Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Satu Kamar


__ADS_3

Bruk!  Kaisar meletakkan tas miliknya ke kursi dekat kasur.  


Ekspresi Khanza yang tegang berubah rileks saat melihat hal itu.  Ternyata ia terlalu berambisi untuk menuduh Kaisar berbuat yang macam- macam.


“Aku masih waras, jadi tidak akan mungkin aku tertarik padamu.”  Kaisar, mengambil handuk dan pakaian lengkap.  Kemudian masuk ke kamar mandi.  Dia memang pria pembersih, selalu mandi setiap kali hendak tidur.  Bahkan mandinya pun tak cukup hanya lima belas menit.  Begitulah kebiasaannya.  Kecuali jika ia terburu- buru, maka dia tidak akan berlama- lama berada di kamar mandi.


Dua puluh menit kemudian, Kaisar keluar dari kamar mandi sudah dalam keadaan mengenakan pakaian lengkap.


Khanza tidak tidur, gadis itu di posisi menelungkup sambil mainan hp.  Fokus matanya tertuju ke arah hp.  Kedua kakinya menjuntai ke atas dan diayun- ayunkan.


“Kenapa kamu masuk kamarku?  Bukankah lebih baik kamu tidur di kamar lain saja?  Ingat, ini kamarku, kamar Khanza, bukan kamar istrimu!” ucap Khanza sambil terus fokus menatap ke arah hp.


Kaisar mengelap rambutnya yang basah dengan handuk.  Menguyel- uyel kepalanya yang baru saja keramas.  


 “Bukannya kamu membenciku?  Lalu kenapa memilih untuk amsuk kamar ini?  Sepasang suami istri itu tidak perlu berada di dalam satu kamar saat menjadi pengantin baru.  Tidak ada ketentuan yang mewajibkannya bukan? Apa lagi kita hanya sepasang suami istri pura- pura, tidak ada ketentuan itu!” sambung Khanza lagi.


Tak mendapat tanggapan, Khanza menoleh ke arah Kaisar.  Pria itu terlihat sedang meneguk air mineral melalui botol yang tadinya masih dalam keadaan terbungkus rapi, artinya air dalam kondisi steril karena amsih utuh.


“Heh, aku bicara denganmu!  Dengar tidak?” gertak Khanza.

__ADS_1


Kaisar mendekati kasur yang ditiduri Khanza, pria itu menarik satu bantal kemudian melemparnya ke lantai.  Ia mematikan lamu dan membiarkan lampu tidur tetap menyala, kemudian merebahkan tubuh di lantai.


Blug!


Bantal guling menimpa wajah Kaisar dengan keras, membuat pria itu terkejut dan langsung menyingkirkan benda itu dari wajahnya.  Ia menatap pelaku yang kini duduk di kasur menatapnya dengan alis terangkat.


“Etikamu menunjukkan betapa minusnya otakmu itu!” kesal Kaisar sambil menyentak bantal guling dan melemparnya jauh.  “Sepertinya dosenmu terlalu sibuk mendeklamasikan ilmu dunia, sampai dia lupa cara mendidik mahasiswanya supaya memiliki moral.”


“Lupakan soal moral.  Aku mempermaslaahkan keberadaanmu di sini.  Lebih baik kamu pergi, jangan ada di kamarku!” ketus Khanza.


“Apakah menurutmu tidak akan ada pertanyaan dari ayahmu seandainya aku memilih kamar lain?  Pikirkan itu!” tukas Kaisar.  “Bagaimana kalau mereka curiga bahwa ada yang aneh dengan pernikahan kita ini?” 


“Apa pun yang kita perbuat, pandangan mereka terhadap kita tidak akan berubah.  Sekarang yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana caranya untuk mencari bukti bahwa kita tidak bersalah.  Itu saja!” Kaisar kemudian memejamkan mata.


Khanza sebenarnya masih ingin membantah perkataan Kaisar, tapi setelah dipikir- pikir, ucapan Kaisar ada benarnya juga.


“Kamu tidak mau keluar dar kamar ini bukan karena modus ingin melihat posisiku tidur kan?” Khanza menatap mata Kaisar yang terpejam.


Pria itu tidak menanggapi.

__ADS_1


“Kudengar kamu adalah guru mengaji, sedikitnya pasti mengerti dengan ilmu agama.  Menyaksikan wanita sepertiku yang bukan mahram tentu berdosa, lalu kenapa kamu mau berada di dalam kamarku ini?  Kamu seharusnya lebih memegang teguh imanmu itu kan ketimbang takut pada pendapat orang tuaku?”


“Berhentilah berbicara!  Aku mengantuk!”  Kaisar mengubah posisi tidur menjadi miring, membelakangi Kaisar.


“Trenyata kamu laki- laki munafik!  Di hadapan semua orang berperangai sebagai guru mengaji, tapi rela menggadaikan imanmu dengan tidur satu kamar bersama wanita yang bukan mahram.  Menjijikkan!”  Khanza membanting tubuhnya ke kasur.


Kaisar tampak tak bergerak dari posisinya, tetap terpejam dengan tenang. Dia tidak perlu menjelaskan kepada Khanza tentang siapa dirinya, baginya pendapat Khanza tentang dirinya adalah tidak penting sama sekali. Terserah wanita itu berpikiran apa pun tentangnya.


Sepuluh menit berlalu, sunyi. Nyaman sekali rasanya saat tidak mendengar suara Khanza, Kaisar damai. 


Deringan ponsel mengejutkan Khanza yang baru beberapa detik masuk ke alam mimpi, ia kembali terjaga hingga kepalanya menjadi pusing seketika. Baru tertidur sudah kembali terjaga.


Sumber suara keras itu berasal dari hp siapa? Nada deringnya asing, tentunya bukan hp milik Khanza. Hp milik Kaisar Tergeletak di sisi bantal pria itu, juga tak berdering. Lalu hp siapa lagi yang berdering? Sumber suaranya berasal dari bawah bantal milik Kaisar.


Pria yang terpejam itu kemudian terjaga dan meraba ke bawah bantal. Menarik hp, kemudian menggeser tombol hijau sesaat setelah tersenyum menatap id penelepon dengan nama yang tertulis My Baby.


Tulisan itu terlihat jelas oleh mata Khanza melalui posisinya yang berbaring miring menghadap Kaiar.  Ia sengaja berbaring menghadap Kaisar karena ingin melihat gerak- gerik pria itu.  Andai saja pria itu bergerak mendekat ke arahnya, maka ia akan lebih dulu mengetahuinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2