
Khanza berjalan memasuki pintu gerbang rumah Kaisar. Jangan lupa, ia sudah menjadi nynya Kaisar sekarang. Dan ia mesti tinggal di rumah suami.
Tiba- tiba saja langkah Khanza memelan, ekspresinya terkejut melihat bercak darah yang berserak di lantai halaman rumah, tepat di tengah- tengah lantai halaman.
Darah? Darah apa ini? Kenapa sebanyak ini?
Khanza jongkok, mengawasi cairan merah itu dengan seksama, ingin meyakinkan apakah cairan itu adalah darah. Dan benar, bau khas darah tercium di hidung Khanza.
Darah siapa itu? kenapa sebanyak itu?
Perasaan Khanza mulai tak enak. Rumah itu hanya ditempati olehnya, Kaisar, Calvin dan asisten rumah tangga yang datang pagi pulang sore. Sedangkan Calvin sedang ke Korea.
Dengan raut cemas, Khanza menoleh ke sekitar, mencari manusia siapa pun, namun tak menemukan siapa- siapa.
Sepi.
__ADS_1
“Kaisar!” Khanza menjerit memanggil nama suaminya. Tak ada sahutan. Mobil Kaisar masih bertengger di dekat sana, tak lain mobil yang digunakan untuk mengantarnya tadi pagi.
Dengan secepat kilat, Khanza berlari memasuki rumah. Mencari Kaisar. Tak ada sahutan. Khanza semakin cemas. Ia mengeluarkan hp dari tas. Akibat tangannya yang gemetaran, ponsel pun terjatuh. Ia kembali meraih benda pipih itu. lalu menghubungi Kaisar.
Terdengar suara deringan hp. Khanza mencari sumber bunyi. Ia menuju ke luar, mendekati mobil. Tubuhnya lalu membungkuk, melihat hp yang tergeletak di bawah mobil. Rupanya hp milik Kaisar terjatuh di sana.
Gemetaran, tangan Khanza memungut benda itu. sekujur tubuhnya mendadak lemas sekali. Hp milik Kaisar terjatuh begitu saja di kolong mobil, kemudian ditemukan ceceran darah di halaman dekat mobil Kaisar.
Apa yang terjadi?
Khanza berteriak histeris. Bingung dan panik. Ia kemudian menelepon Jihan. Berharap Jihan sedang bersama dengan Kaisar saat ini. Entah harapannya itu kedengaran tidak masuk akal atau tidak, tapi itulah yang dia lakukan disaat otaknya tumpul dan benar- benar tak bisa berpikir. Berharap kaisar pergi ke kantor dan tak sadar hpnya terjatuh. Dan darah itu adalah darah orang lain.
“Tidak. Sejak pagi tadi Kaisar tidak masuk kantor.”
Khanza menelan saliva seperti sedang menelan bongkahan batu.
__ADS_1
“Aku sudah mengubunginya, tapi tidak dijawab,” imbuh Jihan.
Tangan Khanza semakin lemas sekali. Tangan itu terhempas ke bawah begitu saja, ia tak peduli dengan suara Jihan yang terus memanggil- manggil hingga akhirnya panggilan telepon pun terputus.
Khanza berlari memasuki rumah, keluar rumah lagi. Kepanikan membuatnya hampir tak bisa berbuat apa- apa. Semuanya membingungkan. Hingga akhirnya ia berhenti di teras.
Tangan Khanza bergetar hebat mencari nama- nama di hp nya, entah siapa yang akan dia hubungi.
Khanza merejeck nomer asing yang video call. Nomer itu dirasa mengganggu. Ia sedang mencari nama yang bisa dihubungi untuk menanyakan siapa saja, kapan terakhir melihat Kaisar. Nomer asing kembali video call, membuat Khanza terpaksa menggeser tombol hijau untuk menjawab. Ia sebenarnya sedang tak ingin melayani siapa pun yang tak jelas, pikiran ya sedang keruh sekali, namun telepon asing itu memaksanya harus menjawab.
"Apa kabar, Khanza?" Wajah Rama muncul di layar hp. Dia tersenyum lebar, detik berikutnya menampilkan ekspresi marah dengan kulit memerah. "Hei, kau menangis? Kehilangan Kaisar? Mayatnya kumasukkan ke karung dan kubuang ke sungai. Pria itu mampus!"
Khanza terkejut, tubuhnya lemas tak bertenaga. "Dimana Kaisar? Dimana dia?"
"Tenggelam. Tenang, kau tidak perlu repot- repot mengurus mayatnya."
__ADS_1
Bleb. Layar hp mati. Rama memutus sambungan telepon.
Bersambung