
“Khanza?” Subrata terkejut melihat kepulangan Khanza. Putrinya itu menggeret koper melewati ruangan utama.
“Kanapa ayah melihatku speerti melihat hantu begitu? Anaknya pulang bukannya disambut dengan senyum, pelukan atau apa pun itu. ini malah disambut dengan tatapan mata menakutkan.” Khanza bersikap seolah- olah tidak terjadi apa- apa.
“Khanza, kau pergi dari rumah dengan niat ingin mencari pekerjaan, lalu sekarang kau kembali ke rumah setelah pekerjaan itu kau dapatkan. Apa- apaan ini?”
“Aku sudah resign.” Khanza melepas kopernya, melipat tangan di dada.
“Apa? Resign? Kenapa? Dan kau meninggalkan Kaisar? Bagaimana hubunganmu dengan pria itu sekarang?”
“Peduli apa ayah dengan semua itu? sejak dulu ayah tidak menyukai Kaisar bukan? Dia direstui menjadi suamiku hanya sebatas untuk dihina saja. Sama seperti aku yang juga tidak mengharapkan dia waktu itu. sudahlah, dia memang lebih baik menjauh dari manusia- manusia seperti kita. Aku sadar diri. Aku tidak pantas untuk dia. So, jangan mengharapkan dia menjadi bagian keluarga kita. Aku sudah cukup paham bahwa dia harus mendapatkan yang pantas, dan itu bukan wanita seperti aku. Lumpur. Hina. Kacau.” Khanza kembali melangkah, ia menaiki anak tangga menuju ke lantai atas.
“Bi Imar, bawa koperku ke kamar ya!” titah Khanza pada Bi Imar yang tengah menyapu lantai.
__ADS_1
“Eeeh… Non Khanza balik lagi. Senengnya!” Bi Imar tertawa lebar memperlihatkan barisan giginya yang maju mundur. Ia menghambur menuju ke anak tangga. “Duh, bakalan nambah nih kerjaan! Mana Non Khanza itu galak lagi.”
Bisikan itu terdengar oleh telinga Khanza. Sontak Khanza menoleh. “Masak aku galak Bi?”
Bi Imar terkejut, kenapa Khanza bisa mendengar perkataannya? Rupanya ia keceplosan, mengira ucapan hanya di hati, tapi malah melesat keluar. “Eeh… maksud saya bukan begitu, Non.”
“Trus apa?” Mata Khanza melebar.
“Nah, kan memang galak kalau kayak gitu. Hehe…” Bi Imar menghambur pergi. “Saya jemput kopernya Non.”
“Khanza!”
Khanza yang baru saja mengangkat ujung bajunya hendak mandi pun batal. Ia kembali menurunkan baju sambil menoleh. Pintu kamarnya dibuka, Subrata muncul.
__ADS_1
“Ada apa, ayah? Mau bicara soal Kaisar lagi?” Ekspresi Khanza tampak jengah. “Aku tidak ingin membahas itu lagi. Aku dan Kaisar sudah selesai."
"Ayolah, Khanza. Jangan pesimis. Kamu mundur dari Kaisar hanya karena merasa sudah merendahkan dia. Ini kebodohan namanya."
"Ayah pikir aku akan maju dan terus berjuang mengatakan kepadanya bahwa aku sangat membutuhkannya, aku mencintainya dan aku tidak bisa hidup tanpanya, begitu? Apakah itu pantas aku katakan setelah apa yang aku lakukan padanya? Sekali pun aku benar- benar mencintainya, maka aku tidak akan pernah mengakuinya. Tulus itu tidak butuh balasan."
"Apa yang kau bicarakan? Saat ini kita sedang membutuhkan suntikan dana. Dan Kaisar memiliki semua itu."
"Berhenti berbicara mengenai uang, uang dan uang. Cukuplah hidup seperti ini. Sudahlah, ayah tidak akan pernah bisa mengerti."
"Lelucon apa ini? Ayah memang tidak mengerti dengan perkataanmu." Subrata makin kesal.
"Ya, ayah tidak akan pernah mengerti. Sebab ayah tidak pernah bisa tulus. Sudahlah. Tidak perlu kujelaskan." Khanza menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi, meninggalkan Subrata yang menggerutu panjang lebar.
__ADS_1
Air shower yang dinyalakan dan mengguyur kepala Khanza membuatnya tak bisa mendengar apa yang diserukan ayahnya. Kepalanya terasa berisik oleh pukulan air yang jatuh dari shower.
***