?  Bisakah aku ditempatkan di bagian manager?” tanya Ganda


Kaisar mengulas senyum tipis.  “Aku tahu kemampuanmu.  Pendidikanmu juga sesuai.  Lulusan S2.  Kau bisa duduk di kursi manager.  Aku sudah atur semuanya.  Kalian masuklah.  Akan ada HRD yang mengarahkan.  HRD sudah menunggu di dalam.  Katakan kata kunci Tuan Kaisar Tampan untuk security.”  Kaisar menunjuk Security yang berjaga di dekat pintu masuk. Security akan langsung tahu bahwa kalian adalah dua orang kepercayaanku yang diutus kemari, security akan langsung mengantar kalian ke ruangan HRD.”


'‘Thanks, bro!”  Ganda senang bukan main.  Ia mendapatkan pekerjaan yang layak.


“Ya sudah, aku dan Khanza mesti harus segera pergi dari sini.  Kami ada urusan.”  Kaisar melenggang menuju ke mobil diikuti oleh Khanza.


Situasi itu seakan membuat orang yang melihat bahwa Kaisar dan Khanza adalah pasangan yang serasi.


Tepat saat itu, sebuah mobil pengantar barang berupa alat tulis untuk keperluan kantor pun masuk, melintas tak jauh dari posisi Kaisar.  Pria di samping kemudi turun, ia meneguk air mineral karena haus.  Dia adalah pemilik toko penyedia alat tulis, biasanya ia memang tak pernah ikut supir mengantar barang ke perusahaan yang membutuhkan, namun kali ini ia sedang ada keperluan sehingga sekalian ikut supir.


Iya, saat ini Subrata tengah melihat kartu yang bertuliskan nama Kaisar lengkap dengan wajah tampan menantunya.


Kaisar & Nana.


Dua nama itu tertera dengan ukiran indah.


“Tukar cincin?” gumam Subrata menatap kartu di tangannya. "Ini sungguhan wajah Kaisar, kenapa bertunangan?" Subrata melihat Kaisar yang kebetulan melangkah memasuki mobil, jarak mereka agak jauh. Kaisar tidak sendiri, ia bersama dengan Khanza.

__ADS_1


Dalam keadaan jendela mobil yang setengah terbuka, Subrata dapat melihat Kaisar dan Khanza duduk bersebelahan di mobil yang merangkak keluar gerbang.


"Tunggu! Tunggu!" Subrata berlari mengejar. Ia sampai ke luar gerbang namun tidak berhasil menjangkau.


Subrata kembali berlari masuk, menghampiri security.


"Pak, tadi orang ini kemari. Dia itu siapa? Aku harus bertemu dengannya." Subrata menunjukkan kartu undangan yang dia temukan. 


"Oh itu Pak Kaisar, direktur di perusahaan ini. Kebetulan hari ini staf staf pabrik di sini juga menghadiri acara pertunangan itu, Pak. Ada apa, Pak? Ada pesan yang bisa saya sampaikan?"


"Tunggu tunggu, ini maksudku. Ini direktur?" Subrata ingin memastikan.


"Iya, itu pak Kaisar, direktur Orvena Groups. Itu kartu undangan dari beliau. Bapak diundang?"


Muka Subrata seperti orang linglung jadinya. 


"Toko Bapak yang memasok barang ke perusahaan kami kan?"


Tak menjawab, Subrata meninggalkan mobil miliknya yang tengah menurunkan barang. Dia langsung naik taksi dan pergi. Tujuannya adalah alamat yang disebutkan di kartu undangan.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2