
Mata bulat Khanza menatap Kaisar dengan membesar.
"Ini nama Kaisar yang dimaksud di sini adalah kamu kan?" Khanza menunjuk nama Kaisar pada notifikasi di hp nya.
"Nafkahku untukmu. Meski kita sama- sama tidak mengharapkan pernikahan ini, namun di mata Tuhan status kita tetap suami istri, kewajibanku tidak gugur."
Khanza ingin mengatakan bahwa nominal itu terlalu besar, namun ia akan kelihatan naïf di hadapan Kaisar. Entahlah, sejak ia mengenal cinta sejati, anehnya ia jadi mengesampingkan materi. Ia merasakan bahwa ketulusan itu lebih dari segalanya.
Khanza memilih diam menerima uang itu tanpa harus mengatakan apa pun.
“Aku sedang dalam masalah besar. Papa akan menikahkan aku dengan Nana, di sisi lain aku sudah menikahimu, dan di sisi lain lagi, aku memiliki harapan lain, yaitu Jihan.”
“Aku yakin kamu pasti bisa mengambil keputusan terbaik.”
“Sekarang belum. Tapi aku perlu memberitahukan mu soal ini sekarang. Baiklah, kita makan dulu. Steelah aku mendapat petunjuk, maka aku pastikan akan mengambil keputusan tepat. Saat ini aku mengikuti semua ini seperti air mengalir.”
“Apa kamu sangat mencintai Jihan?”
__ADS_1
“Kurasa kau tahu itu sejak awal.”
***
Sepulang dari restoran, Khanza langsung duduk diam di sisi kasur, mengibas- ngibaskan tangannya ke depan wajah, berharap air mata yang mendesak tidak keluar. Sudah sangat sulit ia menahan cairan itu supaya tidak mengalir, jangan sampai mencuat keluar.
Bodoh! Kenapa ia berubah mendadak menjadi gadis cengeng begini? Bukankah ia adalah gadis kuat? Ini kenapa saat hatinya berurusan dengan perasaan mendadak jadi rapuh?
Oh ya, Khanza sampai melupakan sesuatu, bahwa sebelumnya memang ia tak pernah merasakan jatuh cinta, wajar saja pertama kalinya pula ia merasakan sedih begini. Tapi ia tetap memegang teguh ketulusannya, yang tak memerlukan pengakuan atau pun balasan.
Jika memang kebahagiaan Kaisar ada pada Jihan, maka biarkan pria itu berbahagia dengan pilihannya. Ini indah.
***
Hari ini adalah waktu dimana Kaisar harus bertunangan dengan Nana, gadis pilihan ayahnya. Kaisar memikul beban berat saat ini. Dia sudah memiliki istri, dia juga memiliki wanita idaman, namun harus dinikahkan dengan wanita lain. Sulit.
Saat ini Kaisar sedang dalam perjalanan, duduk di kursi belakang. Supir di depan. Meski hari ini dianggap sebagai hari penting, namun ia tetap beraktifitas seperti biasa. Semuanya normal dan tidak ada satu oun agenda yang dia lewatkan.
__ADS_1
Dia duduk bersisian dengan Khanza. Mereka baru saja menjalankan satu kegiatan.
Sepanjang jalan keduanya membisu, tanpa suara. Khanza memang berubah menjadi pendiam sekarang, sedangkan Kaisar sedang memikirkan ujung tanduk kisah pernikahannya.
"Tunggu ya, sebentar lagi aku sampai!" ucap Kaisar melalui via telepon.
Khanza dapat melihat nama di hp Kaisar saat hp bergerak diturunkan dari pipi, Kaisar baru saja berteleponan dengan Jihan.
"Berhenti di depan!" titah Kaisar.
Mobil menghampiri sosok gadis berhijab putih yang duduk di kursi tak jauh dari sisi jalan. Kaisar bergegas menuruni mobil dan menghambur mendekati gadisnya, Jihan.
Pandangan Khanza mengikuti gerakan tubuh Kaisar, pria itu tampak berbicara serius dengan Jihan. Mereka saling tatap, bertukar pandang penuh cinta.
“Khanza menurunkan kaca jendelanya separuh, dengan alasan ingin menghirup udara segar. Padahal ia sedang menguping, ingin mendengarkan apa saja yang dibahas oleh sepasang kekasih itu.
Bersambung
__ADS_1