Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Tolong


__ADS_3

Khanza akhirnya menoleh. "Aku tidak berkencan dengan lelaki, aku tidak melakukan perbuatan terkutuk. Lelaki tadi yang menggangguku bahkan menciumku!"


"Maksiat itu tidak harus berkencan dengan pria. Dengan kamu keluar rumah saja, itu sudah mengundang maksiat. Jangan salahkan lelaki tadi yang berani berbuat kurang ajar padamu, sebab memang kamu yang mengundang lelaki itu berbuat maksiat padamu. Lihatlah, mulutmu bahkan bau alkohol. Dan apa ini? Kamu keluar malam dengan pakaian begini!" Kaisar melepas kemejanya dengan gerakan cepat, lalu menghempaskannya ke tubuh Khanza hingga menutup bagian pundak, dada sampai ke perut, serta sebagian paha. Aroma kemeja itu wangi sekali, membuat pernapasan Khanza seperti dimanja aroma khas lemon segar. 


Kini Kaisar terlihat hanya mengenakan kaos ketat, meninggalkan tampilan dada bidang yang tercetak melalui kaos putih yang ketat itu.


"Penampilanmu saja sudah mengundang perbuatan maksiat lelaki. Lalu kenapa menyalahkan lelaki tadi? Dengan kamu mendatangi tempat hiburan malam bahkan dengan penampilan begini, maka kamu memberi kesempatan pada kaum lelaki untuk berbuat kurang ajar terhadapmu," jelas Kaisar. Dia sadar bahwa mulai saat ia tahu kalau Khanza adalah istri sahnya, maka Khanza sepenuhnya adalah tanggung jawabnya. Balasan gelap dan menakutkan siap menantinya saat ia mengabaikaj semua itu. Kini Kaisar menyandang status sebagai imam.


"Oh ya ampun, kamu mulai mengatur- atur dan mengekang aku. Apa jadinya saat aku harus berada di bawah aturanmu. Turunkan aku!" geram Khanza dengan suara rendah namun gigi yang menggemeletuk.


Tak ada tanggapan dari Kaisar, Khanza pun memerintah supir. "Berhenti, Pak!"


"Jangan! Lanjut saja, Pak!" titah Kaisar mendominasi. Suaranya datar namun terkesan mengancam.


"Berhenti, Pak!"


"Lanjut!" 


"Aku bilang berhenti, Pak!"


"Lanjut saja!"

__ADS_1


Supir jadi bingung mendengar perintah yang bertolak belakang. Kalau begini ia harus menuruti yang mana? Supir tetap menjalankan mobil, sikap Kaisar yang tenang namun dipenuhi dengan dominasi ketegasan penuh, membuat supir lebih merasa takluk pada Kaisar. 


"Aku tidak akan menurunkan istriku di pinggir jalan. Kalau kamu diculik orang, itu sama saja kamu memaksa aku untuk menjadi repot, mustahil aku akan pura- pura tutup mata saat kamu dalam bahaya. Ini sudah larut malam. Tidak pantas wanita seorang diri di pinggiran jalan," tegas Kaisar dengan tatapan seperti mengancam.


"Aku mau pipis."


Kaisar menelan saliva. Ternyata ini maksud Khanza minta berhenti. Tapi bagaimana jika wanita itu mengelabuinya? Dia sebenarnya tidak ingin buang air kecil, dia minta berhenti karena modus ingin menghindari Kaisar dan kembali kelayapan lagi? 


"Apa kamu mau melihatku mengeluarkan cairan di kursi mobil ini? Aku tadi terlalu banyak minum, jadi sangat ingin buang air kecil," celetuk Khanza.


"Berhenti, Pak!" titah Kaisar pada supir yang langsung diangguki, mobil berhenti di sebuah warung makan yang diyakini pasti menyediakan kamar kecil. Warung makan itu sepi, tidak ada pengunjung. Hanya ditunggu oleh pelayan dua orang. Jalanan pun lengang, benar- benar sepi karena baru saja hujan. Menyisakan jalan yang basah.


Kaisar dengan penuh pengawasan melihat gerak- gerik Khanza.  Siapa tahu wanita itu hendak kabur darinya.


Kaisar hanya ingin memberikan pendidikan pada Khanza tentang bagaimana harus menjadikan attitude yang baik dalam pribadi seseorang.


Kaisar melihat Khanza mengendap lewat pintu samping restoran.  Untung saja mata Kaisar terus bergerak dan berputar hingga akhirnya mendapati keberadaan Khanza.  Punggung Kaisar sampai tegak, mengawasi Khanza yang berjalan cepat menuju ke jalan, tepatnya jalan di belakang taksi yang diduduki oleh Kaisar.  


Khanza berjalan dengan langkah cepat menjauhi taksi yang diduduki Kaisar.


“Benar- benar keras kepala!  Liar!”  Kaisar geram bukan main.  Jemari besarnya sampai mencengkeram senderan kursi. “Dia masih ingin berkeliaran malam- malam begini!  Keterlaluan!”

__ADS_1


Khanza terus berjingkat menjauh.  


Enak saja Kaisar berlagak sombong.  Dengan bangganya melarang ini dan itu mentang- mentang dia sadar bahwa dia menjadi suami sahku!  Lantas setelah ini apakah dia akan mengekangku?  Gumam Khanza muak sekali.


Khanza masih belum puas bersenang- senang di luaran rumah.  Dia merasa stres jika harus kembali ke rumah sempit dan menyebalkan itu.  Otaknya seperti tumpul dan beban pun menumpuk.  Dipastikan ia tidak akan bisa tidur jika harus pulang saat ini.


"Aaaakh...." Khanza berteriak hebat saat lengannya ditarik dari arah samping dan ia terkejut dimasukkan ke dalam jaguar hitam oleh orang tak dikenal. Tubuh pria asing yang tinggi dan besar dengan tenaga kuat itu membuat Khanza tak berkutik saat melawan.


Dengan mudah tubuh kecil Khanza diangkat dan dilempar ke kursi bagian belakang. Pria dengan punggung tangan bertato ular itu berbalut jaket hitam dengan kepala ditutup topi jaket serta separuh wajah yang juga ditutup masker hitam, membuat Khanza sulit mengenali muka si pria, hanya mata merah yang seperti seorang pecandu saja yang bisa ia lihat. Sudah ada pria lain yang menunggu di mobil, duduk di sisi Khanza.


Pria menakutkan bertato ular yang melempar tubuh Khanza masuk ke mobil itu kemudian menyusul masuk, menghimpit tubuh Khanza yang kini diapit dua pria, kiri dan kanan.


Mobil melaju kencang membelah kesunyian malam. Kejadian itu begitu cepat hingga sulit bagi yang melihatnya akan bertindak cepat.


Khanza makin menjerit ketakutan. Menyadari sepenuhnya bahwa ia sedang ada dalam bahaya besar.  Ingin berteriak memanggil nama Kaisar untuk meminta tolong, tapi bukankah ia yang meninggalkan Kaisar dan memilih untuk pergi? Lalu masihkah pantas ia meminta bantuan pada Kaisar?


Mendadak rasa minder dan menyesal menyergap benaknya. Tapi masih gengsi untuk mengakui bahwa ia membutuhkan Kaisar dan menyesal sudah mengambil keputusan yang akhirnya malah membahayakan dirinya sendiri.


"Tolooong... Toloong!" Khanza sadar bahwa teriakannya sia-sia. Mana mungkin orang di luaran sana mendengar suaranya di ruangan mobil yang kedap suara begini. 


Bayangan menakutkan langsung menghantui pikirannya. Mungkinkah setelah ini dia akan dilecehkan? Mungkinkah ia akan dijual? Atau bahkan menjadi korban pembunuhan untuk kemudian organ dalam tubuhnya dijual?

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2