
Di pinggir sungai Musi, mirip seperti sepasang kekasih yang sedang berpacaran, Kaisar dan Khanza duduk bersisian, tanpa alas, mereka duduk di atas tanah.
"Kenapa kamu mencuri?" tanya Kaisar dengan tatapan lurus ke depan. Angin kencang meniup bajunya. Sedangkan rambutnya tidak terpengaruh oleh tiupan angin kencang mengingat minyak rambut yang cukup tebal melapisinya.
"Karena aku butuh." Khanza melempar jam tangan yang baru saja dia ambil dari dalam kaus kakinya ke pangkuan Kaisar.
"Aku tidak bertanya alasan kenapa kamu mencuri, tapi aku bertanya alasan kenapa kamu menjadi pencuri?"
"Apa aib boleh dibongkar?"
Kaisar menoleh.
"Kalau aku menjawab pertanyaanmu, sama saja kamu menyuruhku untuk membongkar aib," jawab Khanza, kemudian tersenyum saat mendapati mata elang Kaisar.
"Tidak ada alasan apa pun yang membolehkan adanya pencurian. Itu hal buruk. Semiskin- miskinnya manusia, tetap dianjurkan untuk bekerja dengan halal," ucap Kaisar.
"Ya, aku memang berada di jalan yang salah."
__ADS_1
Tatapan Kaisar tampak berbeda mendengar pengakuan Khanza. Disebabkan kecewa mendengar Khanza dengan entengnya mengakui bahwa ia tahu dengan kesalahannya itu.
"Dan kamu menjalani semua ini dengan kesadaran?" imbuh Kaisar.
"Hampir semua perbuatan dilakukan dengan kesadaran."
"Apa penyebabnya? Merasa terdesak? Kepepet? Karena ekonomi? Atau apa?"
"Kamu kelihatan seperti seorang pengacara dengan kalimatmu itu. Aku adalah orang lain bagimu, setidaknya kamu tidak perlu sejauh ini merasa penasaran terhadapku."
"Maaf, kepepet."
"Selain mencuri, kamu juga pembohong."
Khanza menarik napas panjang. "Memang aku tidak ada bagus- bagusnya, dari dulu."
Kaisar mengusap wajah.
__ADS_1
"Ayahku bangkrut." Suara Khanza lirih. "Setahu ayah, aku bekerja di sebuah perusahaan besar dengan gaji besar. Dan kenyataannya memang begitu, tapi itu hanya awalnya saja. Aku diandalkan untuk membayar hutang- hutang ayah. Siapa sangka usahaku yang baru kubangun di sini juga tidak semulus yang aku bayangkan. Semuanya hancur. Aku kehilangan segalanya. Inilah titik terendah bagiku. Disaat ayahku beranggapan aku mampu menjadi tulang punggung, tapi sebenarnya tidak. Aku tetap harus melunasi hutang- hutang ayah setiap bulannya, tidak kecil."
Kaisar masih diam. Menjadi pendengar yang baik.
Khanza kemudian bercerita bagaimana lima tahun ia berada di Palembang. Awalnya ia menjadi accounting di sebuah perusahaan besar, tapi entah bagaimana awalnya hingga perusahaan itu bangkrut dan termasuk Khanza pun menerima efek dari phk masal. Khanza sudah terlanjur membangun sebuah restoran dengan modal meminjam bank. Namun pada akhirnya bangunan macet karena dana yang juga macet, uang phk pun tak cukup untuk menyelesaikan bangunan yang mangkrak. Hanya bisa untuk menutup hutang bank, itu pun masih kurang. Pada akhirnya bangunan yang belum jadi dan dalam tahap proses nanggung itu dijual. Setelah ptoses panjang yang memakan banyak waktu, bangunan mangkrak terjual, tapi menyisakan kejadian tragis yang sulit Khanza lupakan. Pembelinya menipu, membawa kabur uang sesaat setelah transaksi. Surat sudah dikantongi, uang pun dibawa kabur.
Semenjak itu, Khanza yang selama ini menjadi tulang punggung Subrata, disebabkan usaha yang dijalankan Subrata mengalami kerugian besar- besaran, terpaksa harus menghalalkan segala cara demi bisa mengirimi uang kepada ayahnya untuk menutup hutang. Hal itu dilakukan juga supaya ayahnya tidak masuk penjara atas tuntutan kliennya.
Lihatlah, sekarang apa yang dilakukan Khanza. Mencopet, mencuri, dan merampok bersama dengan kawanan komplotan yang sering disebut bandit. Mereka adalah orang- orang super nekat dan kebiasaan membawa benda tajam, atau bahkan senjata api. Hal biasa terjadi di kota itu, selalu saja kejahatan yang menjadi topik utama di kota ini.
Khanza mengenal beberapa wanita kawanan penjahat yang kesehariannya mencopet dan mencuri apa saja yang bisa dijadikan uang, hasilnya lumayan, benar- benar bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mereka adalah orang - orang sadis, Khanza mengenal mereka dan diajak bekerja bersama- sama. Awalnya aneh, namun lama- lama keterusan.
"Aku tidak siap jika ayahku dipenjara, aku tidak siap kehilangan dia. Aku tetap harus terlihat mampu di matanya di saat aku tidak mampu. Anggapan itu tidak boleh sampai berubah," imbuh Khanza.
Sunyi.
Bersambung
__ADS_1