Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Teringat


__ADS_3

Kaisar melempar tubuhnya ke kasur. Memejamkan mata, menikmati empuknya pijitan bantal yang serasa mengajaknya untuk mengantuk dan cepat tidur. Namun entah kenapa ia kesulitan untuk bisa tertidur. Mata terpejam namun tidak bisa melayang ke alam mimpi. 


Dalam keadaan mata yang terpejam, tiba- tiba saja Kaisar teringat Khanza. Teringat ketika wanita itu tinggal seatap dengannya, mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri, namun mereka tidak menyadarinya. Hingga Kaisar seperti melihat benda najis ketika melihat Khanza dalam keadaan setengah tak berpakaian alias hanya mengenakan handuk. Seakan- akan ia melihat sesuatu yang haram untuk dipandang.


Kaisar waktu itu terkejut melihat Khanza hanya mengenakan lilitan handuk di badan, dan benda segi tiga yang pernah terjatuh di lantai kamar mandi membuat Kaisar tersenyum tanpa sadar, sebenarnya Kaisar waktu itu sudah halal untuk memandang Khanza dalam keadaan apa pun. Hanya saja Kaisar malah beranggapan seperti melihat barang najis gara- gara mengira pemandangan unik itu adalah haram untuk dilihat.


Kemudian Kaisar pun teringat kejadian ketika Khanza terjatuh di atas badan Kaisar kemarin, mereka sangat dekat sekali waktu itu, bahkan bibir Khanza sempat menyentuh sesuatu yang tepat. Di posisi dekat itu, Kaisar menatap wajah Khanza dekat sekali.


 Lagi- lagi sudut bibir Kaisar tertarik mengenang hal itu. Ada banyak kisah yang sudah terjadi dalam waktu singkat bersama dengan Khanza. Dan saat tersadar bibir dalam keadaan tersenyum lebar, Kaisar segera menepuk pipinya kuat, menyadarkan diri sendiri. 


Wanita itu sudah tidak ada di kantor.  Pasti karena urusan pribadi- lah yang membuat Khanza mengundurkan diri.  


Kaisar meninggalkan kasur, ia kembali melakukan shalat istikharah. Ini adalah shalat ketiga setelah dua kali berturut- turut ia melakukan shalat yang sama dengan tujuan yang sama pula.


Tepat ketika sujud, ia melihat wajah Khanza.  Wajah itu…


Allahu Akbar.

__ADS_1


Kaisar membaca takbir untuk kemudian duduk tahiyat akhir.  


Permintaan Kaisar pada Tuhan adalah ingin meminta petunjuk siapa sosok manusia ciptaan Tuhan yang baik menurut Tuhan untuk dijadikan istrinya.  Segala hajat dan permintaannya disampaikan dengan penuh hasrat pada Tuhan.  


Aneh, hati Kaisar kenapa mengarah pada Khanza?  Dia merasa menyesal sudah marah marah pada Khanza.  Bahkan sampai menalak Khanza.  Ruang hatinya terisi oleh Khanza.  Sebenarnya ia sudah sangat merasa nyaman selama ini, namun kenyamanan itu tertutupi oleh situasi yang sulit dijelaskan.  Kaisar pun tak menyadari kenyamanan itu.  Baru kini dia menyadari ada kenyamanan setelah Khanza pergi meninggalkannya.


Khanza memang bukan wanita yang baik.  Dia bar- bar.  Dia sudah melukai hati Kaisar dengan segala perkataan dan sikapnya, tapi ada jalan yang sudah Tuhan bukakan untuk Kaisar bersama dengan Khanza.  Apakah Kaisar akan menolaknya?


***


“Baik.  Akan saya kirim.”


Dengan mengemudikan mobil, Kaisar menuju ke rumah kontrakan yang ditinggali Khanza.  Di sanalah Khanza tinggal selama bekerja di perusahaan Kaisar.  Dan wanita itu bekerja hanya dalam waktu singkat saja.


“Khanza!”  kaisar mengetuk pintu.  


Beberapa menit menunggu, tak ada sahutan setelah Kaisar memanggil nama Khanza beberapa kali.

__ADS_1


Apakah Khanza sudah pergi?


Ah, kenapa Kaisar jadi berharap ingin bertemu dengan Khanza begini?  Sebenarnya apa yang diharapkan oleh Kaisar?  Kenapa ia jadi merasa lebih berat kepada Khanza?  Kenapa muncul harapan pada wanita itu?  apa yang diharapkan dari sosok Khanza?  Dia tidak seperti Jihan yang dapat menunjukkan kepribadian dan adab yang baik.


Entahlah, Kaisar hanya mengikuti kata hatinya.  Yang ia sendiri pun masih ragu untuk menjelaskannya.


Pintu rumah dalam keadaan terkunci.  Sepi tak ada penghuninya.  Menandakan Khanza memang tidak ada di rumah. 


Kaisar melangkah ke rumah sebelah.  “Bu, orang yang mengontrak di rumah itu dimana ya?” tanya kaisar pada tetangga yang tak lain adalah pemilik kontrakan.


“Lah ini kuncinya sudah diserahkan ke saya.  Dia pergi.  Padahal uang sudah dibayar dimuka.  Saya bilang supaya nggak usah dikasih ke saya kuncinya.  Rumah masih bisa dipakai.  Tapi katanya dia nggak balik lagi ke kontrakan.”


“Oh.. baik, makasih, Bu.  Permisi.”  Kaisar berlalu pergi.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2