Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Mengejutkan


__ADS_3

"Bantu saya, Pak. Saya mau diculik. Pria ini adalah komplotan penjahat yang akan menjual para gadis." Khanza berteriak histeris.


"Diam! Kau pencuri, jangan banyak bicara! Kembalikan jam tangan yang kau curi!" Pria itu mencengkeram dua tangan Khanza yang disatukan ke belakang, sedangkan tangan lainnya mengalung di leher Khanza seperti sedang mencekik. Dan ia terkejut saat ia berhasil menatap wajah cantik itu, Khanza.


Sebaliknya, Khanza pun tak kalah kaget menatap wajah yamg sangat dekat dengannya itu, Kaisar. Meski lima tahun mereka telah berpisah, namun wajah tampan itu tak memiliki perubahan yang signifikan. Masih sama seperti dulu. Hanya saja, bulu kasar di sekitar rahang tumbuh rapi, membuat wajah pria itu terlihat jauh lebih dewasa.


Beberapa detik mereka bersitatap, tanpa suara. Hanya mata mereka yang seakan sama- sama saling bicara.


"Woi, keluar! Keluar!" 


Di luar, suara riuh orang- orang yang beringas seperti sedang mencari mangsa pun mengerumuni mobil.


Rupanya supir sudah turun sejak tadi dan berteriak bahwa di dalam mobilnya ada penculik.


"Mereka akan membunuhku!" bisik Kaisar yang menyadari bahwa supir sudah termakan ucapan Khanza.


Di saat kondisi seperti ini, pasti akan sulit mengamankan situasi. Mereka sedang dalam keadaan beringas.


"Katakan kepada mereka bahwa kau salah paham. Kamu tidak mau melihatku mati konyol kan?" ucap Kaisar.


Khanza tersenyum smirk. "Sayangnya aku tidak mau melakukannya. Kamu pasti punya segudang cara untuk bisa menyelamatkan diri. Dan aku ingin melihatnya. Ini atraksi menarik." Khanza turun dadi pangkuan Kaisar dan duduk di kursi sisi Kaisar dengan santai, kaki menyilang.

__ADS_1


Dasar wanita kodok! Kaisar langsung melompat ke depan, tepat ke bagian kemudi. Posisi kunci yang masih ada di tempatnya, memudahkannya untuk menyetir mobil dan meninggalkan kerumunan.


Khanza kaget, mengira Kaisar akan turun dan menenangkan situasi, atau bahkan turun sambil menjadikan Khanza sebagai tawanan, tapi rupanya dugaan Khanza meleset semua. 


Ketika Khanza memegang handle pintu hendak membukanya, Kaisar dengan cepat mengunci pintu dari depan.


Supir mengejar mobil dengan lari kencang, tapi sia- sia. Dari spion tampak jelas wajahnya memelas sekali.


"Aku tidak menyangka kamu sanggup melihatku mati konyol," ucap Kaisar geram.


"Aku sudah menyangka kalau kamu akan melakukan apa pun untuk keselamatanmu. Jadi mati konyol itu tidak ada di daftar hidupmu."


Kaisar membawa taksi ke kantor polisi.


"Hei, kenapa kemari?" Khanza ditarik keluar oleh Kaisar. Ia terseret memasuki kantor polisi. "Lepaskan aku!"


"Menurutlah!" Kaisar terus menyeret Khanza hingga kini duduk di meja pelaporan, berhadapan dengan polisi. Khanza dipaksa duduk meski jantungnya kini ketar ketir.


Mampus! Senjata makan tuan. Sekarang malah Kaisar yang akan balik menjerumuskannya.


"Selamat malam, bapak, ibu. Ada yang bisa saya bantu?" tanya pria berseragam.

__ADS_1


"Ini sebenarnya tidak seburuk yang terjadi. Semuanya hanya salah paham," ucap Khanza cepat sebelum Kaisar angkat bicara di hadapan pria berseragam. "Jadi, tadi suami saya ini memakai jam dan saya mengambilnya, tapi dia pikir saya ini orang lain sehingga dia menuduh saya pencuri. Dan sekarang dia sudah tahu bahwa orang yang mengambil jam miliknya adalah istrinya sendiri." Khanza meraih tangan Kaisar dan menggenggamnya dengan senyum lebar.


Kaisar melirik tangannya yang digenggam erat oleh Khanza. 


Tanpa peduli dengan sikap Khanza, Kaisar pun berkata pada polisi, "Pak, saya ingin menitip taksi di sini. Ini kuncinya." Kaisar menaruh kunci taksi. "Di jalan Sudirman tadi terjadi kesalah pahaman hingga taksi ini saya pinjam sebentar. Supirnya pasti sedang mencari taksinya. Tolong bantu berikan taksi ini pada supir tersebut. Ini pasti hal mudah bagi bapak bukan? Tidak sulit bagi Bapak melacak si pemilik taksi." Kaisar kemudian menceritakan kejadian yang sebenarnya, bahwa dia hampir diamuk massa saat dituduh sebagai penculik. Kebetulan polisi tersebut sedikit mengenal Kaisar, ia pernah diminta untuk mengawal Kaisar saat proses pembayaran gaji untuk karyawan pabrik.


"Tolong dibantu ya, Pak!" ucap Kaisar.


"Oh, tentu. Akan saya sampaikan kepada pemiliknya supaya mengambil taksinya di sini."


"Baik, itu saja. Saya permisi. Terima kasih atas bantuannya." Kaisar berjabatan tangan dengan polisi itu.


"Jadi.. ini istri bapak?" Polisi itu menunjuk Khanza sebelum Kaisar benar- benar pergi.


Kaisar hanya melirik Khanza sebentar, kemudian melenggang pergi.


Khanza mengikuti Kaisar keluar dari kantor polisi.


***


Bersambung

__ADS_1


Ayuk baca ke sebelah juga ya, Gadis Taruhan di Noveltoon juga, masih update setiap hari


__ADS_2