
Malam itu, bakda shalat maghrib, Kaisar duduk di ruang tamu, menghadap meja khusus yang biasa dipakai untuk mengajari anak- anak mengaji. Ia masih memakai pakaian seperti saat shalat, peci hitam dipadu baju koko putih lengan panjang serta sarung.
Kaisar tidak mengaji, hanya duduk diam di sana menatap lantai kosong di hadapannya. Biasanya anak- anak ramai sekali mengisi ruangan itu. Tapi kali ini kosong, tak satu pun yang muncul.
Sesekali Kaisar melongok ke arah pintu. Mengawasi jalan di depan yang sedikit basah oleh siraman rintik gerimis.
Gara- gara kasus yang menimpanya, rumor buruk tentangnya berefek buruk seperti ini. Anak- anak mengaji pun tidak datang lagi. Hati anak- anak masih snagat polos, mereka hanya memahami hal- hal ringan saja, yang tentunya mereka pasti tidak paham dengan kasus yang menimpa Kaisar. Artinya mereka tidak hadir mengaji di rumah Kaisar karena larangan orang tua.
Kaisar menghela napas. Akhirnya rasa bahagia di titik bangga sebagai guru mengaji pun pudar juga.
“Malam Tuan kaisar!”
Suara sapaan membuat Kaisar sontak mendongak, menatap Bik Imar, pembantunya Subrata yang muncul di depan pintu. Wanita paruh baya itu memegangi gagang koper.
“Oh, masuk Bik!” Kaisar sudah langsung tahu bahwa koper yang dibawa Bik Imar pasti adalah pakaian milik Khanza. Wanita itu mengantar segala keperluan milik sang majikan.
Bik Imar kemudian masuk menggeret koper.
“Di kamar yang itu ya, Bik!” tunjuk Kaisar ke arah pintu yang dapat dijangkau melalui tempat duduknya saat ini. Tidak banyak ruangan di rumah itu, begitu mudah untuk menemukan ruangan yang dicari.
Tak lama kemudian Bik Imar berlalu pergi, naik taksi.
Pikiran Kaisar kembali fokus pada anak- anak yang tidak hadir mengaji malam itu. padahal Kaisar sudah mengumumkan melalui ibu pemilik kontrakan bahwa ia sudah mulai mengajar ngaji lagi, tapi tidak satu pun anak yang muncul.
Apakah begini besar efek dari namanya yang menjadi rusak? Semua orang langsung mencatatnya sebagai orang yang tidak pantas memberikan pendidikan untuk anak- anak. Sudah hampir memasuki jadwal isya, mana mungkin anak- anak akan datang di jam segitu. Harapan Kaisar akan kedatangan anak- anak pun pupus.
“Permisi, guru!”
__ADS_1
Kaisar sontak mendongak mendengar suara itu. Ia tersenyum menatap bocah cilik tampan yang berdiri di pintu, mengenakan kopiah putih dipadu celana panjang. Di tangannya membawa sebuah iqro’.
"Boleh mengaji, Guru?" Bocah itu melempar senyum hingga barisan giginya yang berantakan pun terpampang jelas, membuat gemas yang melihatnya.
"Tentu. Ayo masuk!" Saking terbawa rasa gembira, Kaisar sampai berdiri menjemput anak itu. Ia menuntun anak itu masuk dan membimbing duduk berseberangan meja pendek di hadapannya.
"Kok, sendirian? Teman- temannya mana?" tanya Kaisar.
"Mereka bilang nggak mau mengaji."
"Diajakin dong!" Senyum Kaisar mengembang.
"Udah. Tapi mereka menolak. Katanya tidak boleh mengaji di sini lagi sama ibu bapak. Mereka pindah tempat ngaji di tempat kyai Umar."
Ekspresi wajah Kaisar langsung berubah. Ternyata segini beratnya beban moral yang harus ditanggung. Kaisar tidak bisa bersikap tak peduli. Nyatanya nama baiknya benar- benar sudah tercoreng.
"Ayah dan ibumu tidak melarangmu kemari?" Kaisar membuka lembaran iqra milik bocah itu.
"Pak guru orang baik kan?"
Kaisar tersenyum tipis sembari mengusap singkat kepala berbalut kopiah milik bocah itu. "Mm... Ya sudah. Jangan terpengaruh dengan omongan orang ya. Yang terpenting kamu semangat mengaji dan menuntut ilmu dengan rajin, maka kamu akan menjadi anak yang salih. Ilmu itu bisa didapatkan dari siapa pun, tanpa harus melihat siapa yang memberikan ilmu kepadamu."
Bocah itu mengangguk.
Mereka memulai dengan membaca basmallah.
Tepat saat itu, Khanza keluar dari kamar, pintu kamarnya memang langsung terhubung dengan ruang tamu. Ia sudah mengenakan pakaian elegan khas wanita modern.
__ADS_1
Di tengah mengajari bocah cilik itu mengaji, iris mata Kaisar sempat melirik ke arah Khanza yang melangkah gontai melewati ruangan mengenakan sandal high heelsnya itu. Rambutnya yang berwarna cokelat keemasan itu tergerai bebas di pundak.
“Mau kemana?” tegur Kaisar.
“Pergi,” jawab Khanza tak peduli.
“Ini sudah malam.”
“Siapa bilang pagi?”
“Khanza!”
Suara Kaisar yang cukup keras membuat bocah cilik yang mengaji itu berhenti membaca huruf hijaiyah, pandangannya mengikuti arah pandang kaisar, yaitu wajah Khanza.
“Stop ya! Jangan mengaturku! Aku bukan istrimu! Kita tidak ada hubungan apa –apa dan kamu tidak berhak mengatur aku!” kesal Khanza yang merasa dikekang.
Kaisar memutar manik matanya ke arah bocah cilik di hadapannya, isyarat untuk mengatakan kepada Khanza supaya berhati- hati saat berbicara. Anak kecil itu juga bisa mendengar. Akan berbahaya jika dia mengadu kemana- mana.
Khanza tak peduli dengan isyarat yang diberikan oleh Kaisar, ia terus melenggang hingga menghilang dari pandangan kaisar.
Sebenarnya Kaisar juga sadar bahwa ia tidak memiliki hak untuk mengatur kehidupan Khanza. Dia bukan siapa- siapa dalam hidup Khanza. Dia hanyalah orang asing yang terpaksa harus berada satu atap bersama dengan wanita itu. kaisar hanya meras aiba saja pada gadis yang dia kenal itu, tidak baik seorang gadis keluar malam- malam begini.
Mungkin bagi Khanza sudah terbiasa jalan malam bersama dengan teman- temannya, apa lagi hidup di kota begini bukanlah hal tabu. Tapi tetap saja, Kaisar ingin mengingatkan karena ia merasa mengenal Khanza.
“Ayo lanjutkan!” ucap Kaisar ketika melihat bocah di hadapannya malah melongo mengawasi wajahnya.
***
__ADS_1
Bersambung