Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Salah Paham


__ADS_3

Khanza menelan saliva menatap wajah serius dengan tatapan tajam itu.


Kaisar menarik lengan Khanza dan membawanya ke koridor samping, kemudian terus ditarik sampai ke tempat yang sepi.  


Tubuh Khanza tersudut ke dinding saat kaisar melepasnya kuat.  Ia hanya diam ketika Kaisar mendekati, menatap tajam sambil membingkai Khanza dengan satu lengan yang diletakkan ke dinding tepat samping wajahnya.


“Kenapa kamu membawa ayahmu kemari, hm?” kesal kaisar.


“Aku tidak memberitahukan ayahku apa pun tentang ini.  Bahkan aku juga kaget saat tahu ayah datang.”


“Memangnya siapa yang mengabarinya supaya datang kemari?  Semut?”


Khanza kali ini diam.  Sepertinya percuma ia membela diri.  Saat ini isi pikiran Kaisar sedang dipenuhi prasangka.  Dan benar saja, pertanyaan Kaisar adalah masuk akal.  Siapa yang mengabari Subrata supaya datang ke gedung itu?  


“Ayahmu didatangkan ke pesta itu hanya untuk mengacaukan segalanya,” kesal Kaisar lagi.  “Setelah kekacauan itu, kau ingin mengambil keuntungan dengan memberitahukan kepada semua orang bahwa kau adalah istriku.  Entah apa yang ada di pikiranmu.  Tidak hanya cerdik, tapi licik.”


“Aku sama sekali tidak terlibat dengan masalah ini,” lirih Khanza pasrah, entah Kaisar mau percaya atau tidak.


“Bukankah kita sudah sepakat bahwa kita akan berpisah?  Lalu kenapa malah begini?”

__ADS_1


“Kamu tahu kalau aku sudah sepakat bukan?  Kamu tahu kalau aku melepaskanmu.  Lalu kenapa aku harus melakukan hal segila tadi?"


"Aku tahu kamu, Khanza. Aku tahu siapa kamu. Berhenti bersikap seakan- akan kamu adalah gadis istimewa dengan segala perubahan sikapmu ini." Kaisar menatap mata bulat di depannya yang hanya berjarak beberapa centi saja.


Khanza diam mematung. Diam saja. Biarkan Kaisar menghujatnya. Mungkin ini memang balasan Tuhan. Balasan kontan. Luar biasa, langsung mengena.


Melihat Khanza yang hanya diam, Kaisar pun kembali berucap, "Setelah kamu melihatku duduk di bangku Direktur, kamu terlihat berbeda. Banyak diam. Aku melihatmu seperti orang lain. Apakah kamu pikir aku akan melihatmu sebagai gadis baik? Aku sudah sangat mengenalmu, Khanza."


Lagi- lagi Khanza memilih diam. Membiarkan Kaisar mengucapkan apa saja yang bisa disalurkan untuk memaki Khanza. Khanza siap mendengarnya. 


"Lihatlah, kamu diam. Ayo, bicara! Bicaralah! Jangan diam! Kamu sengaja menghadirkan ayahmu kemari hanya untuk mengacaukan acaraku, hanya untuk mengumumkan pada semua orang tentang pernikahan kita." Kaisar geram hingga mengangkat tangan, namun kembali menurunkan tangan saat sadar itu tak seharusnya dia lakukan. Dia bukan pelaku kekerasan. 


Tangan Kaisar akhirnya meninju dinding, tepat di samping pipi Khanza hingga membuat wanita itu terpejam bersamaan dengan jantungnya yang deg- degan. 


Bruk!


Tubuh Kaisar terjatuh sesaat setelah tersandung kaki Khanza, menyusul tubuh Khanza yang juga terjatuh menimpa permukaan tubuh Kaisar.


Dan… Apa ini?  Kenapa bibir Khanza malah mendarat di pipi Kaisar.  Sesaat keduanya bersitatap di jarak yang terkikis.

__ADS_1


“Menyingkir!” pinta Kaisar saat tersadar sudah beberapa menit keduanya malah bertukar pandang.


“Tanganku terjepit punggugmu!  Angkat dulu punggungmu!” ucap Khanza tak mau kalah.


Baru saja Kaisar bergerak mengangkat punggungnya, terdengar suara jeritan gadis.


“Aaaaa…”


Kaisar dan Khanza langsung menatap ke sumber suara.  Seorang staf kantor memergoki keadaan itu dan kini menjerit lalu memalingkan mukanya yang memerah sambil menutup muka dengan kedua telapak tangan.


Bergegas orang- orang lain yang tak jauh dari sekitar sana pun berdatangan, memandang heran plus kaget ke arah Kaisar dan Khanza yang sedang sibuk berbenah untuk bangkit dari posisi zona buruk, mereka memandang dengan tatapan penuh kesalahpahaman.


“Itu Pak Kaisar dan Khanza anu- anu kok di situ?”


“Kebelet kali ya?”


“Pernikahan yang dirahasiakan kali aja membuat mereka ngumpet- ngumpet begini setiap kali nagih.”


Desas- desus terus bergerilya, membuat panas telinga Kaisar.  Pria itu kemudian berlalu pergi dengan muka tak nyaman, melewati para pengerumun yang lebih mirip seperti sedang mengantri di pasar cabe.

__ADS_1


Khanza melangkah pergi melalui arah yang berlawanan dengan Kaisar.  Lebih baik pergi saja dari pada mendengar pergunjingan yang tak menyenangkan telinga.  Haduh, mereka sudah salah paham.


Bersambung


__ADS_2