Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Untuk Papa


__ADS_3

Suara dentingan pisau dan garpu terdengar nyaring saat Kaisar sedang sarapan. Pria itu mengenakan stelan jas warna maroon. Tampan sekali, apa lagi dasinya warna senada, wajahnya maskulin.


"Bi, papa sudah pulang ya?" tanya Kaisar pada asisten rumah tangga yang sedang membereskan ruangan.


"Sudah, Tuan."


"Kapan pulang?"


"Saya bukain pintu jam dua dini hari."


"Sekarang papa dimana?"


"Belum keluar sejak pagi, Tuan."


"Belum keluar kamar?" 


"Iya."


Kaisar menyelesaikan makan, kemudian beranjak menuju ke lantai atas. Ia menuju ke kamar Calvin, mengetuk pintu kamar papanya.


"Pa! Apakah papa sudah bangun?" Kaisar berseri agak keras.

__ADS_1


Sunyi. Tak ada sahutan dari dalam.


Kaisar kembali mengetuk pintu sambil memanggil- manggil papanya.


Kamar sepi, Calvin sama sekali tak menyahut. 


Apa yang terjadi dengan Calvin? Apakah dia baik- baik saja? Kenapa tidak menyahuti meski sudah dipanggil dengan suara sekeras itu? Apakah sepulas itu Calvin tertidur?


Cemas, Kaisar membuka pintu. 


"Papa!" Kaisar terkejut melihat papanya sudah terjatuh di lantai dengan posisi menelentang, mata terpejam. Selimut menjuntai ke kasur. Sepertinya Calvin berusaha mencari bantuan dengan terseok menuruni kasur namun tak berhasil.


***


Ketika mata Calvin terbuka, Kaisar cepat mendekat.


"Papa! Maaf sudah terlambat menolongmu. Aku tidak tahu kapan papa pulang." Kaisar tampak sangat terpukul. Seharusnya ia lebih peka pada kondisi kesehatan papanya, namun ia malah sama sekali tak tahu menahu dengan apa yang terjadi pada orang tuanya.


"Aku benci melihat ekspresimu itu, Kaisar." Suara Calvin tidak begitu kuat, terdengar sedikit lebih lemah. "Jangan perlihatkan raut mengasihani."


Kaisar tertegun.

__ADS_1


"Kau putraku. Kau kuat. Kau hebat!" Calvin meraih punggung tangan Kaisar yang bertengger di sisi bed. "Aku tidak menemukan apa pun ketika pergi meninggalkan rumah kecuali hanya untuk kesenangan semata. Tapi saat aku pulang ke rumah dan mendapati diri dalam keadaan tidak berdaya oleh rasa sakit yang tiba- tiba menyerang, seketika itu aku takut tidak bisa menyaksikanmu membawa istri ke rumah ini, juga tidak bisa menyaksikanmu menggendong bayi. Detik itu juga aku meminta supaya Tuhan memberiku ijin agar aku melihatmu datang kepadaku membawa wanitamu."


Calvin menarik napas berat.


"Aku tidak peduli siapa oun wanita itu, kau harus bawa dia ke hadapanku. Katakan bahwa dia akan menjadi ibu dari anak- anakmu yang lucu- lucu," lanjut Calvin dengan mata berembun. 


Tak kalah sedih, Kaisar pun merasakan matanya berkaca- kaca oleh air bening. Tak pernah ia merasakan haru seperti ini. Tak pernah sebelumnya ia mendengar ayahnya berkata seindah ini. 


"Jihan?"


Kaisar terkejut ayahnya menyebut nama Jihan. Ia merasa ragu dengan nama itu.


"Lalu bagaimana kau bisa menikahi wanita lain disaat kau mengaku bahwa Jihan adalah wanita yang akan kau bawa ke rumah untuk dijadikan istri?" tanya Calvin lagi.


"Siapa pun wanita itu, papa akan mengakuinya sebagai menantu kan?"


Calvin mengangguk.


Inilah momen yang sejak dulu ditunggu- tunggu oleh Kaisar, yaitu mendapat restu tentang siapa pun wanita yang akan menjadi istrinya. 


Calvin hanya perlu mendoakan, sadar sudah terlalu mengatur kehidupan Kaisar.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2