Kehormatan Di Balik Noda

Kehormatan Di Balik Noda
Menyesal


__ADS_3

Kaisar melepas infus yang menusuk punggung tangannya dengan sekali tarik, tarikan kasar yang meninggalkan bekas luka.  


Rasa marah di benak membuatnya ingin segera keluar dari rumah sakit yang sekarang dia tempati untuk menemui Khanza.  Gadis itu sudah meracuninya.  Itulah isi pikiran Kaisar sekarang.


Khanza sedang sangat marah terhadap Kaisar karena menganggap masalah hidupnya muncul gara- gara ulah kaisar, tapi bukan dengan cara begini maka Khanza beranggapan bahwa dia akan mampu menyelesaikan semuanya.  


Pantas saja Khanza tiba- tiba berubah baik dnegan memberikan kopi, ternyata gadis itu sudah menabur racun di dalamnya.  Apakah semuak dan sebenci ini Khanza terhadap Kaisar sampai- sampai berani nekat?


Untungnya ada empat orang warga yang mendengar Kaisar dan Khanza berantem, suara keras Khanza membuat warga mendengar dengan jelas bahwa telah terjadi pertengkaran hebat antara Kaisar dan Khanza.  


Warga kemudian bergegas menghampiri Kaisar yang ambruk di pintu dengan ekspresi kesakitan.  Pertolongan pertama dari warga pun begitu cepat.  Jika terlambat beberapa menit saja, maka dipastikan Kaisar sudah menjadi almarhum.


Kaisar bergegas keluar. Ia terkesiap menatap Khanza yang ternyata ada di kursi tunggu.  Wanita itu bangkt berdiri begitu melihat Kaisar keluar. 


Dua orang pria yang menyelamatkan Kaisar pun 


Dengan tatapan dipenuhi kilat kemarahan, Kaisar mendekati Khanza.  “Kamu ingin aku mati, hm?  Apakah dengan melenyapkan aku maka masalahmu selesai?  Gadis to…”  


Kaisar menghentikan kata- katanya.  Dia sungguh sangat ingin menyebut kata ‘tolol’, tapi rasanya itu malah hanya akan mengotori lidahnya saja.  


"Semua yang kamu lakukan ini sungguh bod*h!" heran Kaisar tak kuasa menahan kekesalan yang memuncak sampai ke ubun- ubun. 


Khanza tidak berkata apa pun. Gadis itu menatap kemarahan Kaisar dalam diam. 


Kaisar pun tak mengerti apa maksud tatapan mata Khanza. 


"Ini percobaan pembunuhan, Mas. Anda hampir mati kalau saja tidak cepat mendapat pertolongan dari kami," celetuk salah seorang pria berkaos hitam yang turut serta mengantar Kaisar ke rumah sakit.


"Mas Kaisar lapor polisi saja. Atau biar kami saja yang membuat laporan,” imbuh pria lain.

__ADS_1


“Tidak.  Biar aku yang selesaikan masalahku!  Tidak perlu disangkutkan dengan pihak yang berwajib!” cetus Kaisar.  “Terima kasih bapak bapak sudah membantu saya.  Silakan bapak- bapak untuk pulang.”


“Baik, Mas.  Kami permisi!”  


Dua lelaki itu berlalu pergi.  


Di lorong rumah sakt yang kini sepi, tinggal lah Kaisar dan Khanza yang bersitatap.  Kaisar melihat tatapan mata Khanza berbeda dari biasanya.  Jika biasanya wanita itu terlihat sangat membenci, bahkan kilat matanya juga dipenuhi dengan amarah, namun kali ini tidak.  Entahlah apa yang ada di pikirannya.  Dia terlihat berbeda dari biasanya.  


“Hanya karena kamu ingin terbebas dariku, lantas kamu ingin melenyapkan aku?  Pendek sekali akalmu, huh?”  Kaisar tak tahu harus bagaimana menyampaikan kemarahannya, rasanya tidak puas hanya dengan meluapkan kata- kata seperti yang dia dampaikan.


“Benar- benar gadis tidak tahu diri!”  Kaisar balik badan, melenggang pergi dengan ekspresi marah yang tak tertahankan.


Khanza menyandarkan punggung ke dinding.  ia memukuli pelipis dengan kepalan kecil tangannya.  


Huh, betapa bodohnya aku yang malah berbuat nekat!  Aku sudah meracuni Kaisar, sama halnya ingin membunuh pria itu!  Entah dari mana datangnya pikiran untuk dapat melenyapkan Kaisar.  Tapi saat melihat Kaisar dalam keadaan tergeletak dan merintih kesakitan, aku sadar bahwa aku dipastikan menjadi seorang pembunuh.


Khanza berbicara dalam hati, mengutuki dirinya sendiri yang tanpa sadar telah diperdaya oleh akal yang tak sehat, ia bahkan melangkah sejauh itu.  Khanza menyesal.  Untung saja ada warga yang bergerak cepat menolong sehingga tidak ada kematian.


Sebelumnya, Khanza benar- benar frustasi sekaligus marah.  Marah sekali karena kehidupannya sudah direnggut paksa oleh Kaisar.  Segala rasa campur aduk. Khanza hanya ingin Kaisar menghilang selamanya dari kehidupannya.  Dia ingin lelaki yang dia anggap tak berguna itu selamanya menyingkir dari depan matanya.  Kemarahannya saat itu sungguh nyata dan menyita pikirannya, hingga ia nekat melakukan perbuatan yang ia sendiri pun tak mengira bisa senekat itu.  


Sekarang, Khanza menyesal.  Sangat menyesal.  Kemarahan yang membabi buta mengantarkannya pada tindakan nekat yang membahayakan.  Penyesalan pun datang belakangan.  


Khanza tidak melawan saat Kaisar marah padanya.  Wajar saja Kaisar marah, Khanza memang salah.  Khanza sudah membahayakan nyawa Kaisar.  Kalau pria itu mati beneran, tentu dia tidak akan merasakan yang namanya keindahan berumah tangga.


***


Aroma asap rokok berbaur dengan minuman keras beradu menjadi satu, menjelajah ke pernapasan.  Hingar bingar dentuman musik memecah suasana, ramai sekali.  Lampu night club kedap kedip menyakitkan mata, namun tidak bagi yang terbiasa.


Khanza duduk diantara teman- temannya yang asik meneguk minum.  Menikmati suasana dengan tawa lepas.  Khanza sedang ingin bersenang- senang malam ini.  Sedang ingin melupakan masalah yang menyebalkan.  

__ADS_1


Biarkan untuk sesaat ia merasa gembira di situasi ini.  Hal ini adalah kebiasaan yang bebrapa kali dia lakukan, setidaknya beban di otak benar- benar hilang saat sudah begini.


Khanza menaikkan tali baju di pundaknya yang melorot dan mengembalikannya ke pundak.  Menurunkan rok yang sedikit tersingkap saat ia di posisi duduk dengan kaki bersila.  Ukuran rok yang lima centi di atas paha membuatnya harus berhati- hati saat duduk begini.


Penyesalannya yang hampir membuat nyawa Kaisar melayang menambah beban di pikirannya.  Dia pikir akan lebih baik jika berada di tempat itu, segala beban akan lepas dengan sendirinya.


Tiba- tiba Khanza dikejutkan oleh kedatangan Azam, pria yang selama ini menyukainya.  Pria itu dikenal sebagai pria baik- baik, dan area yang sering dia kunjungi juga area yang baik- baik pula.  Lalu kenapa malam ini bisa masuk ke wilayah seperti ini?


“Azam?”  Khanza mengernyit menatap Azam yang mendekatinya, membungkukkan tubuh dan menatap intens. 


“Aku telepon Zada tadi, katanya kamu ada di sini.  Makanya aku ke sini.  Bisakah kita keluar sebentar?  Aku mau bicara!” ucap Azam yang juga didengar oleh Zada dan Zelin yang duduk di sisi kiri dan kanan Khanza. 


Sebelum sempat Khanza menjawab, duluan Zelin menyahuti, “Azam, Khanza ini sudah menjadi istri Kaisar, kupikir tidak bagus kalau kamu mendekatinya.”


Azam menaikkan alis.  “Aku tidak bermaksud untuk mengganggu hubungan Khanza dan Kaisar.  Aku hanya ingin bicara sebentar.”


“Rasanya tidak ada yang perlu kita bicarakan bukan?” Khanza kemudian menggeleng.  “Aku tidak mood untuk meninggalkan tempat ini.”  Khanza menolak dengan baik.  


Muncul ekspresi kecewa di wajah Azam.  Dia kemudian mengangguk, dan pergi.  Langkahnya tampak lemas.  Dia sudah mengumpulkan nyali untuk dapat menemui Khanza dan mengucapkan apa yang dia katakan tadi, tapi inilah yang dia terima.


“Ternyata Azam masih saja mengincarmu ya? Padahal dia tahu kalau kamu itu sudah menikah dengan Kaisar,” celetuk Zada.  “Apa kamu tidak punya perasaan ke dia?”


Khanza hanya menyedikkan pundak.


“Kamu yakin tidak mau membalas cintanya Azam dan memilih untuk meninggalkan Kaisar?  Kalau dipikir- pikir Azam kan lumayan tajir.  Hartanya juga banyak, dia sudah punya satu restoran yang maju.  Untuk apa bertahan dengan orang yang kamu tidak cintai?” imbuh Zada lagi.  “Hidup ini pilihan.  Kamu yang menentukan pilihan itu, mau bahagia atau menderita.”


“Hei, jangan berusaha mengacaukan kehidupan Khanza dengan mempengaruhinya pada hal yang buruk- buruk!” Zelin memperingati Zada.  “Biarkan saja Khanza memilih jalan hidupnya.”


“Aku sedang tidak ingin membahas masalah.  Aku ingin happy.  So, tolong jangan membicarakan masalah hidupku!” Khanza meneguk minum beralkohol.  Rasanya sedikit menggigit tenggorokan, membuatnya mengerjapkan mata beberapa kali.  

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2