Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Digigit


__ADS_3

"Baik, sekarang kalian sudah menjadi sepasang suami istri yang sah. Sudah halal untuk saling bersenggolan." Wali hakim tampak senang. "Silakan istri untuk menyalami tangan suami. Ini bentuk kepatuhan istri pada suami."


Khanza melirik Kaisar tajam. Matanya yang bulat seperti Barbie itu tampak semakin membulat.


Kaisar dengan bangganya menyodorkan tangan ke arah Khanza, posisi itu membuatnya merasa di atas angin. 


Segera Khanza menyambut tangan Kaisar dan menyalami tangan itu. Terpaksa ia harus melakukan adegan selayaknya pengantin sebenarnya. Mencium punggung tangan Kaisar. Diam- diam dia membuka mulutnya, menggigit kecil kulit tangan Kaisar dengan kuat, bahkan mencubit tangan besar pria itu kuat pula.


Rasakan! Jangan merasa sombong karena dibela sama wali menyebalkan itu! Pikir Khanza dengan batin tersenyum puas.


"Silakan jika ingin mengabadikan momen ini!" Si wali makin mumpuni bertingkah dengan segala aktingnya sebagai seorang wali hakim. 


Kilatan kamera bertubi- tubi mengabadikan momen itu. 

__ADS_1


Selama proses itu berlangsung, Kaisar terpaksa harus menahan rasa sakit yang luar biasa pada tangannya, gigitan Khanza ditambah cubitan gadis itu benar- benar ampuh, seperti gigitan kalajengking.


Bibir Khanza yang dibikin monyong seperti sedang mencium penuh takzim itu membuat gigitannya tidak kelihatan di mata semua orang. Bahkan gadis itu sengaja memperpanjang durasi cium tangan seakan ia sedang menikmati aksi itu dengan penuh takzim. 


Ugh... Gadis sialan! Keterlaluan! Kaisar ingin menyentak tangannya, namun urung mengingat ia menjadi objek perhatian semua orang. 


Aneh, kenapa orang- orang di sekitar sana sangat antusias dengan pernikahannya itu. Bahkan mereka yang tak begitu mengenalnya pun sampai rela berdesakan hanya untuk mengabadikan momen itu melalui potret kamera hp.


Kaisar memalingkan wajah, menunjukkan sikap tak peduli meski sebenarnya ia sedang menahan rasa sakit yang luar biasa di tangannya itu. 


Untungnya Khanza sekarang bukanlah istri sungguhan Kaisar, jika saja Kaisar sampai mengutuk gadis itu, sama saja sang suami sudah murka pada istrinya, tidak baik bukan? 


Tampak warna merah bekas gigi runcing Khanza di atas punggung tangan Kaisar. Tentu bisa dibayangkan bagaimana kuatnya gigitan Khanza, bekasnya saja sampai separah itu. 

__ADS_1


Setelah itu, kini bahkan Kaisar pun harus menyalami Subrata dan Marwah yang dianggap sebagai mertua.  Tatapan subrata tampak tajam saat bertemu dengan mata Kaisar, namun pria tua bertubuh besar dan segar itu tampak pasrah.  


Marwah mengusap pundak Kaisar saat disalami.  


Menyusul Khanza yang turut menyalami kedua orang tuanya, mengikuti gerakan yang dilakukan oleh Kaisar.


“Halo kakak ipar!”  Ameena, gadis cilik yang duduk di sisi Marwah tampak tertawa cekikikan menatap Kaisar.  “Kalau tidur jangan ngorok ya!  Kak Khanza tidak suka orang mendengkur.  Hi hiii….. Itu bulu rapi di dekat dagu bisa dicukur tidak?” Gadis cilik bernama Ameena itu terus saja berceloteh.  Kaisar tak peduli dengan kecerewetan bocah itu.  


Kaisar melewati Ameena begitu saja dan mengabaikan si kecil yang tampak pecicilan.  Entah kenapa Kaisar tidak menyukai Ameena, apakah mungkin karena wajah Ameena yang sangat mirip dengan Khanza sehingga membuatnya seakan sedang menatap Khanza?  Ataukah karena sikap bocah itu yang terkesan pecicilan?  Atau karena sudah sejak awal Kaisar tidak menyukai apa pun yang berbau tentang Khanza?


Ditengah sederet acara yang berlangsung, mulai dari acara salawatan, doa, dan kini tamu dipersilakan menyantap hidangan, Kaisar terus berpikir mengenai bagaimana caranya supaya nama baiknya bisa pulih.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2