
"Makasih sudah mau mendengarkan aku." Khanza tersenyum lebar.
"Suamimu pasti tidak akan membiarkanmu begini. Akan ada cara yang dia lakukan untukmu kan?"
"Jangan berpura- pura membahas suami hanya sebagai dalih untukmu ingin tahu apakah aku sudah bersuami atau belum."
Perkataan Khanza nyaris seperti air panas yang menyiram kulit wajah Kaisar hingga wajah putih itu memerah seketika.
"Aku belum bersuami sejak diceraikan lima tahun silam." Khanza bangkit berdiri. “Terima kasih sudah mau mendengarkan aku.”
Wanita itu berlari kecil meninggalkan pinggiran sungai.
Kaisar cepat bangkit, menatap punggung Khanza yang berlari semakin menjauh. “Khanza! Khanza!”
Khanza berhenti, menunggu Kaisar hingga berada tepat di hadapannya.
“Aku masih belum selesai bicara!” ucap Kaisar dengan ragu.
“Apa lagi?”
“Kamu terlihat semakin dewasa.”
“Ya. Semakin tua juga.”
“Tidak. Masih sama seperti dulu secara fisik.”
__ADS_1
“Apa hanya itu yang ingin kamu sampaikan?”
“Ah, tidak. Banyak yang ingin kukatakan.”
“Apakah semalaman ini waktunya cukup untuk bicara?”
Kaisar tersenyum tipis. Dan senyumannya itu benar- benar sangat manis sekali.
“Aku belum menikah semenjak kita berpisah.” Kaisar menyeletuk. Membuat Khanza mengangkat alis heran.
Belum menikah? Bukankah ada banyak wnaita di sekeliling Kaisar yang bisa dijadikan istri? Mereka jauh lebih sempurna dan lebih baik dari Khanza.
“Bagaimana dengan Jihan?” tanya Khanza. Dari pada penasaran, lebih baik jujur saja.
“Aku tidak menikahinya. Seperti yang pernah aku katakan padamu waktu itu, bahwa aku ingin rujuk denganmu. Tapi kamu menolak. Semenjak itu, aku merasa ruang hatiku untuk JIhan sudah tertutup. Dan aku memintanya supaya mencari masa depan lain, bukan aku.”
Kaisar mearik napas beberapa kali.
“Aku menunggumu sejak saat itu. Aku mencarimu. Dan aku menemukanmu di sini setelah sekian purnama.” Tatapan Kaisar dipenuhi dengan harapan. “Kamu tidak bisa dihubungi. Ayahmu tidak pernah memberitahukan keberadaanmu. Dia marah padaku.”
“Seserius itu?”
“Apakah menurutmu penantian selama lima tahun tidak serius?” Kaisar balik tanya.
“Jika saja kamu menemukanku disaat aku sudah bersuami, tentulah penantianmu sia- sia.”
__ADS_1
“Entah kenapa aku meyakini satu hal, bahwa suatu saat kita akan bersama- sama lagi. Apakah keyakinanku benar?”
“Sebenarnya apa yang membuatmu terus mengejar aku?”
“Jika hanya karena sebatas rasa sederhana, mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi. Tapi ini serius. Aku sudah menemukanmu, dan aku tidak ingin melepaskan mu. Aku mencintaimu, Khanza.”
Khanza malah terdiam seribu bahasa. Ia tak dapat berkata- kata. Ini sungguh kejadian di luar dugaan.
“Aku bukan wanita baik. Aku tidak memiliki criteria istri idaman. Dan kamu sudah sangatmengenalku bukan? Bahkan kamu tahu aku ini kemarin mencuri. Kamu yakin ingin kembali memperistri wanita seburuk aku?”
“Kamu sendiri yang bilang bahwa beberapa jam yang lalu kamu sudah berhenti menjadi pencuri. Cukup menjadi dirimu sendiri tanpa harus menjadi orang lain. Kamu hanya perlu mencintai Tuhan. Maka semuanya akan mengalir apa adanya atas tuntunan- Nya.” Kaisar bersungguh- sungguh.
Mendadak saja hati Khanza menjadi basah. Matanya berkaca- kaca. Ternyata Kaisar tulus menyayanginya. Bahkan Khanza melihat harapan besar di mata pria itu.
“Apakah kamu menganggap ini lelucon? Lima tahun aku hidup sendiri, tanpa wanita. Lima tahun aku menunggumu. Apakah ini terlihat tidak serius?” bisik Kaisar dengan suara serak. “Khanza, menikahlah dengaku! Kita mulai semuanya dari awal. Kita menikah dengan pernikahan yang sesungguhnya. Buatlah papaku bahagia dengan melihatku membawa istri ke hadapannya.”
Kepala Khanza akhirnya mengangguk.
Hati Kaisar langsung plong, lega sekali. Ia mengusap wajah dengan mata berembun, terharu.
“Deal, kita menikah?” Kaisar tersenyum.
Lagi- kepala Khanza mengangguk.
***
__ADS_1
Bersambung