
Sebenarnya muncul pertanyaan di benak Kaisar, jika memang wali hakim palsu itu kesasar dan salah tujuan, lalu siapa yang menghadirkan wali hakim asli ke rumah Subrata untuk menikahkan Kaisar dan Khanza?
Namun Kaisar tak begitu mengindahkan pertanyaan itu mengingat saat ini otaknya sedang disibukkan dengan pernikahan yang seharusnya hanya pura- pura, tapi ternyata malah sungguhan. Ini artinya selama ini Khanza adalah istri sahnya?
Kaisar tak bisa berpikir apa- apa lagi kecuali memikirkan keadaan yang tiba- tiba menjadi genting, kehidupannya berubah hanya dalam hitungan detik. Demikian juga perasaannya yang menjadi kacau sepersekian detik.
Tak ada bedanya dengan Khanza, yang langsung menangis. Tubuh wanita itu bergetar seiring dengan isakannya.
“Kalau begini, uang kekurangan apa lagi yang mesti dibayar? Bapak tidak menjalankan tugas apa- apa!” tegas Beno membuat pria kurus itu seperti digertak.
Pria kurus itu memilih masuk ke taksi yang sejak tadi menunggu Kaisar. Kemudian berlalu pergi bersama dengan taksi yang membawanya.
“Ben, ini semua salahmu! Kenapa kamu tidak berhati- hati mengurus ini?” hardik Kaisar menatap Beno kesal.
“Seharusnya kamu pastikan dulu alamat rumahnya sama wali palsu itu, Ben!” tegas Ganda.
“Hei, kenapa kamu menyalahkan aku juga? Bukankah ini juga salahmu?” Beno ingin membela diri.
__ADS_1
“Kalian harus bertanggung jawab atas masalah ini! Semua terjadi karena keteledoran kalian!Kenapa kalian tidak ada di acara pernikahanku? Kalau saja kalian hadir, hal ini pasti tidak akan terjadi!” bentak Kaisar marah.
“Aku dan Beno tidak mungkin hadir di sana karena kami tidak diundang. Pernikahan yang diadakan Pak Subrata hanya diperuntukkan orang- orang berada. Mohon mengerti.” Ganda tampak menyesal, namun ia pun tak bisa berbuat banyak. “Aku sudah mengarahkan pada Beno supaya mengatur hal ini dengan baik, tapi Beno sepertinya kurang tanggap sehingga masalah pun menjadi seperti ini.” Ganda melirik ke arah Khanza. Kemudian pandangannya kembali ke arah Kaisar. Ia tak bisa berkata- kata lagi. Hanya bisa menepuk pundak Kaisar prihatin. Kemudian ia memberi kode pada Beno untuk meninggalkan tempat itu.
Sepeninggalan Beno dan Ganda, tinggal lah Khanza dan Kaisar yang terdiam dengan raut frustasi.
Tangisan Khanza terdengar pilu. Tatapan gadis itu tampak tajam menyorot ke mata Kaisar. Kemudian ia berseru lantang, “Ini semua gara- gara kamu! Hnaya untuk mengurus wali palsu saja kamu tidak bisa. Dan akhirnya kita benar- benar menjadi suami sitri sungguhan sekarang! Ini petaka besar untukku.”
Mendengar kemarahan Khanza yang lantang, bahkan wajah gadis itu dipenuhi dengan emosi tinggi, membuat Kaisar tak kalah emosi.
“Apakah kamu pikir hanya kamu seorang yang merasa dihancurkan oleh pernikahan ini? Aku jauh lebih hancur! Ada wanita yang harus kujaga hatinya. Ada kedua orang tuaku yang bahkan bisa marah besar mendengar pernikahan ini. Kamu perlu tahu bahwa aku juga tidak mengharapkan semua ini bisa terjadi.”
Kaisar tampak semakin emosi mendengar kata- kata kasar Khanza, namun ia menhaan kemarahannya itu supaya tidak terlampiaskan dengan pukulan, cekikan atau apa saja yang dapat menyakiti.
Khanza kemudian berpaling, masuk ke taksi yang baru saja dia hentikan dengan melambaikan tangan.
Kemarahan Khanza benar- benar memuncak. Rasa kesalnya seperti sudah naik ke ubun- ubun. Ia sangat ingin membunuh Kaisar saat ini. Kehidupan yang seharusnya indah dipenuhi dengan kebebasan dan kegembiraan, justru kini berubah menjadi sebuah ikat yang menjerat.
__ADS_1
Setelah statusnya menjadi seorang istri, artinya ia bukan lagi seorang gadis. Ia sudah dimiliki oleh suaminya.
Ya Tuhan, bagaimana mungkin Khanza tiba- tiba menjadi istri Kaisar? Sosok pria yang sama sekali tak pernah ada di daftar kehidupannya. Lalu bagaimana caranya Khanza bisa lepas dari Kaisar?
Jika ia meminta cerai, artinya statusnya juga tidak akan balik menjadi gadis, melainkan janda. Inilah status yang menjadi momok menakutkan bagi Khanza. Tak mungkin ia bersedia menjadi seorang janda. Lalu bagaimana nasib masa depannya sekarang?
Semua ini gara- gara Kaisar. Dialah yang menghancurkan segalanya. Dia penyabab kekacauan yang terjadi. Semenjak mengenal Kaisar, hidup Khanza yang seharusnya bahagia, malah berantakan begini.
Khanza masih ingin bebas, masih ingin menikmati dunia hura- hura bersama dengan teman- temannya. Dia tidak ingin menikah di usia muda. Tapi Kaisar sudah memutus harapannya.
Kalau pun menikah, Khanza juga tentu menginginkan kehidupan berumah tangga bersama dengan laki- laki yang dia cintai, bukan laki- laki seperti Kaisar yang justru selalu membawa petaka baginya.
Sepanjang jalan, Khanza hanya menghabiskan waktu dengan menangis. *******- ***** ujung bajunya hingga sampai menjadi keriting.
Beberapa kali ia berusaha menenangkan diri, namun tidak bisa. Perubahan status dalam hidupnya benar- benar telah mengacaukan pikirannya.
Khanza berhenti di sebuah toko sebentar, kemudian kembali ke taksi untuk melanjutkan perjalanan. Entah mau kemana.
__ADS_1
***
Bersambung