
Kaisar tak kalah bingung dengan kejadian yang menimpanya. Dengan status yang kini telah mengubah arah hidupnya, Kaisar pun sadar sepenuhnya bahwa ia tak bisa lepas dari Khanza begitu saja.
Kaisar memahami hukum dan ajaran yang dia anut mengenai pernikahan, yang notabene bukanlah permainan atau barang yang bisa diganti dengan mudahnya saat merasa tak cocok. Ada perjanjian dan sumpah antara dirinya dengan Tuhan yang secara tidak sadar sudah dia ucapkan.
Lalu bagaimana jika ia menceraikan Khanza saja? Apakah itu akan menyelesaikan masalah?
Ya, mungkin masalah akan selesai di depan matanya, namun Tuhan tidak tidur. Tuhan bisa murka saat manusia dengan sengaja melakukan kesalahan yang sudah dia ketahui hukumnya adalah dosa, contohnya seperti niatnya yang ingin meninggalkan Khanza setelah menikahi gadis itu beberapa hari tanpa peduli dengan nasib Khanza yang tentunya akan menjanda, pun tak peduli dengan akhlak Khanza yang pada saat terjadi akad, maka saat itulah jatuh tanggung jawab Kaisar terhadap gadis itu. tapi Kaisar malah akan meninggalkannya begitu saja.
Lalu bagaimana dengan Jihan? Kaisar sudah berjanji akan kembali untuk Jihan, bahkan angan- angannya untuk hidup bersama dengan wanita yang dia cintai itu sudah menari- nari di kepalanya.
Kedua orang taunya pun ditentang saat ia dipaksa menikah dengan wanita lain, dan sekarang justru ia menikah dengan wanita yang tak tahu adab seperti Khanza. Dia gadis yang buruk, yang tak memahami bagaimana menata rumah tangga sesuai ajaran agama.
Kaisar meneguk air mineral dari gelas yang sejak tadi dia pegangi.
Brak!
Kaisar sontak menoleh ke arah meja di belakangnya, dimana sumber suara keras itu mengejutkannya. Tampak Khanza tengah melempar dua buah kartu. Gadis itu menatap dengan sorot tajam.
“Lihat! Lihat itu! Akibat ulahmu, statusmu kini resmi sudah menikah dengnku!” Jari lentik Khanza menunjuk kartu yang baru saja dia lempar ke meja. “Lalu bagaimana masa depanku nanti? Bagaimana kehidupanku? Aku belum ingin menjadi istri orang. Aku belum mau berumah tangga!”
Mata Khanza berkaca- kaca. Suaranya yang sangat keras bahkan mungkin mampu terdengar oleh para tetangga. Tapi mereka tidak peduli, beranggapan bahwa pengantin baru yang masih labil sedang berantem.
Kaisar mengerti letak kemarahan Khanza, sebab Kaisar juga merasakan hal yang sama. Sama- sama tak ingin menikah menjalani rumah tangga bersama dengan orang yang tidak dia cintai.
__ADS_1
Mendengar suara Khanza yang melengking keras, Kaisar waspada takut para tetangga malah berdatangan. Dia kemudian mendekati Khanza, gadis yang merasa kehidupannya dihancurkan oleh pernikahan yang tak diinginkan.
“Bagaimana ini? Aku tidak mau menjadi istrimu, tapi aku juga tidak mau menjadi janda kalau kamu menceraikan aku. Katakan apa yang bisa aku lakukan supaya statusku kembali seperti semula.” Khanza histeris, air matanya mulai berguguran. Tubuhnya tiba- tiba terhuyung maju dan wajahnya membenam di dada bidang Kaisar ketika pria itu menarik pundak Khanza dan memeluknya dengan satu lengan kokohnya.
“Sudah! Jangan berteriak. Aku tahu perasaanmu. Aku juga merasakan hal yang sama.” Kaisar tidak tahu apa yang sedang dia lakukan, dia hanya sedang berusaha membuat Khanza menjadi tenang.
“Aku belum mau menikah! Aku belum mau menjadi istri orang! Aku masih mau bebas!” Khanza mengulang- ulang kata- katanya. Suaranya diredam akibat mulutnya yang tertutup dada bidang Kaisar. Kedua kepalan tangannya memukul- mukul punggung Kaisar.
“Aku pun… Aku mencintai Jihan, aku berjanji akan menikahinya. Dan sekarang keadaan malah begini. Aku benar- benar kacau sekarang. Kita akan urus masalah ini bersama- sama. Kita akan pikirkan ini untuk mencari solusinya!” bujuk Kaisar dengan suara terbata. Ia berusaha untuk berdamai, memberi tahu Khanza bahwa bukan hanya Khanza saja yang menjadi kacau gara- gara pernikahan itu, tapi Kaisar jauh lebih kacau. Isi pikirannya terus tertuju ke satu nama, Jihan.
Entah apa kabar wanita itu jika sampai mengetahui hal ini. Bukan hanya hatinya saja yang patah, namun juga harapan dan angan- angannya akan terkubur dalam- dalam.
Beberapa menit Khanza melepaskan tangis sesenggukan di dada bidang Kaisar, akhirnya Kaisar membimbing Khanza memasuki kamar, merebahkan wanita itu di kasur. Berharap Khanza akan menjadi tenang dan bisa berpikir lebih baik.
Wajah cantik dengan mata bulat dan dagu seksi itu mengambil gelas dan meneguknya dengan lahap. Ia benar- benar tampak kacau dengan wajah sembab dan menyedihkan.
Kaisar beranjak pergi, meninggalkan kamar Khanza yang dia biarkan dalam keadaan pintu terbuka. Ia duduk di ruang tamu. Berpikir keras tentang bagaimana bisa keluar dari masalah ini. Dia tundukkan kepala dengan kedua tangan emmegangi kening. Posisi itu memang merupakan posisi yang tepat untuk menimang.
Segera Kaisar mengangkat kepala ketika melihat sepasang kaki mungil tanpa sandal berdiri di hadapannya. Jemari kaki begitu lentik. Kaisar sudah tahu siapa pemilik kaki itu. tentu saja Khanza. Kaisar di sana hanya tinggal berdua saja bersama dengan Khanza.
Aroma kopi terhirup begitu kuat di hidung Kaisar. Pria itu mengangkat kepala dan mendapati Khanza yang tengah memegangi gelas kecil berisi kopi.
Ada angin apa Khanza bersikap demikian? Beberapa detik Kaisar menatap Khanza yang berdiri di hadapannya. Kaisar tak mengerti dengan sikap Khanza, apakah kopi itu dimaksudkan untuk Kaisar atau bagaimana?
__ADS_1
“Minumlah!” ucap Khanza meletakkan kopi itu ke meja.
“Untukku?”
Sebelum menjawab, manik mata Khanza menatap wajah Kaisar. “Aku melihatmu begitu bingung. Minum saja!” Khanza kemudian melenggang pergi.
Kaisartertegun menatap kopi yang disuguhkan, aromanya sedap sekali. Kenapa Khanza mendadak bersikap demikian? Apakah karena wanita itu ingin berterima kasih sudah ditenangkan oleh kaisar tadi? Ataukah ini bentuk balas budi Khanza setelah Kaisar bersikap manis terhadap wanita itu tadi?
Alih- alih memikirkan alasan apa yang membuat Khanza mendadak berubah, KAisar kemudian meraih gagang cangkir dan meneguknya.
Khanza mengawasi dari arah kamar. Pintu kamar yang posisinya terbuka membuatnya dengan mudah menjangkau gerak- gerik Kaisar.
Tiba- tiba Kaisar merasakan hal aneh di tenggorokannya. Rasanya panas, seperti terbakar. Sakit sekali. Dalam hitungan sepersekian detik, Kaisar tiba- tiba merasa mual- mual, pusing berat dan seisi mulut hingga tenggorokan yang seperti terbakar.
“Aaarrrrggkh…” Kaisar mengerang, tubuhnya ambruk ke lantai setelah bangkit berdiri untuk meraih handle pintu. Ia terseok lalu berushaa bangkit berdiri hingga sampai ke pintu.
Blak! Pintu tersentak dan terbuka tepat ketika separuh tubuh Kaisar ambruk ke luar.
Saat itu, dalam hitungan sepersekian detik, otak Kaisar sempat berpikir bahwa ia berada dalam bahaya. Dan bahaya itu sangat dekat dengannya, yaitu Khanza.
***
Bersambung
__ADS_1