Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Santai


__ADS_3

Pagi itu Khanza duduk di depan meja rias setelah mandi.  Ia hanya mengenakan kimono warna putih.  Dengingan suara hair dryer terdengar cukup keras saat Khanza mengeringkan rambutnya setelah keramas.  Tubuh Khanza terasa ngilu dan tak nyaman, sepertinya Kaisar terlalu bersemangat tadi malam.  


Wajah Khanza selalu saja memerah setiap kali mengenang momen itu.


Klek.  


Pintu kamar mandi dibuka dan Kaisar menyembul keluar dari kamar itu, hanya berselang lima menit sejak Khanza keluar duluan tadi.  Mereka mandi bersama.  Beginilah kalau pengantin baru, semuanya dinikmati bersama- sama.  


Khanza menatap Kaisar yang berjalan menuju ke arah lemari.  Dengan hanya menggunakan handuk dililit di pinggang, tubuh yang masih dalam keadaan agak basah itu penuh percaya diri berdiri di depan lemari.  Kaisar mencari baju. 


“Aku harus memakai baju apa sekarang?”  Ia memilih- milih kemeja yang menggantung di lemari besar itu.


“Kenapa harus bingung?”


“Ini adalah hari pertama aku terlihat sebagai seorang suami.  Maka aku harus mencari pakaian yang berbeda.”


“Oh Tuhan, ada- ada saja.”  Khanza meletakkan hair dryer.  “Biar aku carikan.”


Kaisar sedikit menggeser langkah, menyingkir dari depan lemari, kedua tangannya berkacak pinggang.


Khanza pun mulai memilih kemeja.  “Apakah kamu akan berangkat ke kantor?”


“Ah, tidak.  Sehari ini aku tidak akan bekerja.  Aku masih sangat lelah.  Pekerjaanku tadi malam jauh lebih menyita tenaga dari pada pekerjaan di kantor.”  


Khanza menyikut perut Kaisar yang keras.  Efeknya ternyata fatal.  Awalnya hanya berharap memberi sedikit hukuman untuk kaisar dengan menyikut perut keras itu, tapi ternyata simpul handuk malah terlepas dan benda yang disebut dengan handuk itu teronggok di lantai.


“Ya ampun!”  Khanza membelalak.  Meski belalai itu tidak asing baginya, namun tetap saja di awal begini rasanya masih canggung.

__ADS_1


“Apa yang kamu lakukan?”  Kaisar santai sekali.


Khanza terkejut saat menyadari dirinya ternyata tengah menutup bagian itu dengan kedua tangannya. 


Eh?  Ini sama saja dia memegangi.  Khanza akhirnya menjerit dan balik badan.  Duuuh… ada – ada saja.  


“Kamu mau lagi?”  Kaisar malah menggoda istrinya.


“Kamu cari baju sendiri sajalah.”  Khanza bergegas menjauhi Kaisar dan mengenakan pakaian miliknya.  


Hari pertama menjadi sepasang suami istri benar- benar membuat dunia mereka menjadi penuh warna, juga unik.  Bahkan ketika keduanya bersama- sama menuju ke ruang makan, masih terlihat jelas rona asmara di wajah- wajah keduanya.


Hanya saja, Kaisar tampak jauh lebih rileks, sedangkan Khanza memang kelihatan kasmaran.  Senyum sipu yang sesekali terukir di wajah Khanza, menjadi saksi akan kebahagiaannya.


Calvin sudah lebih dulu duduk di meja makan.  “Bagaimana malam kalian?”


“Baik,” jawab kaisar rileks.


Tatapan Calvin tertuju ke arah jilbab yang dikenakan oleh Khanza.  “Kau terlihat baik sekali dengan penampilanmu itu.  tapi aku tidak pernah melihat model jilbab yang ujungnya diselipkan ke dagu begitu.  Model baru ya?”


Khanza terkesiap.  Soantak melirik ke kaca, ya ampun, jilbabnya kacau sekali.  


“Ini tadi Kaisar yang membantu memasang, tapi entah kenapa malah jadi kelihatan seperti ini.”  Khanza merapikan jilbabnya.  Membenarkan posisinya.


“Baru memulai memang begitu.  Lama- kelamaan akan lebih terbiasa.  Kalau sudah terbiasa, pasti kelihatan rapi,” sahut Calvin sambil mengunyah nugeat.


Pagi ini mereka sarapan nugeat goreng yang dihias dengan mayones dan saus.  Rasanya gurih dan lezat.  Nikmat sekali.

__ADS_1


“Kalian baru memulai apa itu yang namanya pernikahan.  Mulailah semuanya dengan keindahan.  Menikah adalah proses menerima kekurangan yang tidak kalian temui ketika sebelum menikah.  Menikah membutuhkan perjuangan panjang dan lama,” ucap Calvin sambil makan.  “Jangan terlalu banyak tuntutan pada pasangan, sebab inilah pemicu kehancuran rumah tangga.  Contohnya papa.  Papa sudah berpengalaman, bagaimana akhirnya rumah tangga itu hancur bukan oleh siapa- siapa, tapi oleh dua orang yang menjadi pasangan itu sendiri. terlalu banyak menuntut pasangan.  Semua tentang pasangan adalah kurang.  Jika kau ingin istrimu menjadi seperti Khadijjah, maka jadilah kau seperti nabi Muhammad untuknya.  Jangan menuntut pasanganmu menjadi wanita salihah, jika kau pun tidak menjadi suami yang salih.”


Kaisar tersenyum.  Papanya benar- benar jauh berubah sekarang.  Dia sudah bisa memberikan siraman rohani.  Meski dia sendiri pun tidak sanggup menjadi ayah yang baik, namun perkataannya kini memberikan petunjuk yang baik.


Nasihat itu bisa diterima dari siapa saja, tidak perlu melihat siapa yang memberikan nasihat, tapi lihatlah apa yang disampaikan.


Calvin bangkit berdiri, menyudahi makan setelah meneguk kopi panas di cangkir kecil.  Pria berpenampilan rapi dnegan stelan jas hitam itu melangkah keluar sambil berkata, “Papa akan ke Korea.  Ini akan berangkat ke bandara.”


Kaisar hanya perlu mendengarkan saja.  Calvin tidak membutuhkan persetujuan atau pun pendapatnya.  Pria itu hanya menginformasikan saja supaya putranya mengetahui keberadaannya.


“Duh, aku kenapa jadi tidak nyaman begini?”  Khanza mengusap- usap dadanya yang deg- degan.  “Berhadapan dengan mertua ternyata tidak sesantai yang aku duga.  Ini lebih menegangkan dari nonton film Fast and Furious.”


“Lama- lama juga akan terbiasa.  Papa itu casingnya memang menegangkan.”  Kaisar santai saja.


“Ini bukan masalah casing.  Seperti apa pun casingnya, tetap saja status mertua itu bikin gagap.”


“Itu perasaanmu saja.”


“Bisakah kamu menanggapi dengan lebih serius?”


“Ini jauh lebih serius.”  Kaisar mencium pipi Khanza dan berlalu pergi.


“Ya ampun, Kaisar benar- benar kelewatan!  Sesantai itu dia.” 


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2