
"Sempat berpikir untuk poligami?" tanya Jihan.
"Tidak ada salahnya dalam keadaan seperti ini kan? Ini bukan niatan semata- mata karena syahwat, tapi keadaan yang meminta. Tapi nyatanya aku tidak bisa mempertahankan pernikahanku dengan Khanza," jawab Kaisar.
"Karena aku?"
"Salah satunya. Tapi keadaannya memang aku dan Khanza memang tidak sejalan. Aku sudah berusaha mempertahankan tapi Khanza tidak menginginkanku."
"Apakah sampai kini Khanza tetap tidak menginginkanmu? Atau dia sudah berubah?"
Kaisar ragu menjawab.
"Mas, aku hanya tidak ingin menjadi penyebab kehancuran rumah tangga orang lain, aku tau kamu sudah berumah tangga tapi aku masih memberikan peluang besar untukmu mengharapkan aku, sehingga kamu dengan mudah menghancurkan rumah tanggamu sendiri." Jihan menangis.
Kaisar mengangkat tangan hendak menyentuh pucuk kerudung Jihan, namun urung.
“Aku menyayangimu, Kaisar. Aku sangat mencintaimu, rasa itu tidak berubah sampai kini,” ungkap Jihan terbata. “Tapi jangan sampai aku menjadi sumber kehancuran rumah tanggamu.”
“Tidak. Kamu tidak terlibat apa pun dalam hal ini. Aku sudah menjatuhkan talak kepada Khanza sebelum ini.”
Jihan mengulas senyum pahit. “Aku… Aku ingin kita bersama dan menjadi keluarga yang sakinah dengan naungan rahmat Tuhan. Tapi aku juga tidak berharap kita bisa bersama jika pondasi dalam pernikahan kita adalah dosa. Aku mencintaimu, Mas.”
__ADS_1
Kaisar menatap wajah di depannya dengan lekat, ia menghela napas berat. Ada banyak keraguan yang terbesit.
“Aku akan tetap menikahimu. Kita akan menjadi pasangan halal menuju jannah,” ungkap Kaisar.
“Jangan pernah lepaskan apa pun itu yang menurut Tuhan baik. Jika memang aku adalah jodohmu, maka aku pasti akan menjadi pendamping hidupmu. Aku siap. Aku mencintaimu, semoga kita akan menjadi pasangan halal yang diridhai Tuhan!”
Kaisar mengangguk.
“Sudah shalat istikharah?” tanya Jihan.
Kaisar diam.
“Shalatlah.”
“Aku tidak ingin menghancurkan rumah tangga yg sudah ada dan malah membangun rumah tangga lain di atas kehancuran,” lirih Jihan.
“Hei, wanita solehah, jangan merasa takut sudah menzalimi orang lain disaat kamu tidak melakukan apa pun. Kamu orang baik.”
Jihan tersenyum. “Aku pergi.” Gadis itu beranjak pergi.
Ekor mata Kaisar terus mengawasi langkah Jihan hingga gadis itu menghilang dari pandangan. Demi ingin bicara dengan Jihan, Kaisar sampai putar balik supaya bisa menemui gadis itu, supaya bisa meluruskan masalah. Untungnya Jihan sangat mudah memahami.
__ADS_1
***
Malam itu, Kaisar memasuki rumah megahnya, ia bertemu dnegan Calvin yang tengah berjalan hilir mudik di ruangan utama. Kaisar tidak mengucapkan sepatah kata pun saat pandangan mereka bertemu. Mata Calvin terlihat dipenuhi dengan angkara murka.
“Apa yang ingin kau lakukan sekarang? Membawa staf barumu itu memasuki rumah ini dan menjadikannya ratu di sini, begitu?” kesal Calvin dengan wajah merah padam.
“Marahlah jika papa ingin marah. Semuanya sudah terjadi dan aku tidak bisa menghindari takdir ini.”
“Ceroboh! Memalukan!”
“Tidak ada yang memalukan dari pernikahan kami ini. Semuanya baik.”
“Setelah kau menikahi Khanza, lalu apa yang akan kau lakukan pada wanitamu si Jihan itu, huh? Kau juga akan membawanya ke rumah ini sebagai istri sirimu?”
“Biarkan dulu aku memutuskan semua ini sendiri dengan kepala dingin, Pa.”
“Kau sudah menghancurkan semuanya. Kau hancurkan bisnis papa yang seharusnya diperluas dengan pernikahanmu bersama Nana.”
“Tidak ada yang hancur, Pa. semuanya baik- baik saja. Hanya saja, perluasan bisnis papa batal. Itu saja. Kondisi kita masih sama seperti sedia kala.”
“Kau… Kau selalu saja menjawab dan membantah setiap kali aku bicara.”
__ADS_1
“Sepertinya kita memang sulit untuk bisa sejalan. Aku istirahat dulu.” Kaisar melenggang menuju ke atas.
Bersambung