
Mobil milik Kaisar yang dikemudikan Beno sudah sampai di depan rumah kontrakan Kaisar. Kontrakan yang beberapa bulan sempat menorehkan segudang momen, pahit dan manis.
Sebab di sanalah Kaisar pernah mengajari anak- anak mengaji, di sana pula Kaisar pernah dipandang sebagai guru mengaji yang kotor dan hina.
"Kita berhenti di sini?" tanya Beno menatap Kaisar yang duduk di belakang.
Ganda duduk di sisi kemudi.
Kaisar menuruni mobil tanpa memberikan tanggapan. Dia menatap sekeliling rumah kontrakan yang ternyata masih sama seperti saat dia tinggalkan. Rumah itu belum ada yang menghuni.
“Eeeeh… Kaisar! Kamu balik lagi kemari? Duuuh… berasa mimpi apa gitu lihat kamu kemari.” Mak Eyum berbadan gemuk itu setengah berlari keluar dari rumahnya yang tak jauh dari kontrakan Kaisar dan menghampiri pria itu. Dia adalah pemilik kontrakan.
“Mak Eyum,” sapa Kaisar.
“Noh, kuncinya masih Emak pegang. Mau masuk kan ya? Ini sisa harinya masih banyak. Kamu sudah bayar beberapa bulan di muka loh. Sayang kalau nggak dipakai.”
__ADS_1
“Aku hanya pakai sehari ini saja ya, Mak.” Kaisar mengambil kunci. Ia akan kemalaman sampai di Jakarta bila harus pulang hari itu juga. Dan tentunya ia pasti akan kelelahan. Maka ia akan menginap di sana. “Setelah ini emak boleh kasih kontrakannya ke yang lain. Biarkan orang yang mengontrak dapat gratisan beberapa bulan. Itung- itung sedekah.”
“Walaaah… baek bener kamu ya. Ya sudah kalau begitu. Ini sah ya setelah ini emak kasih ke orang lain.” Tatapan Mak Eyum kini tertuju ke pakaian Kaisar. “Duh ganteng bener kamu. Penampilannya udah kayak mau ijapan aja. Segala pakai jas begini. Cewek- cewek mah pasti pada naksir.”
Kaisar mengulum senyum mendengar celotehan Mak Eyum.
“Aku hanya mau berkunjung sebentar saja di sini, menghilangkan kangen. Ya sudah, aku permisi Mak.” Kaisar kembali ke mobil.
Tujuannya kali ini menuju ke rumah Kyai Umar.
Di sana, sudah ada Kyai Umar, Rama, Pak kades dan beberapa orang penting lainnya. Termasuk Zelin. Kyai Umar memberi kisi- kisi seakan ada hal bahagia yang akan disampaikan sehingga membuat mereka dengan cepat menghadiri panggilan itu. termasuk Subrata juga ada di sana. Dia dianggap sebagai orang tua dari korban sehingga dihadirkan juga.
Tak sulit bagi Kyai Umar mengumpulkan nama- nama yang disebutkan, tentu saja Kyai Umar tidak memberikan alasan kenapa ia memanggil para nama tersebut, sebab dikhawatirkan nama- nama tersebut justru tidak hadir karena tidak mau disinggung mengenai masalah yang akan dibahas.
Ketika Kaisar muncul, semua yang di sana terkejut. Awalnya mereka hampir tidak mengenali Kaisar yang tampilannya berbeda, namun lambat laun mereka mengenal wajah itu.
__ADS_1
Kasak kusuk mulai terdengar, ada keresahan yang mulai membayang di wajah- wajah mereka.
Kaisar berjabatan tangan dengan Kyai Umar. Mereka mengobrol singkat hingga akhirnya Kyai Umar selaku tetua yang dihormati dan dituakan di komplek itu muai angkat bicara, “Assalamualaikum. Maksud saya mengundang saudara- saudari di sini adalah untuk membicarakan hal serius. Ini mengenai Kaisar.”
“Kaisar? Ada apa dengan Kaisar, Kyai?” tanya Rama, anak Pak Kades.
“Jadi… Saya perlu sampaikan ke hadapan bapak- bapak, ibu- ibu dan saudara- saudara yang hadir di sini, bahwa kejadian malam yang mengakibatkan Kaisar dianggap berzina dengan Khanza itu adalah tidak benar. Kaisar dan Khanza sama sekali tidak melakukan perbuatan tercela. Mereka terhormat dan baik,” sambung Kyai Umar.
Beberapa wajah- wajah mulai saling kode.
“Ini adalah untuk membersihkan nama baik, yang mana nama baik Kaisar dan Khanza sudah dicoreng oleh aib yang sebenarnya aib itu tidak pernah ada. Selama ini nama baik Kaisar dan Khanza sudah rusak oleh perbuatan orang- orang yang tidak bertanggung jawab,” imbuh Kyai Umar. “Allah memiliki Sembilan puluh Sembilan nama yang baik, sama halnya Allah pun memerintahkan supaya manusia yang satu dilarang mencemarkan nama baik yang lainnya. Baiklah, silakan bagi yang merasa tersandung dengan masalah ini, mengakulah sekarang juga. Ini demi klarifikasi pembersihan nama baik Kaisar dan Khanza.”
Ganda menunduk, ia terlihat pucat, namun juga sudah siap untuk bicara.
Rama mulai gelisah.
__ADS_1
Zelin pun tampak bingung. Namun mereka masih diam.
Bersambung