Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Ngambek


__ADS_3

“Manusia memang aneh. Dia berlari ke arah dunia yang tidak dapat dia tangkap dan melarikan diri dari kematian yang jelas tidak akan pernah bisa dia hindari. “  Kemudian dengan meneteskan air mata, wanita bercadar yang dipanggil dengan ustadzah itu melanjutkan, “Demi Allah, seandainya jenazah yang kalian tangisi bisa berbicara sekejap lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut dan mulai menangisi diri kalian sendiri.  Kematian tidaklah menunggu kita bertobat, tapi kitalah yang menunggu kematian dengan bertobat.”


Siapa sangka, ustadzah yang memiliki ilmu agama tinggi itu ternyata masih berusia dua puluh tiga tahun.  Tapi sungguh bacaan ayat- ayat di lidahnya sangat fasih.  Ayat- ayat itu ada di luar kepala, dengan mudah wanita muda itu menjawab pertanyan jamaahnya dengan terlebih dahulu membawa dalil dan menjelaskannya.


Khanza sebenarnya juga ingin menanyakan sesuatu, tapi dia enggan.  Takut diketawain.  Namun akhirnya keberanian itu muncul juga saat ustadzah kembali bertanya, “Adakah yang ingin bertanya lagi?”


“Aku ingin bertanya, ustadzah!” ucap Khanza.


“Ya, silakan!”


“Aku sering mendengar, ketika seorang wanita sudah menikah, maka dosa istri akan dipikul suami.  Ini maksudnya bagaimana?  Berarti kasian dong suaminya, yang melakukan dosa istri, tapi suami yang menanggungnya.  Lalu bagaimana pula pertanggungan jawaban si istri jika dosaya sudah ditanggung suami?  Tentu dia tidak mendapat hisab dari dosa- dosa yang sudah dia lakukan?”


“Alhamdulillah, Tabarakallah… Pertanyaan yang bagus.  Maksud dari pernyataan dosa istri yang ditanggung suami adalah ketika suami lalai mengingatkan istri dalam menjalankan perintah Allah.  Tidak mendidik istri dengan benar dalam hal agama dan tidak mengingatkan istri untuk menjauhi larangan Allah.  Segala dosa yang dilakukan si istri tetap menjadi dosa yang dia pikul dan harus dipertanggung jawabkan olehnya.  Sedangkan suami mendapat dosa dari kelalaiannya yang tidak mau berjuang untuk mendidik dan mengingatkan istri, disebabkan suami bertanggung jawab terhadap akhlak istri.  Pada dasarnya seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain dan manusia hanya akan mendapatkan balasan atas apa yang sudah dia lakukan.”

__ADS_1


Jawaban cerdas.  Tadinya Khanza masih ingin pergi ke club dan minum seperti biasa.  Untuk apa dia takut mempertanggung jawabkan perilakunya itu, toh dosanya akan dibebankan kepada suami?  Eh, ternyata pikirannya itu salah.


Lihatlah, Kaisar sengaja mendaftarkannya sebagai anggota jamaah pengajian secara online, kemudian saat jadwal pengajian berlangsung, pria itu mengantarnya ke sana tadi.  


Kaisar melakukan hal itu supaya Khanza mendapatkan banyak pengetahuan tentang hal- hal yang dia tidak ketahui.  Dan ternyata memang sangat banyak ilmu yang tidak diketahui oleh Khanza.  


Jika soal ilmu fisika, ia tak perlu diragukan lagi.  Tapi untuk ilmu yang satu ini, Khanza ternyata dangkal sekali.  Begitu banyak ilmu yang tidak dia ketahui.  Bahkan ini baru secuil saja ilmu yang dia dapatkan.


Khanza sudah mengirim chat sejak tiga puluh menit yang lalu, minta jemput.  Mungkinkah Kaisar sedangs ibuk?  Tapi chatnya pun tidak dibaca.  Pria itu kemana?


Khanza lalu menelepon Kaisar.  Tidak ada jawaban.


Duuuh… Kaisar kemana sih? Janjinya mau menjemput, tapi sampai jam segini belum datang.  Jika dia dalam keadaan sibuk dan ternyata tidak bisa menjemput, seharusnya dia konfirmasi.  Jangan main tinggal tanggung jawab seenaknya begini.  

__ADS_1


Khanza kesal sekali.  Percayalah, menunggu adalah pekerjaan yang paling memuakkan bagi wanita.  Dan ini malah terjadi pada Khanza.  Hampir satu jam ia menunggu, bhakan tidak mendapat respon apa pun dari Kaisar.


Otak Khanza memberi dugaan bahwa Kaisar mungkin sedang rapat, meeting atau apa pun itu yang membuat hp nya ditinggal.  


Meski sudah berusaha untuk bersabar dan tenang, namun nyatanya Khanza tetap saja merasa kesal.  Merasa sedang dikibulin.


Tak mau menunggu terlalu lama, Khanza akhirnya naik taksi.  Ia membanting tas ke jok di sisinya dengan raut kesal.  Ternyata begini rasanya menunggu seseorang yang dicintai dan akhirnya dikecewakan.  


“Kaisar… kamu menyebalkan sekali,” gumam Khanza lirih.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2