
Kaisar meneguk jus jeruk miliknya. Tak ada menu minuman yang lebih nikmat di sana. Hanya jus jeruk yang paling hebat diantara yang lain. Pandangannya kemudian menatap ke arah Ganda, sosok yang selalu ada bersama dengan Beno layaknya bayangan. Pria dengan tubuh tinggi dan paras agak tampan itu langsung mengambil posisi duduk di sisi Kaisar.
"Jadi bagaimana dengan kasusmu? Apa kau sudah ada jalan keluar untuk lepas dari nikah paksa itu?" Ganda menatap prihatin.
"Seharusnya aku bertanya pada kalian, bagaimana perkembangan penelitian kalian? Aku minta bantu sejak kemarin kan?" Kaisar melepas napas berat.
"Sori. Kami belum mendapatkan bukti apa pun sampai kini. Aku dan Beno tidak tinggal diam, kami bekerja keras menyelesaikan semua ini, tapi nihil. Kau yang sabar ya! Semoga suatu saat akan terbukti kalau kau tidak benar- benar melakukan hal itu." Ganda menepuk pundak Kaisar prihatin.
Hanya Ganda dan Beno yang bisa memahami situasi Kaisar.
"Sebenarnya, kau tidur dengan Khanza atau tidak sih?" Beno memasang ekspresi serius.
Tatapan mata Kaisar langsung berubah tajam dan ekspresinya tak nyaman. "Apa kau pikir aku ini serendah itu? Melihat kondisi Khanza saja, aku tidak sudi, apa lagi menginginkannya. Berpikirlah positif." Kaisar kesal setiap kali dinilai memiliki iman rendahan.
__ADS_1
Melihat ekspresi Kaisar yang kesal, Beno pun memilih mengunyah kerupuk, memenuhi mulutnya dengan makanan apa saja. Sebab mulutnya akan berhasil diam saat disumbat makanan begini.
"Aku dan Beno tidak pernah percaya kalau kau melakukan perbuatan yang dapat menodai nama baikmu sendiri," pungkas Ganda.
"Aku membawa serta kehormatanku di balik noda yang diciptakan oleh Khanza, aku hanya ingin nama baikku kembali." Kaisar menghela napas lagi. "Aku sedang berusaha menyelesaikan masalah ini. Aku harus bertemu dengan Khanza dan membicarakan hal ini. Jika gadis munafik itu tidak bisa mengakui perbuatan terkutuknya itu, minimal dia bisa diajak berunding."
"Ya, benar. Kau harus ajak Khanza bekerja sama." Bagus menimpali, menyetujui ide Kaisar. "Apa idemu sekarang?"
"Oh. Ide cemerlang. Kau tidak perlu harus benar- benar menikah dengan Khanza jika walinya palsu. Di hadapan semua orang, kalian akan terlihat sebagai sepasang pengantin. Oke, aku dan Beno akan carikan wali palsunya." Bagus mengangguk mantap.
"Aku harus bicarakan ini dengan Khanza supaya dia menyetujui dan tidak menggagalkan rencanaku. Di samping ini, kalian tetap terus cari bukti bahwa aku tidak bersalah."
"Pasti. Semuanya akan dilakukan sambil berjalan." Bagus tampak memberi support.
__ADS_1
Aroma wangi tiba- tiba menguar memenuhi ruangan, disusul suara langkah sepatu high heels yang mengetuk- ngetuk lantai dengan irama tak beraturan. Sejurus pandangan tertuju ke arah Khanza yang memasuki kafe tersebut, gadis berpenampilan berkelas dengan rok di atas lutut serta atasan tanpa lengan itu kebetulan menatap ke arah meja yang diduduki oleh Kaisar.
Rupanya sumber wangi yang wah itu berasal dari Khanza. Lihatlah, gadis tak tahu diri itu muncul di kafe setelah satu jam berlalu dari waktu yang dijanjikan. Sungguh tak memahami etika.
Gadis itu melangkah mendekati meja tempat Kaisar duduk, membuat Bagus dan Beno bertukar pandang.
Seakan memahami situasi, Bagus kemudian berpamitan. "Aku pergi. Good luck!" Ia meninggalkan kursinya.
Beno ikut bangkit dan melangkah pergi, namun balik lagi demi mengambil botol minumannya yang masih separuh, tak lupa menyambar botol minuman milik Bagus yang isinya ternyata masih banyak setelah diintip dari lubang minum.
"Sayang kan, masih banyak!" Beno cengengesan kemudian menghambur pergi.
Bersambung
__ADS_1