
“Wanita itu adalah pelengkap hidup. Kapan kita menginginkannya, maka kita datangi dia. Selebihnya, kita jalani dengan kebebasan lainnya. Berbaur dengan teman bisnis, berpikir mengenai pekerjaan, bersenang- senang dengan kehidupan. Jangan dibawa beban, yang penting enjoy. Siapa pun yang mendampingi hidup kita, dia adalah pelengkap saja. Tidak perlu terlalu berharap pada satu wanita yang dianggap paling spesial. Hal yang begitu hanyalah hal- hal memalukan.” Calvin melanjutkan dengan menggebu- gebu.
“Inilah yang disebut dengan isi pemikiran manusia itu berbeda- beda. Kehidupan versi papa adalah menjalaninya dengan mudah, sedangkan versi aku justru berbanding terbalik. Kita tidak sepemikiran.”
“Jangan menyusahkan diri dengan membebani diri pada hal- hal yang dapat membuatmu menjadi sulit. Jangan terlalu memberatkan isi pikiran. Permudahlah segala urusan. Kau bahkan tahu bahwa agama itu semua jalannya mudah, tidak ada yang dipersulit. Lalu kenapa kau malah menjalani hidup dengan sulit pula? Jalan itu sudah dibukakan lebar- lebar oleh Tuhan, hanya manusianya saja yang mempersulit, menganggap pilihan adalah keharusan.”
“Intinya, aku keberatan untuk menikah dengan Nana.”
__ADS_1
Tatapan mata Calvin tampak berubah. “Inilah yang papa tidak suka darimu, selalu mempersulit diri sendiri. Jangan beranggapan bahwa menikah dengan wanita yang kau sukai itu adalah keharusan. Dan saat kau tidak bisa menikahi gadis pujaanmu, maka kau akan merasa merana. Itu kebodohan, Kaisar! Hidup ini tidak sesempit itu. Siapa pun pendamping hidup kita, tidak perlu memilih- milih, jalani saja. Berbahagialah dengan kebahagiaan yang ada. Kebahagiaan itu tidak harus datang dari pasangan.”
“Rumah tangga menurut pengertian papa itu berbeda dengan pengertianku. Sudah aku bilang, dalam segala urusan lain selain rumah tangga, aku bisa mengikuti keputusan papa meski itu tidak sesuai dengan kemauanku. Tapi untuk urusan rumah tangga, aku tidak bisa disetel. Rumah tangga adalah perjalanan hidupku menuju ke surge, atau malah ke neraka. Ini menyangkut akhiratku.”
“Jadi… ini maksudmu… untuk ke sekian kalinya kau menolak kemauanku?” tegas Calvin dengan tatapan mendominasi. “Ingat, kau sudah mengambil uang tiga ratus juta, dan sebagai tebusannya maka kau harus memenuhi tiga permintaanku, termasuk menikahi Nana.”
“Jika rumah tanggaku hancur, atau kemungkinan Nana berselingkuh, Nana adalah wanita pembangkang, atau bahkan hal- hal buruk lainnya terjadi di rumah tanggaku, apakah papa bersedia bertanggung jawab untuk itu? Sebab aku sama sekali tidak mengenali kriterianya.” tegas Kaisar.
__ADS_1
Semudah itu Calvin membicarakan urusan rumah tangga. Betapa enteng. Kaisar mempertanggung jawabkan satu istri seperti Khanza saja kesulitan, lalu bagaimana menghadapi wanita lain yang ia pun tidak tahu seperti apa sifatnya.
Saat ini Kaisar sedang berpikir keras, bagaimana caranya supaya ia bisa terlepas dari Khanza tanpa harus menelantarkan wanita itu. Ia juga berpikir bagaimana bisa lepas dari Nana.
“Sebelum pernikahan itu, aku mau kau bertunangan terlebih dahulu dengan Nana supaya kalian ada ikatan. No bantah!” Calvin beranjak pergi.
Kaisar menghela napas. Baiklah, sambil berjalan, maka ia harus mulai menyelesaikan masalah satu demi satu. Tentang Khanza, juga Nana.
__ADS_1
***
Bersambung